
"Zian, tolong aku!" pekik Sameera ketika Zian tiba di tempat ia diamankan oleh warga. Wanita itu segera menghambur ke pelukan Zian kemudian terisak sembari menceritakan kejadian yang baru saja terjadi padanya.
"Lalu bagaimana kondisi lelaki yang sudah kamu tabrak?"
"Warga sudah membawanya ke Rumah Sakit dan aku tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang ini. Semoga saja ia baik-baik saja," sahut Sameera.
Zian mencoba bernegosiasi dengan warga dan berjanji akan mempertanggung jawabkan semuanya. Bahkan Sameera pun siap jika suatu saat lelaki yang telah ia tabrak menuntutnya hingga ke jalur hukum.
Setelah perdebatan panjang, akhirnya para warga pun bersedia melepaskan Sameera. Selesai mengurus semua permasalahannya di tempat warga, kini Zian mengantarkan wanita itu ke Rumah Sakit. Di mana lelaki malang itu di rawat.
"Apa kamu sudah menghubungi kedua orang tuamu, Sameera?" tanya Zian yang masih fokus dengan kemudinya.
Sejak tadi Sameera hanya terisak dengan kepala tertunduk, akhirnya menatap Zian dengan mata sembabnya. Entah mengapa hari ini benar-benar menjadi hari yang begitu sial untuk Sameera.
Bagaimana tidak, sejak ia bertemu dengan Zian di Cafe hingga sekarang pun air matanya tidak henti mengalir. Barusan ia menangisi penolakan yang dilakukan oleh lelaki itu dan sekarang ia harus menangisi lelaki misterius yang sudah ia tabrak.
"Iya, sudah dan mereka berjanji akan secepatnya datang ke sini," jawabnya.
"Baguslah."
Tidak berselang lama, merekapun tiba di depan Rumah Sakit. Zian dan Sameera bergegas menuju ruangan, di mana lelaki malang itu tengah di rawat.
"Bagaimana keadaannya, Dok? Dia baik-baik saja 'kan? Dia pasti selamat 'kan, Dok?"
Pertanyaan demi pertanyaan keluar dari mulut Sameera. Wajahnya terlihat sangat panik dan ia juga ketakutan. Takut sesuatu terjadi pada lelaki yang sedang tergolek lemah di atas tempat tidur pasien tersebut.
Dokter yang menangani lelaki tersebut terlihat sedih. Ia menatap Zian dan Sameera secara bergantian kemudian menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Sameera.
"Apakah kalian keluarga dari pasien?" tanya Dokter balik.
__ADS_1
"Sebenarnya bukan, Dok. Tetapi saya lah yang bertanggung jawab terhadap lelaki itu," jawab Sameera.
Dokter membuat napas kasar. "Saat ini kondisi pasien masih kritis dan kondisinya benar-benar sangat lemah. Sebaiknya kita berdoa saja agar pasien cepat sadar dan kembali seperti semula."
"Dokter, saya mohon! Lakukan apa saja yang penting lelaki itu bisa selamat," lirih Sameera.
"Pasti, Nona. Kami akan lakukan yang terbaik yang bisa kami lakukan."
Setelah Dokter itu pergi, Sameera kembali terisak. Ia benar-benar takut lelaki itu kenapa-napa dan dia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri jika itu terjadi.
"Ya Tuhan, kumohon selamatkan lelaki itu. Aku berjanji akan melakukan apa saja untuk lelaki itu, asalkan dia selamat dan kembali seperti sedia kala," ucap Sameera dalam hati.
"Sebenarnya siapa lelaki itu? Apakah sudah ada yang memberi kabar kepada keluarganya?" tanya Zian.
Sameera menggelengkan kepalanya pelan. Ia sendiri tidak tahu siapa dan di mana lelaki itu tinggal. Bahkan di saat lelaki itu tergolek di jalan, ia tidak sempat melihat wajahnya dengan jelas. Selain karena Sameera di tahan oleh warga, wajah lelaki malang itupun berlumuran darah hingga ia tidak bisa mengenalinya.
"Kasihan dia. Semoga keluarganya tahu dan segera menemuinya," gumam Zian.
Nampak seorang wanita cantik dengan wajah panik, berlari ke arah mereka dan benar saja, wanita itu menghampiri mereka kemudian bertanya kepada Sameera.
"Benarkah ini ruangan Tuan Raja?" tanya wanita itu.
Zian yang baru menyadari keberadaan wanita itu segera berbalik kemudian menghadap ke arahnya. Ia begitu mengenali suara wanita itu, suara wanita yang selama ini berhasil mencuri hatinya dan benar saja, ternyata wanita itu adalah Farra.
"Farra?! Sedang apa kamu di sini?" pekik Zian kebingungan.
"Kak Zian?!" Farra pun tak kalah terkejutnya ketika mendapati Zian yang juga berada di tempat itu. "Seseorang baru saja menghubungiku, Kak, dan ia mengatakan kalau saat ini Raja sedang di rawat di Rumah Sakit ini." sambung Farra.
Ya, ponsel milik Raja ditemukan oleh seorang warga tidak jauh dari tempat ia mengalami kejadian naas tersebut. Lelaki yang menemukan ponsel milik Raja tersebut, segera mengecek daftar kontak milik Raja dan nomor terakhir yang dihubungi oleh Raja adalah nomor kontak Farra.
__ADS_1
"Raja?!" pekik Zian lagi.
"Ya, bagaimana keadaannya, Kak? Dia baik-baik saja, 'kan?" tanya Farra dengan raut wajah yang begitu panik.
"Jadi lelaki yang sedang di rawat di dalam ruangan itu adalah Raja?! Ya, Tuhan!" pekik Zian seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
"Ya, Kak. Jadi, ternyata Kakak juga baru tahu?" tanya Farra heran.
Zian mengusap wajahnya dengan kasar. Ia benar-benar shok setelah mengetahui bahwa lelaki malang itu adalah sepupunya sendiri, Raja. "Ya, Tuhan! Semoga dia baik-baik saja."
"Aku benar-benar tidak tahu, Farra. Di saat aku tiba di tempat kejadian, ia sudah di bawa ke Rumah Sakit."
Sameera yang sejak tadi hanya diam sambil mendengarkan percakapan antara Zian dan wanita yang tidak ia kenali itu, akhirnya membuka suaranya.
"Kamu kenal dengan lelaki malang itu, Zian?" tanya seraya menarik tangan Zian.
"Ya ampun, Sameera! Ternyata lelaki itu adalah Raja! Sepupuku sendiri," sahut Raja dengan wajah panik menatap wanita itu.
Farra segera menoleh kepada wanita yang bernama Sameera tersebut. Wanita yang pernah Zian ceritakan kepadanya. Lelaki itu sudah mengakui semuanya kepada Farra, termasuk menerima perjodohan itu hanya karena salah pahaman. Sedangkan Sameera masih belum tahu siapa wanita yang sedang berdiri di sampingnya.
Wanita itu membulatkan matanya dengan sempurna. Walaupun ia tidak terlalu mengenali sosok Raja, tetapi Sameera tahu bahwa lelaki itu adalah kerabat dari Zian, yang artinya juga kerabat jauhnya.
"Oh, Tuhan!" Sameera pun kembali terisak, wanita itu menghampiri Zian kemudian memeluknya.
Saat itu Zian merasa serba salah. Apalagi Farra sedang memperhatikan dirinya dengan seksama.
"Maafkan aku!" lirih Zian kepada Farra tanpa mengeluarkan suara, hanya menggunakan isyarat bibir saja.
Farra tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya pelan. "Tidak apa-apa."
__ADS_1
...***...