Senja Dan Derita

Senja Dan Derita
81. Bicara Dari Hati Ke Hati


__ADS_3

"Hahaha nggak mau, geli, Alan tolong aku." Terdengar gelak tawa Alana yang menggema di ruang tamu. Kesenangan Alan pun terdengar dari tawanya.


Senja hanya melihat mereka dari tengah-tengah tangga. Jujur saja hatinya sedikit menghangat melihat pemandangan yang begitu menyejukkan hatinya. Senja akui kedua anaknya jarang tertawa begitu lepas apalagi Alan. Anak kecil itu sangat jarang tertawa, jangankan tertawa untuk mengulum senyumnya pada orang lain ia terlihat sangat susah.


Dari sudut lain, Manda pun tercengang melihat kedekatan mereka bertiga. Melihat keindahan yang jarang ia lihat, membuat Manda berpikir apakah benar yang dikatakan Senja? Benarkah Leo sudah mengubah dirinya menjadi lebih baik?


"Cape Om, ketawa mulu." Alana merebahkan dirinya di dada bidang Leo.


Nampaknya gadis kecil itu nyaman berada dalam dekapan sang ayah. Entah berapa kali anak itu terlihat bergelantungan di badan Leo.


"Cape, ya? Ya udah istirahat dulu." Leo mendekap tubuh Alana yang memiliki badan sama seperti Senja, sedikit berisi, namun memiliki tinggi yang tidak seberapa.


"Alana ngggak sopan begitu, bangun!"


"Nggak apa-apa, kita, kan teman. Sini kamu juga boleh rebahan di sini kalau mau. Nggak usah malu-malu, kita bukan orang lain."


Merasa terlalu lama menunggu, Leo menarik kepala Alan untuk ia letakkan di pangkuannya. Tak ada perlawanan dari anak itu, ia nampak diam saja. Mungkin nyaman, batin Leo tersenyum kecil.


Jari jemari Leo dengan lembut mengusap kepala keduanya. Leo mengatupkan mulut menahan tangis harunya. Entahlah, ia tak tahu apa yang ia rasakan saat ini. Hanya satu yang pasti, ia hanya ingin menangis seraya memeluk kedua anaknya.


Tanpa sadar Leo mengecup lama puncak kepala Alana. Gadis cilik itu dengan nyamannya tertidur di dekapan pria yang tak ia ketahui statusnya. Leo masih belum mau berhenti untuk mengusap kepala kedua anaknya, ekor matanya melirik perjaka ciliknya. Lagi-lagi ia mengulim senyum, bagaimana tidak? Anak itupun juga tertidur di pangkuannya.


"Dasar, tadi sok jual mahal, nyaman juga, kan?" Leo menggeleng-gelengkan kepalanya.


Beberapa saat kemudian, Senja melanjutkan langkahnya yang terhenti sedikit lama. Langkahnya masih tertatih, namun ia tetap memaksa untuk berjalan menghampiri Leo dan anak-anaknya.

__ADS_1


"Mereka tidur, ya? Biar aku bawa ke kamarnya." Senja membungkuk hendak meraih Alana. Namun dengan cepat Leo mencekal tangannya.


"Kamarnya di mana?"


"Atas."


"Kalau kaki kamu sehat nggak apa-apa kamu bawa mereka. Kaki kamu lagi terkilir begitu, bawa diri sendiri aja kesusahan. Aku aja yang bawa. Pindahin kepala Alan dulu."


"Tapi..."


"Aku punya hak atas mereka. Pindahin sekarang! Jangan ngajak debat dulu, ntar mereka kebangun."


Seakan dihipnotis oleh ucapan Leo, Senja dengan segera memindahkan kepala Alan ke sofa. Setelah itu Leo membawa Alana dalam gendongannya. Senja hanya mengamati dari belakang.


Tidak membutuhkan waktu lama bagi Leo untuk mengembalikan mereka ke kamar. Setelah dirasa mereka benar-benar tidur nyenyak, Leo kembali menghampiri Senja yang sedang duduk diam dengan televisi yang menyala. Lalu mendudukkan dirinya di sebelah Senja.


Leo menyeruput sedikit lalu meletakkan kembali ke atas meja. Sebenarnya ia ingin menanyakan banyak hal pada wanita itu, tapi melihat kondisinya yang sedang tidak baik-baik saja membuat pria itu urung menanyakan hal-hal yang terjadi selama delapan tahun terakhir.


"Biar aku yang obati."


