
"Kenapa aku merasa kecewa saat mendengar Kak Zian ingin menikah? Seharusnya 'kan aku senang karena akhirnya Kak Zian tidak sendiri lagi," gumam Farra sambil memeluk bantalnya.
Farra menghembuskan napas berat sambil memasang wajah masam. "Tapi, kenapa aku seperti tidak rela saat mengetahui Kak Zian ingin menikah," sambungnya lagi.
Gadis itu meletakkan kembali bantal yang tadi ia peluk ke tempat semula, kemudian ia berjalan menghampiri pintu kamar. Karena merasa tidak nyaman karena sudah meninggalkan Zian, Farra pun memutuskan untuk kembali menemui lelaki itu.
Perlahan Farra membuka pintu kamarnya dan dari kejauhan ia melihat Zian dan Aksa sedang asik mengobrol sambil menonton TV. Entah apa yang mereka bicarakan, tetapi kedua lelaki itu nampak sangat serius dengan pembicaraan mereka.
Zian kembali menyunggingkan sebuah senyuman hangat saat menatap Farra yang sedang berjalan ke arahnya. Ia merasa sedikit lega karena ternyata gadis itu tidak marah kepadanya.
"Duduklah." Zian menepuk ruang kosong di sampingnya agar Farra duduk di tempat itu.
Setelah menjatuhkan dirinya tepat di samping Zian, Farra pun mulai mengajak lelaki itu bicara. "Kak, maafkan aku."
"Maaf? Kamu tidak melakukan kesalahan apapun, kenapa harus meminta maaf?" tanya Zian.
"Seharusnya tadi aku senang mendengar Kakak mau menikah. Tapi, kenapa aku begitu bodoh. Aku malah merasa kecewa dan marah setelah mendengar berita baik itu," tutur Farra dengan kepala tertunduk.
Zian tersenyum semringah mendengar penuturan polos Farra. Ia meraih wajah Farra yang tertunduk kemudian mereka pun saling bertatap mata. "Kenapa kamu marah, Farra? Katakanlah dengan jujur," tanya Zian sambil menatap lekat kedua bola mata gadis itu.
__ADS_1
Farra menggeleng pelan tanpa mengalihkan tatapannya kepada Zian. "Entahlah, tiba-tiba saja aku merasa marah dan kecewa. Tapi, sekarang sudah tidak lagi, Kak. Aku berani bersumpah!" jawab Farra seraya mengangkat kedua jarinya.
Zian terkekeh pelan. "Aku begitu bahagia mendengarnya, Farra. Aku senang jika kamu marah karena artinya kamu ...." Zian merapikan rambut Farra ke samping telinga gadis itu.
"Artinya apa, Kak?!"
Zian mendekatkan wajahnya ke wajah Farra yang masih kebingungan. Tangan lelaki itu terus membelai lembut pipi Farra yang kemerahan. Hingga sebuah kecupan hangat mendarat di pipi kanan Farra.
Farra membulatkan matanya dengan sempurna. Tubuh gadis itu mematung dan bibirnya pun seakan terkunci rapat. Ini pertama kalinya Farra mendapatkan sebuah ciuman hangat, yang membuat dirinya seakan melayang-layang.
Zian hanya bisa tersenyum melihat ekspresi Farra yang terlihat menggemaskan. Dan jangan lupakan mahluk kecil yang ternyata melihat aksi nekat Zian saat itu.
Dengan cepat Zian menggelengkan kepalanya dan mencoba mengelak ucapan bocah tampan itu. "Bukan! Bukan seperti itu, Aksa.Tadi Om lihat ada sebuah kotoran yang menempel di pipi Kak Farra dan Om meniupnya seperti ini agar kotorannya menghilang," tutur Zian seraya meniup pelan pipi Farra.
"Benar 'kan, Kak Farra?" sambung Zian sambil mengedipkan matanya kepada Farra.
Farra menganggukkan kepala dengan cepat, tetapi bibirnya masih kaku hingga ia tidak bisa mengeluarkan suaranya.
"Nah 'kan?" Zian kembali mencoba meyakinkan bocah tampan itu.
__ADS_1
Aksa pun akhirnya percaya dan kembali melanjutkan acara nonton TV nya.
Di kediaman Raja.
"Astaga, Leo! Bahkan sampai saat ini kamu belum juga menemukan informasi tentang Farra dan anakku?! Sebenarnya apa yang kamu kerjakan, huh?!" teriak Raja yang benar-benar sudah di puncak amarahnya.
"Saya sudah berusaha semampu saya, Tuan. Tetapi hingga saat ini saya tidak juga mendapatkan informasi tentang Nona Farra," sahut Leo sambil menundukkan kepalanya menatap lantai ruangan itu.
"Aakkhhhhh!" Raja berteriak kesal seraya melemparkan barang-barang yang tersusun rapi di meja kerjanya. Wajah lelaki itu memerah dan Raja sudah tidak bisa memberikan kesempatan lagi untuk Leo yang menurutnya tidak becus saat bekerja.
"Hari ini kamu aku pecat, Leo! Dan segera pergi dari rumah ini. Jangan pernah perlihatkan wajah mengesalkanmu itu di hadapanku lagi, mengerti!"
"Mengerti, Tuan."
Dengan senang hati Leo pun melangkah pergi meninggalkan kediaman mewah milik Raja. Ia tersenyum puas karena tugasnya sudah selesai. Perusahaan, rumah tangga dan sekarang kehidupan lelaki itupun sudah di ambang kehancuran.
Setelah kepergian Leo, Raja meluapkan amarahnya di ruangan itu dengan membanting barang-barang yang ada di ruangan itu. Raja benar-benar kesal karena ia sudah membuang-buang waktunya bersama lelaki yang kerjanya tidak becus itu.
"Seandainya Ivan masih bekerja denganku, mungkin saat ini Farra sudah duduk dan menikmati hari-hari indahnya bersamaku," gumam Raja seraya menjatuhkan diri ke lantai kemudian bersandar di dinding ruangan itu sambil memeluk kedua lututnya.
__ADS_1
...***...