Selir Tuan Raja

Selir Tuan Raja
Pertemuan Zian Dan Sameera


__ADS_3

Dua minggu kemudian.


Hari ini Raja terlihat sangat keren. Ya, karena hari ini ia akan menjenguk bayi lelakinya yang sudah diberi nama Raffa Arka Sanjaya di kediaman Farra. Dengan wajah semringah, Raja melangkah keluar dari rumah mewah tersebut menuju mobilnya yang sudah terparkir di halaman depan.


Setelah memasuki mobil tersebut, Raja pun segera melajukannya memecah keramaian kota. Lelaki itu terus menyunggingkan senyumannya. Kelahiran bayi Raffa membuat hidupnya menjadi lebih berwarna. Sekarang ia bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang Ayah dan itu sangat menyenangkan buat Raja.


Raja menepikan mobil kemudian memarkirkannya di depan halaman sebuah toko yang menjual berbagai macam peralatan juga kebutuhan bayi dan anak. Seorang karyawan toko menghampirinya sambil tersenyum hangat.


"Ada yang bisa kami bantu, Tuan?"


"Ehm, aku ingin memberikan hadiah untuk bayiku yang baru baru lahir. Kira-kira apa yang cocok, ya?" tanya Raja balik sembari memperhatikan sekelilingnya.


"Mari, Tuan. Biar saya tunjukkan hadiah yang cocok untuk si kecil yang baru lahir."


"Baiklah," sahut Raja yang kemudian mengikuti ke mana karyawan toko tersebut menuntunnya.


Sementara itu di sebuah Cafe di pusat kota.


"Maafkan aku, Sameera. Aku tidak bisa," lirih Zian dengan wajah sendu menatap Sameera yang tengah terisak di hadapannya.


"Zian, kumohon!"


Wanita cantik itu rela datang jauh-jauh hanya untuk menemui Zian. Ia ingin mengutarakan isi hatinya bahwa dia tidak ingin pertunangannya bersama lelaki itu dibatalkan.

__ADS_1


Namun, semuanya hanya tinggal harapan semata. Zian tetap kekeh pada pendiriannya bahwa dia ingin melanjutkan hubungannya dengan Farra, wanita pilihannya.


"Maafkan aku, Sameera."


Sameera yang merasa sangat kesal dan kecewa, memutuskan untuk meninggalkan Zian dari Cafe tersebut. Ia berlari kecil sembari menyeka air matanya ke tempat parkir kemudian memasuki sebuah mobil yang ia rental.


Zain tidak bisa melakukan apa-apa. Ia hanya terdiam sambil menatap kepergian Sameera dengan tatapan sedih. Bahkan hingga wanita itu menghilang bersama mobilnya, Zian masih duduk di Cafe tersebut dengan hati yang berkecamuk.


Di perjalanan.


Sameera masih saja menangis saat mengendarai mobilnya. Beberapa kali ia berdecak kesal sambil memukul stir mobil. Wanita itu bahkan tidak menyadari bahwa kecepatan mobilnya sudah jauh melebihi batas kecepatan yang disarankan.


Tiba-tiba saja wanita itu terperanjat ketika mendapati seorang laki-laki tengah menyeberang tanpa menoleh kanan dan kiri.


"Hei, AWAS!" teriak Sameera panik sembari mencoba menginjak rem.


"Aaakkhhh!!!" jerit Sameera sembari menutup matanya dengan sempurna.


BRAAKKK!!!


Mobil yang dikemudikan oleh Sameera menabrak tubuh lelaki yang sedang berjalan dengan menenteng sebuah kado berukuran besar. Tubuh lelaki malang itu terpental jauh hingga beberapa meter, begitupula kado yang sedang ia pegang. Kado tersebut melayang ke udara kemudian jatuh ke pinggir jalan.


Semua orang yang menyaksikan kejadian itu berteriak histeris. Mereka segera berlarian menghampiri tubuh pria malang dengan stelan jas hitam tersebut.

__ADS_1


Dan beberapa warga lainnya menghampiri mobil yang dikemudikan oleh Sameera. Wanita itu ketakutan, tubuhnya bergetar hebat ketika warga mengerumuni mobilnya.


"Hei, buka!" teriak salah seorang warga yang kesal.


"I-iya, Pak!"


Perlahan Sameera membuka pintu mobil dengan wajah yang memucat. Tubuh Sameera bergetar hebat karena ia begitu ketakutan saat itu. Apalagi setelah ia melihat ekspresi wajah para warga yang kini tengah mengelilinginya.


"Maafkan saya, Pak. Saya benar-benar tidak sengaja. Jangan pukul saya, saya berjanji akan bertanggung jawab terhadap lelaki itu. Saya mohon," lirih Sameera sembari menangkupkan kedua tangannya di hadapan para warga.


Dengan wajah memelas, Sameera menatap satu-persatu para warga sekitar yang sepertinya sudah mulai tersulut emosi. Berharap para warga dapat memaafkan dan tidak bermain hakim sendiri kepadanya.


Setelah mendengar itikad baik dari Sameera, warga pun setuju. Namun, mereka tetap mengamankan wanita itu agar tidak melarikan diri dari tanggung jawabnya.


Setelah ambulance tiba, tubuh lelaki malang yang sudah tidak berdaya itu pun segera dilarikan ke Rumah Sakit. Sameera bingung, di sini ia hanya seorang diri dan ia tidak punya pilihan lain selain menghubungi Zian.


Setelah meraih ponselnya, Sameera pun segera menghubungi nomor ponsel lelaki itu. Saat itu Zian masih di perjalanan setelah pulang dari Cafe. Lelaki itu bermaksud menuju kediaman Farra karena ia sudah merindukan Farra, si kecil Raffa dan tidak lupa Aksa.


Tiba-tiba saja ponsel Zian berdering, setelah meraih ponsel tersebut ia pun segera menerima panggilan tersebut. Panggilan yang ternyata dari Sameera, wanita yang baru saja ia temui di Cafe.


"Ya, Sameera."


"Zian, tolong aku! Aku baru saja mengalami kejadian naas. Tanpa sengaja aku sudah menabrak seseorang dan sekarang aku sedang di amankan oleh para warga."

__ADS_1


"Apa?!" pekik Zian. "Baiklah, kirim lokasimu dan aku akan segera menyusulmu ke sana," lanjut Zian.


...***...


__ADS_2