
Baru saja Zian berniat mengangkat tubuh Farra, tiba-tiba saja handuk yang tadi menutupi tubuh polosnya melorot dan hampir saja memperlihatkan kemolekan tubuhnya di hadapan Zian. Seketika wajah Zian memerah. Ia jadi grogi dan serba salah.
Zian meraih sebuah selimut dan menutupi tubuh polos Farra dengan benda tersebut kemudian mengangkatnya ke atas tempat tidur. Setelah itu ia pun segera berlari keluar rumah dan meminta salah satu tetangga samping rumah untuk membantu Farra mengenakan pakaiannya.
"Ini pakaiannya, Bu," ucap Zian seraya menyerahkan pakaian milik Farra kepada wanita itu.
Wanita itupun segera menyambutnya kemudian melangkah menuju kamar, di mana Farra masih tergolek di atas tempat tidurnya. Setelah selesai membantu Farra mengenakan pakaian, ia pun kembali menemui Zian.
"Zian, adikmu sudah selesai berpakaian. Sebaiknya cepat, bawa dia ke Puskesmas Desa," ucap wanita itu kepada Zian.
"Baiklah, terima kasih banyak, Bu."
"Ya."
Singkat cerita, akhirnya Zian tiba di depan Puskesmas Desa yang jaraknya lumayan jauh dari kediaman lelaki itu. Ia bergegas mengangkat tubuh Farra dan membawanya masuk ke dalam Puskesmas tersebut.
Seorang Dokter yang bertugas di tempat itu segera menyambut kedatangan Zian dan menuntunnya menuju sebuah kamar di mana terdapat tempat tidur pasien untuk meletakkan tubuh Farra yang masih belum sadarkan diri.
"Tuan tunggu di luar saja, biar saya periksa keadaannya," ucap Dokter itu kepada Zian.
"Baik, Dok."
Zian pun duduk di sebuah kursi yang ada di luar ruangan tersebut bersama Aksa yang masih nampak cemas.
"Kakak baik-baik saja 'kan, Om?" tanya Aksa dengan mata berkaca-kaca menatap Zian yang terdiam sejak tadi.
__ADS_1
Zian menoleh kepada bocah itu sembari melemparkan senyumannya. "Ya, Aksa. Percayalah, Kakakmu pasti baik-baik saja."
"Aksa takut. Aksa tidak ingin kehilangan Kak Farra lagi, Om," lirih Aksa.
Zian memeluk bocah itu sambil mengelus puncak kepalanya dengan lembut. "Percayalah sama, Om. Kak Farra-mu baik-baik saja. Oh ya, kamu tidak apa-apa 'kan, Aksa? Lelaki tua itu tidak menyakitimu, 'kan?"
Zian melerai pelukannya kemudian mengecek tubuh bocah kecil itu dengan seksama. Karena terlalu mencemaskan keadaan Farra, ia sampai lupa dengan keadaan bocah tampan itu.
"Apa ini, Aksa? Apa ini sakit?" Zian menemukan luka lebam di tubuh Aksa yang terlihat membiru.
Aksa menganggukkan kepalanya pelan. "Ya, tapi Aksa kuat kok, Om. Demi Kak Farra apapun akan Aksa lakukan," jawab bocah itu.
Zian terdiam sambil menatap sedih kepada bocah yang baru berusia 5 tahun itu. Walaupun usianya masih sangat muda, tetapi ia sudah tahu bagaimana caranya berkorban untuk Kakak yang sangat ia sayangi.
"Om bangga padamu, Aksa."
"Sus, tolong obati luka anak ini," ucap Zian seraya memperlihatkan luka lebam di tubuh Aksa.
Setelah mengecek luka lebam di tubuh Aksa, Perawat itu segera melakukan tugasnya dan setelah selesai mengobati luka Aksa, ia juga memberikan obat untuk Aksa konsumsi biar luka bocah itu cepat sembuh.
"Terima kasih, Sus."
Tepat di saat itu, Dokter yang memeriksa kondisi Farra keluar dan menghampiri Zian.
"Tuan suaminya pasien?" tanya Dokter itu.
__ADS_1
"Bukan, Dok. Dia adalah adik sepupu saya," sahut Zian.
Dari ekspresi Dokter saat itu, Zian merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada Farra saat ini.
"Memangnya dia kenapa, Dok? Dia baik-baik saja, 'kan?" tanya Zian yang mulai cemas.
"Begini, Tuan ... saat ini kondisi Adik sepupu Anda sangat lemah. Sepertinya ia baru saja mengalami benturan yang cukup keras pada kandungannya dan hal itu menyebabkan kondisi Adik Anda berserta bayi dalam kandungannya melemah. Saya sarankan, sebaiknya bawa dia ke Rumah Sakit karena peralatan medis di tempat ini masih sangat terbatas."
Deg!
Zian terkejut bukan main setelah mendengar penuturan dari Dokter tersebut yang mengatakan bahwa saat ini Farra tengah mengandung.
"Ja-jadi ... dia sedang mengandung, Dok?" tanya Zian dengan terbata-bata.
"Ya, saya kira Anda sudah tahu tentang itu," sahut Dokter.
"Sa-saya baru mengetahuinya sekarang."
"Sebaiknya cepat, Tuan. Takutnya, kondisi Adik Anda semakin melemah," sambung Dokter itu.
"Baiklah, Dok!"
Dengan di bantu warga, Zian membawa Farra menuju sebuah Rumah Sakit. Sedangkan Pak Anton sudah diserahkan kepada pihak yang berwajib sebagai tersangka kasus percobaan pemerkosaan.
Beruntung Farra masih bisa bertahan, padahal perjalanan dari desa menuju Rumah Sakit tersebut lumayan jauh. Dengan wajah panik, Zian membopong tubuh Farra dan segera disambut oleh tenaga medis yang bertugas di tempat itu.
__ADS_1
Zian sedikit lebih tenang setelah Farra ditangani oleh para tim medis yang lebih berpengalaman. Sambil menunggu kabar dari Dokter yang sedang menangani Farra, Zian mencoba menghubungi Ivan dan memberitahukan bagaimana kabar Farra saat ini.
...***...