
Begitu acara resepsi selesai kedua pengantin baru bergegas ke kamar. Mata Senja berbinar begitu membuka kamar hotel yang sudah dihias dengan sedemikian rupa. Banyak bunga mawar, lilin dan juga aroma terapi yang membuat ia merasa tenang dan nyaman.
Reaksi berbeda ditunjukkan oleh Leo, pria itu yang sudah sejak tadi menahan sakit di kepalanya seketika merobohkan diri di kasur itu dan merusak hiasan bunga mawar yang tersusun rapi di atas tempat tidur.
"Mas kamu merusak rangkaian mawar bentuk hati itu, agak pinggiran tidurnya." Tangan Senja medorong-dorong tubuh Leo agar sedikit ke pinggir.
"Astaga, Sayang. Hiasan ini tidak akan berguna, toh kita juga akan tidur di sini, kan? Kamu mau tidur di sofa atau mau di atas karpet atau di kamar mandi dan kamu membiarkan hiasan ini tertata rapi begitu. Ini biasa terjadi di pernikahan, kalau kita menikah di hotel pasti di kamarnya akan di hias seperti ini dan bukan berarti kita tidak boleh merusaknya."
"Iya aku tahu, tapi bukan berarti kita merusaknya. Ini terlalu cantik. Lagian Kamu kenapa, sih langsung selonjoran di kasur? Ke kamar mandi kek, bersih-bersih," protes Senja membuka koper berisi pakainya.
"Kepalaku pusing, Sayang. Aku terlalu bahagia," jawab Leo masih dengan posisi yang sama seraya memejamkan mata.
"Ya udah aku kamar mandi dulu, nanti aku pijat kepalanya."
Sudah lima belas menit Senja berada di kamar mandi tak kunjung keluar. Ia begitu malu dengan apa yang ia kenakan. Padahal sebelum pernikahan ini terjadi, Senja begitu yakin dan mantap akan memakai pakaian ini di malam pertamanya. Tapi, begitu ia mengaplikasikannya di malam pengantinnya, ia malu dan tak punya nyali hanya untuk sekedar menampakkan diri di depan Leo.
Baju tidur yang Senja kenakan sebenarnya tidak terlalu tipis, tapi ukurannya ternyata terlalu pendek di tubuhnya.
"Astaga kenapa aku memilih baju tidur sependek ini? Aku pikir dia akan menutupi sepanjang pahaku, tapi kenyataannya setengah." Senja bergumam seraya menundukkan kepala melihat kaki bagian atasnya yang terpampang nyata seakan menantang Leo untuk diajaknya bergulat.
"Sayang, buruan keluar ih. Katanya mau pijit," teriak Leo dari atas tempat tidur.
"Aduh gimana ini? Aku takut kalau diketawain." Senja semakin bingung.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Senja membuka pintu kamar mandi sedikit hanya untuk mencari celah untuk melihat Leo sedang berbuat apa.
Melihat Leo yang tengkurap dengan pakaian tidurnya membuat Senja sedikit ada nyali untuk keluar dari kamar mandi, ia berharap Leo sudah tertidur.
Dengan berjingkat-jingkat ia keluar kamar mandi. Dengan harapan langkahnya tak sampai di indra pendengaran Leo. Satu langkah, dua langkah, aman. Hingga langkah ke tiga, tiba-tiba saja Leo yang semula mengahadap jendela merubah posisi kepalanya menjadi menghadap Senja.
Wanita itu terkejut, dengan gerakan cepat kedua tangannya ia gunakan untuk menutupi kaki bagian atas agar tak terbuka dengan gamblang. Namun, usahanya nampak sia-sia karena bagian itu tetap saja terekspos dengan jelas di mata Leo.
"Ngapain kamu begitu? Ayo sini, pijit kepala aku," ujar Leo menahan tawa melihat kelakuan istrinya.
Senja masih tak beranjak.
