
"Hanya saja saya tidak bisa bekerja lebih lama lagi bersama Anda, Tuan Raja. Saya merasa bersalah karena selama ini saya hanya diam di saat Farra diperlakukan semena-mena di rumah ini. Padahal sebenarnya Farra tidak pernah melakukan kesalahan seperti yang Anda tuduhkan kepadanya."
Raja memijit pelipisnya. Ia tidak menyangka ternyata pengunduran diri yang dilakukan oleh orang kepercayaannya itu hanya gara-gara Farra. Gadis kampung yang sudah membuat kedua orang tuanya meninggal dunia secara tragis di hari yang sama pula.
"Ternyata ini semua hanya gara-gara Farra?" Raja menatap Ivan penuh selidik. "Apa kamu mencintai gadis itu, Ivan?" lanjutnya.
Ivan menggelengkan kepalanya pelan.
"Tuan Raja, bisakah Anda membuka mata hati Anda sedikit saja dan lihatlah kebenarannya. Anda salah jika selama ini menganggap Farra sebagai wanita penggoda. Wanita yang sudah menggoda mendiang Tuan Hendrik hanya untuk sebuah materi."
Raja memasang wajah malas. "Lalu?"
"Maafkan saya, jika perkataan saya kali ini menyinggung perasaan Anda, Tuan Raja. Namun, apa yang saya katakan kali ini adalah kebenaran yang harus Anda ketahui. Sebenarnya, mendiang Tuan Hendrik lah yang selama ini tergila-gila pada kepolosan Farra, Tuan Hendrik bahkan memaksa Nyonya Nurmala untuk menikahkannya dengan gadis itu. Farra tidak kuasa untuk menolak, sama seperti ketika Anda melamarnya. Adik kecilnya lah yang selalu menjadi senjata andalan Nyonya Nurmala untuk membungkam gadis itu hingga ia tidak kuasa untuk menolak perjodohan itu," tutur Ivan dengan raut wajah penuh penyesalan.
"Saya sangat menyesal, Tuan. Kenapa saya hanya diam padahal saya bisa saja membatu Farra keluar dari kesengsaraannya selama ini," lanjut Ivan dengan mata berkaca-kaca.
Raja bangkit dari tempat tidur kemudian menghampiri Ivan dengan tergopoh-gopoh. Wajahnya memerah, ia sangat marah karena Ivan sudah berani menjelek-jelekkan mendiang Ayahnya.
"Apa kamu bilang, hah?! Ayahku lah yang selama ini menggoda gadis itu?! Aku rasa kamu lah yang harusnya membuka mata hatimu agar kamu tidak tertipu dengan wajah polos gadis itu! Karena jika kamu sudah masuk perangkapnya, maka kamu tidak akan pernah bisa keluar!" kesal Raja seraya mencengkeram kerah kemeja yang sedang dikenakan oleh Ivan.
Ivan kembali menggelengkan kepala. Ia sudah berusaha mengatakan yang sebenarnya kepada Raja, akan tetapi lelaki itu tetap teguh pada keyakinannya bahwa selama ini Farra adalah seorang wanita penggoda.
__ADS_1
"Sekarang pergi dari sini! Aku sudah tidak ingin melihat wajahmu lagi, Ivan. Apa kamu kira aku tidak bisa mendapatkan seseorang sepertimu?! Hilang satu tumbuh seribu, Ivan! Sekarang pergi dan jangan pernah perlihatkan wajahmu itu di hadapanku lagi!"
Raja melepaskan cengkeramannya kemudian menunjuk ke arah pintu kamar.
"Pergi!" titahnya.
Ivan membungkuk hormat kepada Tuan Raja sebelum ia benar-benar pergi dari kamar itu.
"Terima kasih, Tuan Raja."
Ivan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu tanpa menoleh sedikitpun kepada Raja yang masih menatap kepergiannya.
Ivan sempat terkejut ketika melihat Vania berdiri di samping pintu kamar tersebut sambil menguping pembicaraannya bersama Tuan Raja. Vania tersenyum sinis sambil melambaikan tangannya kepada Ivan.
Ivan membalas senyuman wanita itu kemudian membungkuk hormat. "Bye, Nona Vania."
Setelah Ivan menghilang dari pandangannya, Vania bergegas masuk dan mencoba menghibur Raja yang masih kesal.
"Sayang, tenanglah!" Vania memeluk Raja dari samping sambil mengelus punggung lelaki itu.
"Aku kesal, Vania! Orang yang paling aku percaya, ternyata tega meninggalkan aku hanya untuk membela Farra! Memangnya dia siapa! Aku yakin tidak lama lagi Ivan pasti akan kembali dan mengemis-ngemis meminta pekerjaannya. Namun, di saat itu terjadi, aku pastikan aku sudah memiliki pengganti dirinya. Biarkan ia menyesal karena sudah melepaskan pekerjaannya hanya untuk membela gadis itu. Sialan!" umpat Raja.
__ADS_1
"Sudah, sudah! Ingat, kamu sedang sakit, Sayang," ucap Vania mencoba menenangkan Raja yang benar-benar sedang marah.
Raja bahkan tidak menyadari bahwa saat itu kepalanya makin sakit karena Vania menempel di tubuhnya seperti cicak. Setelah menyadari hal itu, Raja melepaskan pelukan Vania kemudian menghindar.
"Ya, kamu benar."
Raja kembali ke tempat tidur dan bersandar di sana. Sedangkan Vania terdiam di tempatnya berdiri dengan wajah menekuk sempurna karena Raja kembali menolaknya.
"Sampai kapan kamu akan menghindariku seperti ini, Raja? Jika kamu terus-terusan menolakku, jadi untuk apa kamu memilih mempertahankan aku? Kenapa tidak sekalian saja kamu pilih wanita itu," kesal Vania yang kemudian pergi meninggalkan Raja.
Raja tersenyum sinis kemudian melemparkan bantalnya ke lantai. "Bagus, Tuhan! Terus saja, buat semua orang pergi meninggalkan aku! Biar aku sendirian disini," umpatnya dengan wajah kesal.
Sementara itu.
Ivan yang kini sedang melajukan mobilnya berniat mencari keberadaan Farra. Ia menelusuri jalan dari kediaman Nurmala baru-baru ini sambil memperhatikan sekelilingnya.
Lumayan jauh dari tempat itu, akhirnya ia menemukan Nurmala yang sedang duduk di bawah pohon. Wanita paruh baya itu nampak kelelahan dan ia melepaskan penatnya dengan bernaung di sana.
Ivan menghentikan mobilnya tak jauh dari tempat Nurmala duduk. Sedangkan wanita itu memperhatikan mobil yang berhenti di hadapannya dengan seksama. Setelah mengetahui siapa pemilik mobil itu, Nurmala pun berdecih sambil membuang muka.
"Heh, kamu! Ternyata kamu belum puas melihat kesengsaraanku," umpat Nurmala dengan kasar.
__ADS_1
...***...