Selir Tuan Raja

Selir Tuan Raja
Farra Jatuh Pingsan


__ADS_3

"Om tidak boleh masuk!" kesal Aksa seraya mendorong perut buncit itu agar tidak masuk ke dalam rumah lebih jauh lagi.


"Dasar bocah tengil!" Pak Anton mendorong tubuh Aksa dengan kasar hingga bocah tampan itu terjengkang ke lantai kemudian menangis karena ia merasa kesakitan.


Tangisan Aksa sontak membuat Farra yang sedang menikmati ritual mandinya, terkaget-kaget. Tanpa berpikir panjang, Farra yang saat itu sedang melumuri seluruh tubuhnya dengan busa sabun, segera membilasnya dengan secepat kilat.


Gadis itu meraih handuk kemudian melilitkan handuk tersebut ke tubuh polosnya. Farra segera berlari keluar dan menuju ruang depan, di mana suara tangisan Aksa terdengar dengan sangat jelas.


Namun, tiba-tiba saja langkah kaki Farra terhenti saat ia tahu siapa yang sudah membuat Adiknya memangis. Farra memegang handuk yang melilit di tubuhnya dengan erat seraya mencoba menutupi bagian tubuh yang masih bisa terlihat oleh lelaki tua yang kini berdiri tepat di hadapannya.


"Mau apa Anda ke sini, Tuan?!" ucap Farra seraya memundurkan langkahnya karena Pak Anton mulai melangkah mendekatinya sambil menyeringai.


"Farra, kamu cantik sekali!" gumam lelaki itu sambil memperhatikan penampilan polos Farra yang terlihat begitu menggoda iman lelaki tua itu.


Lelaki tua itu bahkan berkali-kali menelan salivanya. Ia membayangkan tubuh polos nan indah yang masih tersembunyi di balik handuk berwarna putih tersebut.


"Menjauhlah, Tuan! Atau aku akan berteriak dengan keras agar warga desa mendengar teriakanku!"


Farra mencoba mengancam lelaki itu agar tidak terus mendekat padanya. Namun, sepertinya ancaman Farra hanya sia-sia saja. Lelaki itu sama sekali tidak takut. Bahkan ia semakin bersemangat melihat penolakan Farra saat itu.


"Berteriaklah sepuasmu, Farra. Warga di desa ini tak ada yang berani melawanku. Bahkan mereka semua tunduk dengan perintahku, Farra sayang!"

__ADS_1


Lelaki itu terus mendekat dan tanpa mereka sadari, Aksa yang tadinya menangis histeris sekarang malah berdiri di belakang Pak Anton sambil memegang sebuah sapu.


Bocah tampan itu memukul kepala Pak Anton dengan gagang sapu berkali-kali dengan seluruh kekuatannya. Pak Anton berteriak kesakitan kemudian berbalik dan mengambil alih sapu itu dari tangan Aksa.


Pak Anton yang sudah sangat marah, melemparkan sapu tersebut ke sembarang arah kemudian menarik tangan Aksa dan membawa bocah itu menuju pintu depan.


"Jangan sakiti Adik saya!" teriak Farra seraya mencoba menyelamatkan Adiknya.


Namun, lelaki tua itu tidak peduli, ia terus menarik tangan Aksa kemudian mendorong tubuh bocah kecil itu dengan kasar. Setelah berhasil mengeluarkan Aksa, Pak Anton mengunci pintu rumah tersebut dari dalam hingga Aksa tidak bisa masuk ke dalam rumah itu.


Aksa kembali menagis histeris sambil menggedor-gedor pintu rumah. Beruntung, tepat di saat itu mobil Pick Up yang dikemudikan oleh Zian pun tiba di sana. Aksa segera berlari ke arah Zian setelah lelaki itu keluar dari mobilnya.


"Om, tolong Kak Farra!" lirih Aksa di sela isak tangisnya sembari menunjuk ke arah rumah milik Zian.


Zian berlari menuju pintu rumahnya kemudian mendobraknya dengan sangat keras.


Sementara itu di dalam rumah.


Pak Anton menyeret Farra menuju kamar dan mendorong gadis itu dengan keras hingga ia terjatuh di samping tempat tidur. Farra meringis kesakitan sambil memeluk perutnya yang terasa menegang.


Melihat Farra yang nampak tidak berdaya, bukannya kasihan, lelaki tua itu malah semakin bersemangat ingin menuntaskan hasratnya bersama gadis itu.

__ADS_1


Dengan tergesa-gesa ia melepaskan pakaiannya sambil terus menyeringai menatap Farra yang masih meringkuk, memeluk perutnya yang sakit. Handuk yang tadinya menutupi tubuh Farra dengan sempurna, kini terlepas dan Farra hanya bisa memeganginya agar benda itu tidak melorot.


"Ayolah, Farra! Kamu layani saja aku, lagipula aku akan bertanggung jawab dan menikahimu," ucapnya dengan tergesa-gesa menghampiri Farra.


Pak Anton yang sudah di kuasai oleh nafsuu, tidak menyadari bahwa Zian sudah berhasil mengobrak pintunya. Di saat lelaki itu ingin menarik handuk yang menutupi tubuh Farra, Zian menendang tangan lelaki itu dengan keras.


Lelaki itu memekik kesakitan kemudian segera menoleh ke arah Zian yang kini menatapnya dengan wajah memerah. "Zian?!" pekik lelaki tua itu.


"Apa yang ingin kamu lakukan, Pak Tua! Dasar kurang ajar!"


Zian yang sangat marah segera menarik lelaki tua itu kemudian menyeretnya hingga ke halaman depan. Beberapa kali Pak Anton meminta ampun kepada Zian yang sudah seperti orang kerasukan.


Zian terus memukul dan menendang lelaki itu. Hingga akhirnya Pak Anton tidak sadarkan diri di halaman rumahnya dengan hanya menggunakan celana boxer yang masih menutupi senjata tua miliknya.


Setelah puas memberikan pelajaran kepada lelaki tua itu, Zian segera menghubungi polisi agar mengamankan lelaki tua itu.


Zian kembali berlari memasuki rumah dan menemui Farra yang ternyata sudah tidak sadarkan diri di bawah tempat tidurnya. Aksa hanya bisa menangis sambil menggoyang-goyangkan tubuh Farra.


"Om, kenapa Kak Farra tidak bangun-bangun?" ucap Aksa dengan derai air mata menatap Zian.


"Sebaiknya kita bawa Kak Farra ke Puskesmas," ucap Zian. Karena di Desa tersebut hanya ada Puskesmas, sedangkan Rumah Sakit jaraknya lumayan jauh.

__ADS_1


...***...


__ADS_2