
"Itu ada angkot, Na. Ayo kita naik angkot aja. Nunggu Mama kelamaan," ajak Alan dengan semangat ketika melihat angkot yang terparkir.
"Nggak ah, nanti Mama ngamuk lagi. Di angkot panas, aku keringetan. Nanti kecantikan aku luntur. Nggak mau aku."
Alan dan Alana, mereka memang memiliki rupa yang sama, nyaris tak ada bedanya. Jika saja mereka memiliki jenis kelamin yang sama, mungkin orang akan susah untuk membedakan mereka.
Meskipun mereka memiliki rupa yang sama, sifat keduanya sangat berbeda. Jika Alana sangat perfeksionis dan begitu peduli dengan penampilan, tidak dengan Alan. Perjaka cilik itu cenderung cuek, sama seperti Senja yang dulu. Namun, sifat yang dimiliki oleh Alan dan Alana cenderung sama dengan sang Ayah. Jangankan sifat, wajah mereka pun bak foto kopian Leo.
"Ya udah aku aja kalau begitu, males aku nunggu lama-lama. Lebih baik dengerin omelan Mama sambil makan dari pada nunggu di sini." Alan bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah angkot.
Alana masih duduk diam hingga saudara kembarnya itu melangkah sedikit jauh. Merasa takut menunggu sendirian, gadis kecil itu pun berlari mengikuti langkah Alan.
"Alan tunggu!" Alana berteriak bermaksud untuk meminta Alan agar berhenti melangkah. Namun, rupanya anak itu hanya menoleh ke belakang lalu kembali melanjutkan langkah.
Bugh!
"Aduh, Alan sakit." Sekali lagi Alana berteriak, kali ini teriakannya di sertai tangisan.
Alan yang tahu Alana sering menangis untuk hal-hal kecil terpaksa memutar tubuhnya dan kembali menghampiri saudaranya yang terduduk di trotoar.
"Luka sedikit, sini aku obatin. Kamu, kan juga bawa kotak p3k, kenapa musti menangis? Kan bisa obati sendiri," omel Alan mengambil kotak kecil yang berisi plester dan kapas.
Anak laki-laki itu dengan pelan membersihkan darah yang berada di sekitaran lutut Alana, setelah dirasa cukup bersih, ia segera membuka plester dan menempelkan pada luka.
"Udah selesai, ayo jalan."
"Nggak mau, kaki aku luka. Nggak mau desak-desakan di angkot," rengek Alana manja.
"Ya udah, sih nggak usah nangis, ya udah kita tunggu Mama di tempat biasanya, nanti Mama malah nyariin kita."
Dengan menahan perih yang ada di lututnya, Alana berjalan terpincang-pincang. Lukanya masih terasa perih walaupun ia berjalan dengan di papah oleh saudara kembarnya.
Dari arah berlawanan, Leo memperhatikan dua anak itu sejak tadi. Posisinya yang dekat dengan posisi lampu lalu lintas dan terjebak lampu merah membuatnya leluasa memperhatikan mereka.
"Aku ke sana dulu, nanti kalau lampunya udah hijau, kau hampiri aku ke sana, ya." Leo menunjuk dua anak yang sedang berjalan tertatih.
Fais hanya mengiyakan, ia mulai hapal dengan perubahan yang Leo lakukan. Ia tak lagi banyak bertanya kenapa tuannya itu melakukan hal-hal kecil yang bersifat kebaikan.
__ADS_1
"Hai anak manis, kenapa kalian berkeliaran di sini? Apa sudah jam pulang sekolah?" Leo menghadang jalan mereka.
Kedua anak kembar itu mendongak, betapa terkejutnya mereka bertiga karena wajah yang mereka miliki hampir sama.
"Wah, kalian kembar, ya? Itu kenapa kakinya?"
"Jatuh om." Alana yang menjawab.
"Kalian udah pulang sekolah, ya? Orang tua kalian mana?"
"Mama belum jemput, Om."
Ikatan darah memang tak pernah terkalahkan oleh apapun, hal itu terbukti dari perasaan Leo yang tiba-tiba merasakan kedekatan dengan mereka.
Apalagi melihat wajah yang begitu mirip dengannya membuat ia sedikit bingung. Bagaimana bisa anak-anak yang baru ia temui ini mirip sekali dengannya, ia jadi mengingat masa lalunya. Apakah ia pernah menanam benih di rahim wanita lain selain Senja? Lalu wanita itu melahirkan bayi kembar? Tapi kenapa tidak ada wanita yang datang untuk meminta pertanggungjawabannya? Pikir Leo dalam hati.