"Kamu kalau malu ngapain pakai baju begituan? Lagian kenapa harus malu? Aku ini suamimu. Kamu mau ngapain aja di depan aku juga nggak dosa, Sayang. Udah sini duduk! Nggak usah malu gitu, janji aku nggak akan ketawa. Sini." Leo menggeser posisi tengkurapnya sedikit ke tengah ranjang.
Senja dengan pelan dan ragu memajukan langkahnya ke tempat tidur. Mendudukkan diri di sebelah suaminya. Jantungnya serasa hendak terlompat dari tempatnya saking gugupnya.
"Pijit!" titah Leo melingkarkan tangannya di sepanjang pinggang wanita mungil itu.
Senja memaksakan diri untuk bersikap biasa saja. Dengan pelan ia memijat kepala Leo. Satu menit, dua menit, semuanya berjalan lancar hingga menit ketiga berubah menjadi mencekam bagi Senja.
Bagaimana tidak? Pria itu mengecup singkat seluruh perut wanita itu. Mengecupnya dengan lembut dan sesekali memberikan gigitan kecil di sana.
Kecupan Leo semakin naik dan tibalah ia di undakan yang delapan tahun lalu pernah ia lewati dengan ganas. Di saat Leo sedah menciptakan karya di sana, Senja mulai memejam mata. Ada sesuatu yang berdesir di tubuhnya. Ia tak bisa menjelaskan adrenalin apa yang sedang ia rasakan.
__ADS_1
Semakin lama cengkraman tangan di rambut Leo semakin erat, hal itu terjadi karena aksi Leo yang semakin membuat Senja terbang entah ke mana. Memberi sesapan di puncak undukan lemak kembar Senja dan mencengkramnya dengan lembut. Leo sengaja berlama-lama di sana karena lemak Senja benar-benar membuatnya bernafsu dan tak tega meninggalkan benda kenyal itu.
"Mmmhhh. Mas," desis Senja tak tahan.
Rintihan yang terdengar semakin intens dan panjang membuat Leo beranjak dari berbaringnya. Ia terduduk dan menyambar bibir Senja. Tangannya menangkup kedua sisi pipi wanita itu agar kepalanya tak bergerak ke mana-mana.
Di bawah lampu hotel yang sebelumnya sudah diubah redup oleh Leo, sepasang suami istri itu berdecak-decak membelah sunyinya malam. Menembus malam yang semakin gelap dan semakin dingin.
Cukup lama mereka bergulat dalam lidah. Entah sejak kapan pakaian yang tadinya begitu menyulitkan Senja kini malah tergeletak di lantai beserta kawan-kawannya. Posisi yang semula duduk pun kini sudah saling tindih.
Peliharaan Leo kini sudah siap untuk menjelajah gua yang harusnya sudah lama ia jajah. Dengan perlahan ia menuntun dan mengajarkan peliharaannya itu untuk masuk ke dalam gua. Maklum, sudah lebih dari enam tahun peliharaan Leo tidak berpetualang ke gua manapun kecuali tangan Leo sendiri.
Pelan namun pasti Leo mendorong peliharaannya itu untuk lebih masuk agar bisa melihat dan merasakan keindahan di dalam sana. Meskipun ia yakin mungkin saja di sana gelap, tapi bukankah berendam di sana begitu nikmat?
Blush
Akhirnya seluruh peliharaan Leo bisa masuk seluruhnya. Ia mulai memanjakan Senja dan peliharaannya itu dengan menarik turunkan tubuhnya.
Senja mengerang begitu Leo kembali mendaki bukit kembar miliknya. Tangannya kembali mencengkram rambut lurus Leo dengan erat seiring sesapan yang juga terasa membawanya ke puncak surga.
"Mas," lirih Senja dengan manja.
"Gantian, ya," ujar Leo di tengah usahanya memanjakan istrinya.
__ADS_1
Senja hanya mengangguk. Beberapa detik kemudian, posisi mereka sudah bertukar. Leo begitu menikmati apa yang di suguhkan istrinya. Ranjang bergetar adalah saksi bisu kedua manusia yang beradu dengan peluh dengan nikmat yang begitu membuat keduanya lupa daratan.
"Lebih cepat Sayang!"