Selir Tuan Raja

Selir Tuan Raja
Memeriksakan Kandungan


__ADS_3

Raja tersenyum sinis melihat Farra dan Zian berpelukan di depan mata kepalanya. Perasaan kesal, marah dan cemburu melebur menjadi satu di hati Raja.


"Heh, kalian memang cocok! Yang satu menyedihkan dan satunya lagi kampungan!" kesal Raja sembari menyeka darah segar yang masih mengalir dari sudut bibirnya.


Zian dan Farra melerai pelukan mereka dan kini tatapan kedua orang itu tertuju pada lelaki yang tengah bersandar di dinding ruangan sambil tersenyum kecut.


"Apa yang kalian lihat, huh?! Kemalanganku? Kalian pasti bahagia 'kan melihat aku seperti ini?!" kesal Raja sembari membuang pandangannya ke arah lain.


"Kalian sama saja! Dasar manusia tidak berguna. Sekarang pergi dari hadapanku, aku sudah tidak ingin melihat wajah kalian lagi! PERGI!!!" teriak Raja seraya menunjuk ke arah pintu utama.


Farra merasa iba melihat kondisi Tuan Raja yang terlihat sangat menyedihkan. Ia mencoba menghampiri lelaki itu, tetapi Raja memberi isyarat kepada Farra untuk tidak mendekat kepadanya.


"Tuan Raja, aku--"


"Aku bilang pergi, PERGI!" tegasnya sekali lagi tanpa menoleh sedikitpun kepada Farra dan Zian.


Zian meraih pundak Farra kemudian mengangguk pelan. "Sebaiknya kita pergi saja, Farra. Aksa sangat mengkhawatirkan keadaanmu saat ini."


"Ya, ya, pergilah! Dan kuharap aku tidak akan pernah melihat wajah kalian lagi!" sela Raja, masih membuang muka.


Dengan langkah gontai, Farra melangkahkan kakinya mengikuti Zian yang sedang menuntunnya. Setibanya di halaman depan, mereka pun segera memasuki mobil dan kembali ke kediaman baru Farra.


Raja menatap kepergian Farra dan Zian dari kejauhan. Perasaan Raja bercampur aduk, ada rasa kesal, marah, cemburu, sedih dan juga rasa bersalah yang amat sangat terhadap gadis itu.


"Maafkan aku, Farra. Aku rasa Zian memang benar. Aku memang tidak pantas mengakuimu sebagai istriku. Perlakuanku selama ini memang tidak bisa dimaafkan," gumam Raja sembari memukul dinding ruangan itu dengan cukup keras.


. . .


Beberapa Bulan Kemudian.


Kini usia kandungan Farra sudah mendekati hari H. Ia terlihat kesusahan saat membawa perutnya yang besar itu ketika melangkahkan kakinya.

__ADS_1


"Mari," ajak Zian sembari mengulurkan tangannya kepada Farra yang berjalan pelan sambil mengelus perutnya.


"Sebentar, Kak. Sejak tadi si kecil ini gak bisa diam. Aktif sekali dia," ucap Farra sambil terus mengelus perutnya.


Zian tertawa pelan melihat Farra yang nampak kewalahan menghadapi si kecil yang masih begitu aktif di dalam kandungannya. Padahal tinggal beberapa hari lagi, si kecil itu akan segera launching ke dunia ini.


"Boleh aku menyentuhnya?" ucap Zian, menatap Farra dengan wajah penuh harap. Sejak tadi lelaki itu sudah gatal ingin menyentuh perut Farra yang terus bergerak-gerak.


"Sentuhlah, siapa tahu dia mau diam setelah mendapatkan sentuhan dari Kakak," sahut Farra.


"Serius?" Zian membulatkan matanya. Sebenarnya sudah sejak lama ia ingin menyentuh mahluk mungil itu di atas perut Farra. Namun, ia sadar dia bukan siapa-siapanya mereka.


Farra menganggukkan kepalanya pelan sambil tersenyum. Setelah mendapatkan izin dari wanita itu, perlahan Zian pun mengulurkan tangannya kemudian menyentuh bagian sisi kanan perut Farra yang terlihat lebih menonjol dari sisi lainnya.


Baru saja Zian meletakkan tangannya di bagian itu, tiba-tiba saja si mungil kembali bergerak dengan cepat kemudian mengubah posisinya.


Lelaki itu tertawa puas, ia begitu senang karena bisa merasakan bagaimana pergerakan mahluk mungil yang sudah menjadi bagian dari dirinya itu. Walaupun sebenarnya di antara mereka sama sekali tidak memiliki ikatan apapun.


