Selir Tuan Raja

Selir Tuan Raja
Hari Operasi


__ADS_3

Hari yang begitu mendebarkan untuk Vania pun tiba. Hari itu ia menjalani operasi pengangkatan rahim. Walaupun pada dasarnya Vania masih belum ikhlas menerima kenyataan pahit itu.


Dengan sabar, Raja menunggu di luar ruang operasi. Dan tidak berselang lama, Dokter yang bertugas menangani operasi Vania hari ini, keluar dari ruangan itu sambil tersenyum hangat.


Raja bergegas bangkit dari tempat duduknya kemudian menghampiri Dokter tersebut.


"Bagaimana operasinya, Dok?" tanya Raja dengan wajah cemas.


"Operasinya berjalan dengan lancar, Tuan."


"Oh, syukurlah!" Raja mengusap wajahnya dengan kedua tangannya sambil mengucap syukur. Ia begitu bahagia karena operasi Vania berjalan dengan lancar.


Jika Raja begitu bahagia karena sang istri sudah terbebas dari penyakitnya, berbeda dengan Vania. Wajahnya terlihat murung dan tidak bersemangat.


"Vania, kenapa kamu murung? Seharusnya kamu senang karena akhirnya penyakitmu sudah diangkat dan tidak lama lagi kamu akan hidup normal sama seperti sebelumnya," ucap Raja yang kini duduk di samping tempat tidur Vania.


"Ya, Tuhan ... betapa bahagianya aku seandainya apa yang dikatakan oleh Raja itu benar bahwa aku akan kembali hidup normal setelah ini. Tapi, sayangnya tidak. Hidupku tidak akan pernah menjadi normal. Aku akan tetap menjadi wanita yang kekurangan, wanita yang mandul dan tidak bisa memberi keturunan buat suamiku," batin Vania.


"Vania, kamu kenapa?" tanya Raja, karena Vania masih diam seribu bahasa dengan tatapannya kosong menerawang. Raja meraih tangan Vania kemudian mengelus lengan itu dengan lembut.


"Raja, apa kamu berencana ingin punya anak dalam waktu dekat?" Vania menatap Raja dengan tatapan sendu.


Lelaki itu melemparkan senyuman terbaiknya untuk Vania sembari mengelus wajah istrinya yang masih pucat.


"Tentu saja tidak, Vania. Saat ini, kesehatanmu lebih penting dari segalanya. Lagipula kita masih bisa merencanakannya kapan saja, tahun depan, tahun depannya lagi, atau tahun depannya lagi," sahut Raja dengan senyum semringah.

__ADS_1


Vania menarik napas dalam kemudian menghembuskannya dengan perlahan. "Raja, bagaimana jika seandainya aku tidak bisa hamil lagi? Apa kamu akan menceraikan aku?" lirih Vania.


Raja terkekeh pelan. "Kamu itu lucu, Vania sayang. Sebenarnya kamu itu baik-baik saja, bahkan Dokter pun tidak mengatakan apa-apa tentang penyakitmu, kenapa kamu malah berpikiran sejauh itu?"


"Jawab saja pertanyaanku, Raja? Apa kamu akan menceraikan aku jika ternyata aku mandul dan tidak bisa memberimu keturunan?"


"Hush! Sudahlah, aku tidak ingin mendengar kata-kata itu lagi."


Raja meraih tubuh Vania ke dalam pelukannya kemudian menciumi puncak kepala wanita itu berkali-kali.


"Percayalah padaku, Vania. Kamu akan baik-baik saja dan setelah kamu benar-benar pulih, baru kita rencanakan masalah momongan. Kamu mau berapa? dua, tiga? Kalau aku ingin lima atau enam, biar rumah kita semakin ramai," tutur Raja sambil tersenyum lebar.


Hati Vania serasa ditusuk-tusuk dengan ribuan pisau. Begitu sakit, tetapi tidak berdarah sedikitpun.


Secara fisik, kondisi Vania sudah mulai membaik. Namun, secara spikis wanita itu masih belum sepenuhnya kembali seperti semula. Ia lebih pendiam dari sebelum ia melakukan operasi pengangkatan rahim tersebut.


Hari itu Tania datang berkunjung, ia menemui Vania yang masih senang mengurung diri di kamar mewahnya.


"Vania, bagaimana kabarmu?"


Tania menarik kursi rias milik Vania kemudian meletakkannya di samping tempat tidur wanita itu.


"Kamu lihat sendiri bagaimana kondisiku, Tania! Aku wanita paling menyedihkan di dunia ini," sahutnya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Kenapa kamu bicara seperti itu, Vania! Ish, tidak baik tau!" kesal Tania seraya menarik tangan Vania.

__ADS_1


"Memang mudah saat mengatakannya, Tania. Tapi, saat kamu berada di posisiku sekarang, kamu pasti akan tahu bagaimana rasanya menjadi seorang wanita yang kekurangan seperti diriku," tutur Vania sambil menitikkan air matanya.


"Sabar, Vania. Lalu, bagaimana dengan Raja? Aku yakin sekali dia pasti bisa menerima kekuranganmu. Karena Raja adalah lelaki yang baik, yang begitu tulus mencintaimu. Benar 'kan?"


Vania tersenyum kecut. "Dia belum tahu kebenarannya, Tania. Aku masih belum menceritakan soal itu kepadanya," sahut Va.


"Apa?!" pekik Tania. "kenapa kamu tidak mengatakan yang sebenarnya, Van? Aku rasa semakin cepat kamu berkata jujur, itu akan semakin baik untukmu."


"Ya, kamu benar! Akan semakin baik, jika Raja tidak menceraikan aku, Tania." Vania nampak kesal.


Tania terdiam sambil terus memperhatikan wajah Vania yang masih kusut.


"Oh ya, Vania. Tadi di depan aku melihat seorang gadis yang sedang bersih-bersih di ruang utama. Pelayan baru, ya? Soalnya dia tidak mengenakan seragam yang sama seperti yang lainnya."


Vania terdiam sambil berpikir. "Oh, itu. Itu Farra, mungkin. Istri mudanya Raja," sahut Vania dengan ekspresi datar.


"Apa, istri muda Raja?! Apa kamu sudah gila?!" pekik Tania dengan mata membesar.


Vania tersenyum tipis. "Sudahlah, tidak usah pedulikan gadis itu! Lagipula dia bukan selera Raja dan dia tidak akan berani membuat huru-hara dalam rumah tanggaku," sahut Vania tanpa beban.


"Bagaimana bisa kamu begitu yakin bahwa Raja tidak akan tergoda. Gadis itu cantik dan apa kamu lupa bagaimana kondisimu sekarang ini? Maaf, bukannya aku menakutimu. Tapi, hanya sekedar mengingatkan karena aku adalah sahabatmu, Vania."


Vania terdiam dan mulai memikirkan apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu.


...***...

__ADS_1


__ADS_2