Leo merebut salep di tangan Senja dan mengambil pergelangan kaki Senja yang nampak merah dan membengkak. Ia letakkan dengan lembut kaki Senja ke dalam pangkuannya. Mengoleskan salep dengan lembut dan merata ke bagian mana saja yang nampak memar.


Sementara yang di obati hanya menatap pria di depannya dengan lekat. Ia baru sadar kalau Leo nampak lebih tampan dari delapan tahun yang lalu. Wajahnya masih terlihat mudah meski usianya hampir kepala empat.


"Kakinya bengkak banget, jangan banyak jalan. Nanti nggak kempes-kempes. Mana merah banget lagi. Kita bawa ke rumah sakit aja gimana? Apa aku panggilkan tukang urut? Takutnya nanti kena tulangnya."

__ADS_1


"Nggak, besok aja biar di urut sama Bibi. Sekarang Bibi udah istirahat, udah nggak ada kerjaan. Hanya keseleo saja, kenapa harus berlebihan?"


"Bukan berlebihan, aku hanya khawatir. Semua hal besar terjadi di mulai karena hal kecil. Besok kalau udah di urut tapi nggak kempes juga di bawa ke rumah sakit, ya."


"Iya. Kamu nggak pulang?"


"Ngusir aku?"


"Nggak ngusir, tapi kamu keluar rumah, kan niatnya ada urusan."


"Nggak terlalu penting," jawab Leo singkat dengan tangan yang masih memijat pelan kaki Senja.


"Kamu marah sama aku? Aku minta maaf sudah buat kamu marah. Aku akui aku salah."


"Aku nggak marah, tapi aku kecewa. Aku pengen banget marah sama kamu, tapi nggak tahu kenapa aku nggak bisa melakukannya. Aku kecewa, kenapa kamu melakukan ini, Senja?" Akhirnya pertanyaan itu meluncur juga dari mulut Leo. Pertanyaan yang sejak tadi ia tahan. Sebenarnya ia tidak mau membahas sekarang, tapi Senja malah membuka obrolan ke arah sana.


"Aku minta maaf Leo. Aku hanya tidak ingin dipisahkan dari anak-anakku. Mendengar ucapanmu yang selalu ingin memisahkan aku dan tidak mengizinkan aku untuk bertemu dengan anak-anak membuat aku melakukan kejahatan ini. Sebenarnya aku juga nggak mau nipu kamu kayak gini, tapi aku juga nggak mau kalau aku dibodohi Leo. Tidak ada seorang ibu yang ingin dipisahkan selamanya dari anaknya. Minimal aku bisa ketemu sama mereka, mungkin aku akan rela memberikannya padamu. Tapi jika dipisahkan selamanya mana mungkin aku bisa. Kamu pun kalau nggak aku izinkan ketemu sama Alan dan anak-anak juga akan melakukan hal yang sama. Akan melakukan apapun supaya kamu bisa ketemu sama mereka."


"Terus kenapa kamu gak jujur sama aku waktu pertama kali kita ketemu? Kalau aku nggak ketemu sama Alan dan Alana, apakah selamanya rahasia ini akan kamu sembunyikan? Selamanya Aku nggak akan pernah tahu kalau mereka anak-anakku? Seburuk itu aku di matamu, Senja?"


Senja berkaca-kaca mendengar ucapan Leo yang begitu menyakitkan hatinya. Entah kenapa ia merasa nelangsa sama mendengar kata-kata Leo barusan. Ia tidak mau dipisahkan dari anak-anaknya, tapi justru ia melakukan hal yang sama sekali tidak ia inginkan, iya dirinya mengakui salah dalam hal ini.


"Sungguh aku nggak bermaksud begitu, Leo. Aku akan tetap jujur padamu soal anak-anak kita, tapi aku merasa memang sekarang belum waktunya itu sebabnya aku masih diam."


"Lalu kapan waktunya Senja? Kamu menunggu waktu yang bagaimana? waktu yang tepat itu yang seperti apa? Apa kamu masih nggak percaya kalau aku udah berubah? Kamu lihat mata aku! Kamu cari kebohongan di sana, kalau kamu menemukan kebohongan, aku akan pergi dari hidup kalian." Leo menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Senja, lalu mendongakkan kepala wanita itu agar menatapnya.

__ADS_1


Tangan Leo masih menangkup dua pipi kiri kanan Senja. Pria itu menatap wanita di dekatnya dengan dalam, lekat dan teduh.


"Masih nggak percaya sama aku, hm?" tanya Leo dengan lembut.


__ADS_2