"Mama kalian jemputnya telat, bagaimana kalau kalian Om antar pulang?" tawar Leo.
Kedua anak itu saling tatap, seakan sama-sama meminta jawaban. Keduanya lalu kembali menatap Leo setelah beberapa detik musyawarah dalam diam.
"Boleh."
Alan dan Alana mengucapkan kalimat berbeda dalam waktu bersamaan. Sadar dengan jawaban mereka yang berbeda, mereka kembali saling tatap. Sementara Leo hanya menahan tawanya.
"Kok kamu nggak mau, sih. Kamu mau nunggu Mama sampai pulang kerja?" protes Alan.
"Kamu lupa apa kata Mama? Jangan dekat-dekat dengan orang yang tidak kita kenal, nanti kalau dia jahat gimana? Nanti di culik gimana?" jawab Alana dengan bisikan, namun masih di dengar oleh Leo.
"Kamu nggak lihat, Om ini kayak orang kaya. Pakai jas, pakai sepatu, rambutnya bagus, ngapain nyulik kita? Orang nyulik, kan biasanya minta uang. Ngapain di minta uang kalau udah kaya."
Mereka jadi bertengkar sendiri karena hasil musyawarah dalam diam yang tidak mencapai kesepakatan dan jawaban yang sama. Tidak biasanya mereka tidak kompak seperti ini.
"Om nggak akan jahatin kalian, Om juga punya anak. Nggak mungkin jahat sama anak orang. Om ada meeting, jadi harus cepat, kalian mau diantar apa menunggu di sini. Menunggu di sini sebenarnya nggak aman juga. Tuh, lihat. Udah sedikit sepi. Nanti kalau ada apa-apa gimana?"
"Tapi nanti kalau Mama jemput gimana?" Alana msih berusaha menolak.
"Nanti kalau sudah sampai rumah kalian bisa hubungi Mama, kalau kalian sudah sampai rumah."
__ADS_1
Sekali lagi mereka saling tatap, tak lama kemudian, keduanya mengangguk pasrah. Melihat Alana yang berjalan terseok-seok membuat hati kecil Leo iba. Ia menawarkan diri untuk membawa anak itu ke dalam gendongannya.
"Boleh. Aku nggak pernah di gendong sama laki-laki."
Jawaban Alana membuat pria itu mengernyit.
"Gimana maksudnya? Memang Papa kalian nggak pernah gendong?"
"Kita nggak punya Papa. Kata Mama, Papa lagi pergi. Nggak tahu pergi ke mana. Mama nggak pernah jawab kalau ditanya."
Leo ingin bertanya lebih jauh, namun ia urungkan karena ternyata mobilnya datang mendekati mereka.
"Kita masih ada waktu, kan? Antar mereka pulang dulu. Kasian, mereka nunggu orang tuanya nggak datang-datang."
"Predikat Bapak masih melekat di klien kita. Jadi tenang saja, Pak."
"Aku tidak suka menunggu siapapun, Lana. Diem jangan berisik!"
Leo dan Fais sama-sama menoleh ke belakang, di mana si kembar duduk dengan berdampingan. Seakan memiliki naluri yang sama, Leo dan Fais sedetik kemudian saling tatap.
"Anak sekecil ini saja sudah tidak mau menunggu, besarnya mungkin akan seperti Bapak. Harus disiplin kalau berkaitan dengan dirinya." Fais terkekeh.
Mendengar jawaban dari Alan membuat Leo tertarik untuk ngobrol dengannya.
"Kamu kenapa nggak mau menunggu?"
"Menunggu itu membosankan, membuang waktu dan tidak disiplin."
"Kamu akan marah menunggu siapapun, termasuk Mama kamu sendiri?"
"Bukan marah Om. Tapi nggak mau, Alan maunya itu begitu kita keluar sekolah, Mama udah ada di depan. Dia pikir Mama supir apa. Padahal dia tahu Mama lagi kerja, pasti ada telatnya." Alana yang menjawab.
"Aku, mah mau di jemput siapa aja. Kamu yang nggak mau di jemput sama supir, makanya kita sampai rumah lama. Yang lain udah pada makan, kita masih di jalan," sungut Alan.
"Ya nggak segitunya, Al. Mama nggak setelat itu."
Perdebatan mereka kembali berlanjut.
__ADS_1
Leo menepuk jidatnya pelan. Ia merasa bertanya pada mereka adalah sebuah kesalahan.