Selir Tuan Raja

Selir Tuan Raja
Pertemuan Ivan dan Farra


__ADS_3

"Semoga mereka belum terlalu jauh," gumam Zain.


Cukup jauh Zian menelusuri jalan yang dilewati oleh Kakak-beradik itu hingga akhirnya ia menemukan mereka.


"Ah, itu mereka! Syukurlah," ucap Zian dengan semangat melajukan mobilnya menghampiri Farra dan Aksa.


Tin ... tin ....


Zian menekan klakson mobilnya sambil tersenyum lebar ketika kakak beradik itu menoleh kepadanya.


"Kak Zian?" pekik Farra sambil menautkan kedua alisnya. Ia bingung kenapa lelaki itu kembali lagi.


"Yeay, Om kembali lagi!" seru Aksa yang terlihat sangat senang melihat kedatangan Zian.


"Bukannya Aksa ingin numpang mobilnya Om yang butut ini? Dan Om sudah tahu di mana tempat yang ingin kalian tuju," ucap Zian, masih dengan senyuman yang terus menempel di wajah tampan lelaki itu.


Zian keluar dari mobilnya kemudian menghampiri Aksa dan membawa bocah itu masuk ke dalam mobilnya. Aksa sangat senang, ia bahkan meminta Farra untuk mengikutinya.


Namun, Farra masih diam seribu bahasa. Gadis itu nampak berpikir dengan keras untuk ikut bersama Zain, lelaki yang baru ditemuinya itu.


"Percayalah padaku, Farra. Aku tidak punya niat jahat padamu. Aku tidak tega melihat kalian luntang-lantung di jalan tanpa arah dan tujuan. Sekarang pikirkan Aksa, apa kamu tidak kasihan melihat bocah itu harus tidur di jalanan? Membayangkannya saja aku sudah tidak sanggup, Farra. Ikutlah denganku, aku yakin kamu pasti suka tinggal di sana. Paling tidak hingga kamu Aksa memiliki tujuan yang pasti," bujuk Zian.


Farra menatap lekat kedua biji manik berwarna hitam pekat milik lelaki itu. Dan Farra mulai yakin bahwa lelaki itu berkata jujur bahwa ia tidak akan berbuat jahat padanya.


"Ayo, Kak Farra!" ajak Aksa sambil mengeluarkan kepalanya dari pintu mobil.

__ADS_1


Farra menghembuskan napas panjang dan akhirnya ia pun menganggukkan kepalanya. "Baiklah, tapi ...."


"Tapi?" Zian bingung.


"Sebenarnya aku tidak ingin menyusahkanmu, Kak Zian. Aku yakin, kehadiran kami hanya akan merepotkanmu saja," sahut Farra.


Zian kembali tersenyum kemudian menepuk pundak gadis itu dengan lembut. "Tidak akan, percayalah. Kamu lihat, Aksa saja percaya padaku."


Zian mempersilakan Farra untuk menyusul Aksa masuk ke dalam mobilnya. Setelah gadis itu duduk bersama Aksa di samping kursi kemudi, Zian pun segera melajukan mobil tersebut menuju tempat tinggalnya.


Ketika Farra memasuki mobil milik Zian, Ivan tiba di tempat itu. Ivan membelalakan matanya saat menyadari bahwa gadis yang memasuki mobil Pick Up berwarna hitam di depan mobilnya adalah Farra.


"Bukankah itu Farra?! Lalu, mobil siapa ini?" gumam Ivan dengan wajah panik. "Sebaiknya aku ikuti, aku tidak ingin Farra dan Aksa kenapa-kenapa," lanjutnya.


"Farra, Farra, kenapa ponselmu tidak dapat dihubungi? Sejak tadi aku mencoba menghubungimu, tetapi sampai sekarang ponselmu masih tidak aktif. Apa ponsel itu sudah dijual oleh Farra, ya?" gumamnya lagi.


Sementara itu di mobil Pick Up milik Zian. Aksa terus berceloteh ria bersama Zian dan lelaki itupun terlihat senang.


"Kamu tahu, Farra. Aku suka anak-anak. Bahkan aku sering bermain bersama anak-anak di kampungku. Rasa lelah setelah pulang bekerja terasa berkurang saat melihat keceriaan mereka," ucap Zian sambil tersenyum kepada Farra.


Seketika Farra teringat akan Raja. Lelaki itu sangat membenci anak-anak bahkan demi mendapatkan izin menemui Aksa saja, Farra rela seperti seorang wanita murahan yang menyerahkan harga dirinya kepada lelaki itu. Walaupun ia sudah berstatus sebagai istrinya, tetapi itu tetap sangat menyakitkan untuk Farra.


"Farra, apa kamu baik-baik saja?" tanya Ivan heran karena gadis itu kembali terdiam seribu bahasa dengan wajah sendu.


Farra tersenyum kecut sambil menggelengkan kepalanya. "Ya, aku baik-baik saja."

__ADS_1


Mobil yang dikemudikan Zian memasuki sebuah perkampungan yang letaknya lumayan jauh. Bahkan Farra dan Aksa sampai tertidur di dalam mobil. Sedangkan Ivan masih mengikuti mobil Zian dengan sejuta pertanyaan di kepalanya.


"Sebenarnya mau kemana mereka? Ini sudah terlalu jauh," gumam Ivan.


Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya Zian menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah sederhana. Farra terbangun dari tidurnya saat mobil Zian berhenti. Farra memperhatikan sekelilingnya dan ternyata ia sudah berada di sebuah perkampungan yang begitu asing baginya.


Jarak rumah satu dengan yang lainnya lumayan jauh. Tanah kosong yang menjadi pembatas rumah mereka masih bisa di bangun dua sampai tiga buah rumah.


"Kak Zain tinggal di sini?" tanya Farra sambil mengucek matanya.


"Ya, dan ini rumahku. Maaf, rumahku kecil dan jelek," sahut Zian sambil tersenyum kecut menatap Farra.


Farra malah membalas senyuman Zain dengan senyuman manisnya. "Seandainya Kak Zian lihat rumahku dulu, mungkin Kak Zian tidak akan menyebut rumah ini jelek. Karena rumah kami jauh lebih jelek dari ini," sahut Farra.


"Farra?!"


Tiba-tiba Ivan menghampiri mereka dan kehadiran Ivan di tempat itu membuat Farra begitu terkejut.


"Tuan Ivan, kenapa kamu disini?"


Zian membulatkan matanya saat menyadari siapa yang sedang berdiri di hadapannya.


"Ivan?!" pekik Zian.


***

__ADS_1


__ADS_2