
"Dimana pelayan baru itu?" tanya Vania kepada salah satu Pelayan yang sedang melayaninya.
"Pelayan baru? Maksud Nona, Farra?" sahut Pelayan itu sambil menautkan alisnya.
"Ya iyalah, siapa lagi?!" ketus Vania yang sedang bersandar di sandaran tempat tidur sambil memainkan ponselnya.
"Barusan saya lihat dia sedang membersihkan ruang tengah bersama dua orang pelayan lainnya, Non."
Vania terdiam sejenak kemudian memerintahkan pelayan itu untuk memanggil Farra.
"Panggil gadis itu dan suruh dia ke kamar ini! Gak pake lama," titah Vania.
"Ehm ... baik, Nona."
Pelayan itu bergegas keluar dari kamar tersebut dengan langkah cepat. Ia tahu bahwa majikannya itu paling tidak suka menunggu. Dan beruntung saat itu Farra memang masih berada di ruang tengah bersama dua orang pelayan lainnya untuk membersihkan ruangan tersebut.
"Eh, Farra. Nona Vania memerintahkan kamu untuk segera ke kamarnya. Sebaiknya cepat, kalau kamu tidak ingin dia marah," ucap Pelayan itu dengan wajah serius menatap Farra.
"Benarkah? Tapi, untuk apa Nona Vania memanggilku?" tanya Farra yang nampak kebingungan dan sejujurnya ia tidak ingin menemui wanita itu.
Pelayan itu rada kesal kepada Farra karena ia menganggap gadis itu terlalu banyak tanya. "Ih, kamu itu banyak tanya! Kataku cepat, ya cepat! Nona Vania itu tidak suka menunggu."
Mau tidak mau, Farra pun mengikuti pelayan itu menuju kamar utama, dimana Vania masih beristirahat di tempat yang nyaman tersebut.
"Masuklah," titah pelayan itu setelah ia membuka pintu kamar tersebut. Sedangkan Farra saat itu masih terbengong-bengong menatap pintu kamar yang megah itu
__ADS_1
Farra menghembuskan napas panjang sebelum ia memasuki ruangan tersebut. Entah mengapa perasaannya mulai tidak nyaman karena ia yakin bahwa Vania sama sekali tidak pernah menyukai kehadirannya.
Perlahan Farra masuk dan mata gadis itu langsung tertuju pada wanita cantik yang sedang duduk bersandar di sandaran tempat tidurnya. Benar saja, ekspresi wajah Vania langsung berubah saat melihat Farra memasuki kamarnya.
Rasa tidak suka Vania terlihat begitu jelas dari raut wajahnya. "Heh, kemarilah! Ada yang ingin aku bicarakan denganmu!" titah Vania sambil menunjuk ke arah Farra.
"Dan kamu, pergilah!" lanjut Vania yang memerintahkan pelayan yang tadi menjemput Farra untuk kembali ke pekerjaannya.
"Baik, Nona."
Pelayan itu pun segera pergi meninggalkan kamar utama, sedangkan Farra perlahan menghampiri Vania yang masih menatapnya dengan tajam.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya Farra.
"Heh, sekarang aku mau tanya padamu. Sebenarnya apa alasan kamu bersedia menikahi suamiku? Apakah karena Raja adalah lelaki tampan yang punya banyak uang atau ... kamu memang mengincar harta kekayaannya?"
Farra menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Bukan, Nona. Saya terpaksa menikah dengan Tuan Raja karena keadaan mendesak saya. Adik saya sakit dan saya butuh uang untuk biaya pengobatannya. Saat itu Tuan Raja datang kemudian menawarkan bantuannya tetapi dengan syarat, saya harus menikah dengannya."
"Dan kamu menerimanya begitu saja! Kalau hanya sekedar masalah uang pengobatan, kamu 'kan masih bisa meminjam ke Bank atau meminta batuan kepada tetanggamu!" ketus Vania dengan wajah kesal menatap Farra.
"Saya tidak punya pilihan, Nona. Lagipula, siapa yang sudi meminjamkan uang sebanyak itu kepada saya yang hanya seorang penjual kue? Demi Tuhan, saya tidak berniat menjadi orang ketiga di kehidupan kalian, Nona Vania. Saya bahkan baru tahu bahwa Tuan Raja sudah punya istri sehari setelah hari pernikahan kami," lirih Farra dengan kepala tertunduk, merenungi nasib malangnya.
"Kamu memang pintar bersandiwara, Farra. Kamu bilang terpaksa karena keadaan, lalu apa alasanmu saat menerima lamaran Tuan Hendrik?" Vania tersenyum sinis. "Kamu memang seorang wanita yang tidak tahu malu! Setelah gagal menikah dengan Tuan Hendrik, sekarang kamu malah menerima lamaran anaknya. Menjijikkan!
Farra menelan salivanya dengan susah payah setelah mendengar penuturan Vania. Ia tidak menyangka bahwa firasatnya benar. Raja adalah anak laki-laki dari Tuan Hendrik.
__ADS_1
"Jadi, Tuan Hendrik adalah ayah dari Tuan Raja?" pekik Farra.
"Ya Tuhan, aktingnya bagus sekali!" sahut Vania sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak usah berpura-pura tidak tahu, Farra! Coba kamu lihat foto itu!"
Vania menunjuk ke sebuah foto berukuran besar yang tergantung di dinding kamarnya. Foto pernikahannya dengan Raja dan di sisi kiri dan kanannya ada foto Tuan Hendrik bersama sang istri, Nyonya Jayda Almira.
Seketika tubuh Farra panas dingin setelah melihat foto tersebut dan sekarang muncul seribu pertanyaan di kepalanya, mengapa Tuan Raja menikahinya. Farra yakin, jika Vania saja tahu tentang rencana pernikahannya yang gagal bersama Tuan Hendrik, apalagi Raja.
"Sudahlah, Farra. Berhentilah berlagak sok polos seperti itu. Raja bahkan sudah tahu apa yang ada di dalam otakmu. Hanya uang dan harta kekayaan. Apa kamu tahu apa alasan Raja menikahimu?"
Farra menggelengkan kepalanya sambil terus menatap wanita itu.
"Dia hanya ingin membalaskan dendamnya kepadamu. Karena kamu, ia harus kehilangan kedua orang tuanya dalam sekejap mata dan karena kamu pula lah, kebahagian keluarganya hancur berantakan. Jadi, aku ingatkan kepadamu. Sebaiknya jangan pernah berharap lebih kepada Raja karena yang ia ingin lihat darimu adalah kesengsaraanmu, Farra!"
"Ta-tapi ... demi Tuhan, Nona Vania. Saat itu saya dipaksa menerima lamaran Tuan Hendrik. Padahal saya sendiri tidak ingin menikah dengannya karena saya tahu Tuan Hendrik masih memiliki istri."
"Halah, sudahlah! Simpan alasan itu untuk dirimu sendiri. Tidak akan ada yang percaya dengan ucapanmu, apalagi Raja!" ketus Vania.
"Sekarang pergilah! Aku mau muntah melihat wajahmu yang sok polos itu!" sambung Vania sambil mengibas-ngibaskan tangannya kepada Farra.
"Baik, Nona."
Farra melangkah gontai keluar dari kamar tersebut dengan kepala tertunduk. Ia tidak menyangka bahwa kisah hidupnya akan menjadi serumit ini.
...***...
__ADS_1