
"Apa? A-apa maksudmu, Vania?" tanya Raja bingung.
Bukan hanya Raja, tetapi semua orang yang ada di ruangan itupun merasa heran. Mereka memperhatikan Vania yang sedang menangis lirih tanpa berkata sepatah katapun.
Vania meraih sebuah kursi dan duduk disana sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. Melihat hal itu, Raja memerintahkan kepada seluruh pelayan yang masih berada di ruangan itu untuk segera keluar.
Para pelayan berbondong-bondong meninggalkan ruangan itu dan setelah para pelayan itu pergi, Raja meraih sebuah kursi dan duduk di samping Vania yang masih terisak. Ia mengelus punggung wanita itu dengan lembut dan ia berharap Vania bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Sebenarnya ada apa, Vania? Bukankah kamu sedang hamil? Buktinya kemarin kamu pergi ke tempat praktek Dokter Kandungan, 'kan?" tanya Raja dengan lembut agar Vania tidak tersinggung.
Vania mengangkat kepalanya dengan air mata yang masih bercucuran di kedua pipinya. Ia menatap Raja dengan tatapan sendu sekaligus cemas.
"Raja, sebenarnya kamu sudah salah paham. Hari itu aku memang pergi ke tempat praktek Dokter Kandungan, tetapi bukan berarti aku sedang hamil. Tania mengajakku ke tempat itu untuk memeriksakan kondisiku yang saatini sedang tidak baik. Saat ini aku sedang sakit, Raja! Dan bukannya sedang hamil," tutur Vania di sela isak tangisnya.
"Kamu sakit?!" pekik Raja. "Vania, katakan padaku, kamu sakit apa dan jangan katakan bahwa sakitmu parah. Aku tidak ingin itu, Vania!" lanjut Raja cemas. Ia meraih tangan Vania dan menatap wanita itu lekat.
Perlahan Vania menganggukkan kepalanya. "Ya, Raja. Aku sedang sakit dan kata Dokter aku harus segera di operasi karena ada kista di rahimku. Itulah sebabnya kenapa aku tidak bisa melayanimu dengan baik. Setiap kali kamu menyentuhku, aku selalu merasa kesakitan," sahut Vania seraya menyeka air matanya.
Raja mengusap wajahnya dengan kasar. "Kenapa kamu tidak berkata jujur padaku, Vania. Seandainya aku tahu bahwa kamu sedang sakit, mungkin aku tidak akan memaksakan kehendakku dan kita bisa mencari jalan keluarnya bersama-sama."
__ADS_1
"Aku takut, Raja! Aku bahkan baru sekarang berani memeriksakannya. Dan kata Dokter sudah terlambat dan aku harus segera di operasi," lanjut Vania.
Raja menghembuskan napas berat kemudian mengelus kedua pipi Vania dengan lembut. "Tenang saja, Vania sayang. Percayalah padaku bahwa kamu akan baik-baik saja."
Raja meraih tubuh Vania kemudian memeluknya dengan erat. Beberapa kali lelaki itu melabuhkan ciuman hangatnya di puncak kepala Vania.
"Aku tidak sedang baik-baik saja, Raja. Kamu belum tahu apa yang akan di ambil Dokter dari tubuhku. Rahimku, Raja," batin Vania yang masih terisak di pelukan lelaki itu.
"Ya, sudah. Karena para pelayan sudah terlanjur memasak banyak untuk hari ini, sebaiknya kita nikmati saja hidangannya dan kita bagi-bagikan kepada seluruh penghuni di rumah ini."
Raja kembali memanggil para pelayannya kemudian membagikan hidangan yang sudah terlanjur di masak dengan porsi banyak itu kepada seluruh penghuni rumah megah tersebut, termasuk Farra.
Bu Eni mengetuk pintu kamar Farra kemudian menyerahkan makanan itu kepadanya.
"Ini bagian kamu, Nak. Ambillah, bukankah hari ini kamu ingin menemui adikmu? Bawakan saja makanan itu sebagai oleh-oleh," ucap Bu Eni dengan senyum semringah.
Farra pun tidak kalah senang ketika menyambutnya. "Terima kasih, Bu. Aksa pasti sangat senang," sahut Farra.
"Eh, kamu tahu tidak? Ternyata Nona Vania tidak hamil, itu semua hanya salah paham saja," ucap Bu Eni sambil terkekeh pelan. Apalagi ketika ia ingat bagaimana ekspresi wajah Raja saat mendengar bahwa wanita itu tidak hamil.
__ADS_1
"Loh, kenapa bisa seperti itu?" Farra menautkan kedua alisnya heran.
"Hmm, entahlah. Mungkin karena Tuan Raja sudah tidak sabaran ingin punya anak, makanya dia berharap Nona Vania segera hamil, padahal sebenarnya tidak," sahut Bu Eni sambil tertawa pelan.
"Ehm, ya sudah. Ibu harus kembali, pekerjaan Ibu masih banyak," lanjut Bu Eni sembari menepuk pundak Farra dengan lambut kemudian melenggang pergi meninggalkan Farra di sana.
"Baik, Bu."
Setelah Bu Eni pamit dan kembali ke tempatnya, Farra bersiap-siap menuju halaman depan di mana sopir suruhan Tuan Raja sudah menunggunya.
Setibanya di halaman depan, Farra menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sosok sopir yang akan mengantarkannya ke tempat tinggal baru Tante Nurmala dan Aksa.
Tidak berselang lama, seorang laki-laki paruh baya menghampirinya sambil tersenyum hangat.
"Nak Farra, 'kan? Bapak ditugaskan oleh Tuan Raja untuk mengantarkanmu. Masuklah," ucap lelaki itu seraya membukakan pintu mobilnya.
"Terima kasih, Pak."
Farra masuk ke dalam mobil tersebut dan sopir itupun segera melajukan mobilnya menuju tempat tinggal baru tante dan adiknya.
__ADS_1
...***...