"Ya, kamu benar, Aksa. Dedenya benar-benar sangat menggemaskan. Oh ya, sebaiknya kita berangkat sekarang. Aku yakin sekali Dokternya pasti sudah menunggu kedatangan kita."


Zian meraih tangan Farra dan menuntunnya memasuki mobil. Setelah itu mereka pun segera berangkat menuju tempat praktek Dokter Kandungan yang kini menjadi langganan Farra memeriksakan kehamilannya.


Tanpa mereka sadari, Raja memperhatikan apa yang mereka lakukan dari kejauhan. Lelaki itu menatap mobil Zian yang kini sudah menjauh kemudian menghilang dari pandangannya.


Ia tahu kemana tujuan Zian, Farra dan Aksa sekarang ini. Raja kembali menghidupkan mesin mobilnya kemudian melaju menuju tempat praktek Dokter Kandungan langganan Farra.


Ya, tidak ada yang menyadari bahwa selama berbulan-bulan setelah kejadian itu, Raja memutuskan menjadi seorang pengintai. Mengintai aktivitas yang dilakukan oleh Farra tanpa berani menampakkan wajahnya apalagi menghampiri wanita itu.


Setelah kejadian waktu itu, Raja benar-benar berubah. Ia terus memikirkan kesalahan demi kesalahan yang sudah ia lakukan selama ini. Baik kesalahannya terhadap Zian, Farra dan semua orang yang pernah ia sakiti.


Raja memulai hidupnya dari nol lagi, di mana ia harus berjuang membangkitkan semangat hidupnya yang hampir saja lenyap. Dan bukan hanya itu, Raja juga harus berjuang mempertahankan perusahaannya yang hampir saja terbengkalai.

__ADS_1


Setibanya di tempat praktek Dokter itu, Raja menghentikan mobilnya dari jarak yang lumayan jauh. Ia tidak ingin Zian dan Farra mencurigai keberadaannya.


Raja menyunggingkan sebuah senyuman kecil dari bibirnya ketika menyaksikan Zian menuntun Farra memasuki ruangan Dokter Kandungan itu dan disusul oleh Aksa dari belakang.


"Aku tahu pernikahan kita terjadi atas dasar keterpaksaan, Farra. Tapi ... demi Tuhan, sama seperti Zian, aku pun menyayangi mahluk mungil itu. Aku ingin yang terbaik untuknya Karena dia adalah darah dagingku," gumam Raja dengan wajah sendu menatap tempat praktek Dokter tersebut.


Di dalam ruangan Dokter tersebut.


"Bagaimana kondisi bayinya, Dokter? Dia baik-baik saja 'kan?" tanya Zian dengan wajah serius menatap Dokter. Ia begitu antusias kalau soal si mahluk mungil itu, bahkan antusiasnya melebihi dari Farra.


"Bayinya sangat sehat, Tuan Zian. Dan bayinya pun sudah berada di posisi yang seharusnya," jawab Dokter sambil tersenyum puas karena sebelumnya posisi bayi mungil Farra sempat sungsang.


"Ah, syukurlah!" ucap Zian sambil tersenyum puas.


"Itu artinya aku boleh melahirkan secara normal 'kan, Dok?" tanya Farra.


Dokter menganggukkan kepalanya. "Ya, tentu saja, Nona Farra."


"Dokter, kira-kira dia cewek atau cowok, Dok?" tanya Zian dengan setengah berbisik kepada Dokter itu.


"Tidak, Dok! Jangan dikasih tau, biarkan itu jadi kejutan buat kami nantinya," sela Farra yang ternyata mendengar apa yang ditanyakan oleh Zian kepada Dokter.


"Ayolah, Farra. Aku benar-benar penasaran. Bisa-bisa nanti aku mati penasaran," sahut Zian dengan wajah memelas kepada Farra.


Farra menggelengkan kepalanya. Ia tetap kekeh tidak ingin tahu apa jenis kelamin bayi mungilnya. "Biarkan jadi kejutan. Benar 'kan, Dok?" sambung Farra sambil mengulum senyumnya.


Dokter pun tidak berani mengatakannya. Ia mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum menatap Zian. "Maafkan aku, Tuan."


Zian menghembuskan napas berat. "Ya sudahlah, lagipula tinggal beberapa hari lagi, mahluk kecil itu akan segera bergabung bersama kami. Dan rasa penasaranku pun akan segera terjawab."


...***...

__ADS_1


__ADS_2