
Beberapa hari kemudian.
"Farra, kue buatanmu enak. Benarkan Aksa?" Zian tersenyum kepada Aksa seraya mengacak pelan puncak kepala bocah tampan itu.
"Ya, Om. Kue bikinan Kak Farra emang enak," sahut Aksa seraya tersenyum lebar dan memperlihatkan deretan gigi susunya yang tersusun rapi.
"Kira-kira kalau aku jualan kue ini di tempat kerja Kakak laku gak, ya?" tanya Farra dengan ragu-ragu.
Farra ikut duduk di teras rumah milik Zian dan bergabung bersama kedua lelaki berbeda generasi tersebut. Namun, hanya sebentar. Si kecil Aksa malah memilih berlarian di halaman depan rumah Zian yang dipenuhi dengan berbagai macam tanaman dan pepohonan.
"Tentu saja, Farra. Aku yakin kuemu pasti laku. Soalnya di tempat aku bekerja hanya ada satu warung yang menyediakan makanan dan minuman untuk para pekerja. Barang yang dijualnya pun hanya itu-itu saja. Coba aja bikin, besok akan kubawa ke tempat kerja dan akan kuperkenalkan mereka dengan kue buatanmu. Aku yakin seratus persen, mereka pasti suka."
Zian tersenyum lebar dan ia begitu yakin akan pendapatnya. Melihat senyuman lelaki itu, Farra pun jadi bersemangat. Saat ini ia memang butuh uang untuk menyambung kehidupannya bersama Aksa. Karena tidak mungkin jika Farra dan Aksa terus-terusan bergantung pada Zian yang notabenenya bukan siapa-siapa mereka.
"Tapi ... saat ini aku tidak punya uang sepeserpun, Kak. Aku tidak punya modal untuk membuat kuenya," lirih Farra sambil menghembuskan napas berat.
Zian kembali tersenyum kemudian menepuk pundak Farra dengan lembut. "Heh, soal itu tidak usah dipikirkan. Sekarang ikutlah denganku," ajak Zian sembari bangkit dari posisi duduknya kemudian mengulurkan tangannya kepada gadis itu.
"Kemana, Kak?"
"Membeli bahan-bahan untuk membuat kue. Tidak jauh, kok."
Farra pun menyambut uluran tangan Zian tetapi hanya untuk membantu ia bangkit dari posisi duduknya kemudian Farra dan Zian pun melepaskan pegangan tangan mereka ketika mereka berjalan menuju mobil Pick Up milik lelaki itu.
"Ayo, Aksa! Mau ikut tidak?"
__ADS_1
Zian memanggil Aksa yang masih berlarian di halaman rumahnya dan setelah Aksa mendekat, ia pun segera mengajak bocah lelaki itu memasuki mobilnya.
"Kita mau jalan-jalan ya, Om?"
"Ya," sahut Zian.
Setelah Aksa dan Farra duduk manis di dalam mobilnya, Zian pun segera melajukan benda tersebut menuju sebuah kios yang paling besar dan terlengkap di desanya.
Orang-orang desa yang sama sekali belum pernah melihat keberadaan Farra dan Aksa mulai bertanya-tanya kepada Zian. Mereka penasaran karena selama beberapa tahun Zian tinggal di desa tersebut tak pernah sekalipun terlihat sanak saudaranya berkunjung.
"Siapa mereka, Zian? Saudaramu?" tanya salah satu dari mereka.
Zian tersenyum sambil berpikir. Tidak mungkin ia mengakui bahwa mereka bukan siapa-siapa, bisa-bisa ia dan Farra di grebek warga. Dengan terpaksa, Zian pun berbohong.
"Mereka adik sepupuku, Bu. Orang tua kami bersaudara. Sama sepertiku, merekapun mencoba mencari peruntungan di sini," sahut Zian.
Zian tersenyum kemudian memperhatikan Farra dan Aksa yang sedang berada di dalam kios tersebut. Kakak beradik itu masih asik memilih-milih barang keperluan untuk membuat kue. Dan ya, Zian pun mengakui bahwa Farra memang benar-benar cantik.
Setelah beberapa saat, Farra pun selesai berbelanja. Bukan hanya Farra, Zian pun mentraktir Aksa belanja sepuasnya di kios tersebut. Setelah puas berbelanja, merekapun segera kembali ke kediaman Zian.
"Farra," panggil Zian tanpa menoleh kepada gadis itu.
"Ya, Kak?" Farra menoleh dan memperhatikan wajah Zian yang masih fokus ke depan dengan seksama.
"Kalau ada yang bertanya kamu siapa, bilang saja kalau kamu adalah Adik sepupuku, ya," ucap Zian sambil melirik Farra.
__ADS_1
Farra terdiam sejenak kemudian mengangguk pelan. Ia tahu apa maksud Zian. Jika orang-orang desa tahu bahwa mereka tidak memiliki hubungan apapun, Farra bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelahnya.
"Baik, Kak. Aku mengerti," sahut Farra.
Zian tersenyum hangat kemudian kembali fokus pada mobilnya.
. . .
Pagi-pagi buta, Farra sudah terbangun dari tidurnya. Seperti dulu, ia akan mengeksekusi bahan-bahan tersebut agar kuenya bisa dijual besok pagi dalam keadaan hangat.
Cukup lama Farra bergelut di dapur milik Zian hingga setelah beberapa jam kemudian, pekerjaannya pun selesai. Setelah mempersiapkan semuanya, Farra pun ingin kembali ke kamar untuk menjenguk Aksa yang masih tertidur pulas.
Namun, ia mengurungkan niatnya menuju kamar dan malah melangkah menuju ruang depan, dimana Zian sedang tertidur nyenyak.
Farra menatap sedih kepada lelaki itu. Ia menghampiri Zian kemudian menyelimuti tubuhnya. Sekarang gadis itu berjongkok di hadapan Zian sambil menatap wajah tampan lelaki itu.
"Maafkan aku, Kak. Nanti jika aku sudah punya uang dan bisa menyewa rumah untuk aku dan Aksa, aku berjanji tidak akan menyusahkanmu lagi," gumam Farra.
"Tapi, aku tidak pernah merasa kalian menyusahkan aku, Farra."
Farra membulatkan matanya, ia tidak percaya ternyata Zian mendengar ucapannya. Farra bahkan hampir saja terjengkang karena terkejut. Namun, dengan cepat lelaki itu menahan tubuh Farra agar tidak terjengkang ke belakang.
"Maafkan aku, Kak. Karena aku sudah mengganggu tidurmu," ucap Farra panik.
Zian tersenyum kemudian menyentuh kedua pipi Farra dengan lembut. "Farra, aku ikhlas membantu kamu dan Aksa. Dan aku juga tidak pernah merasa direpotkan dengan kehadiran kalian di sini. Berjanjilah padaku bahwa kamu tidak akan mengatakan hal itu lagi," ucap Zain.
__ADS_1
"Ya, Kak ... aku berjanji."
...***...