
"Senja, kamu ini kenapa? Kenapa kamu terlihat begitu gugup?" Leo semakin menggoda wanita itu.
"Memang aku terlihat seperti itu? Aku biasa saja."
Pandangan Leo turun ke tangan Senja. Ia melihat gelang yang masih melekat di pergelangan tangannya. Bibirnya sedikit melengkung mengetahui hal itu.
"Kamu sudah menikah?"
"Belum. Kamu sendiri?"
"Sama. Aku masih sibuk memperbaiki diri, ternyata benar apa yang kamu bilang. Kita nggak perlu jadi jahat dan kejam untuk membuat seseorang menuruti kita. Aku sudah merasakan perubahannya. Kamu tahu aku, kan? Apapun yang aku inginkan harus aku dapat. Meskipun sekarang dengan cara yang berbeda. Tapi, prinsip hidupku tetap sama."
"Bagus kalau kamu sudah banyak berubah. Sebagai teman aku ikut senang."
"Apa yang membuatmu hingga kini belum menikah?"
"Belum menemukan yang pas aja. Untuk mencari pendamping hidup bagiku tidak mudah. Kamu sendiri? Bukannya kamu terlalu mudah untuk mendapatkan apapun?"
"Itu dia. Aku dulu terobsesi untuk membalas dendam pada Rida. Aku mau menunjukkan kalau aku bisa bahagia tanpa dia, aku bisa menemukan wanita yang jauh lebih baik, tapi semakin ke sini ternyata aku semakin nyaman dengan kesendirian. Aku senang bisa bertemu lagi sama kamu dalam keadaan semua sudah berubah. Kamu sudah berubah, aku pun sudah berubah. Tapi kamu awet, ya."
"Apanya?"
"Mudanya. Wajah kamu masih kayak tujuh tahun yang lalu."
"Jangan bohong untuk membuatku senang. Ayo kita kembali ke meja, kita sudah terlalu lama meninggalkan mereka."
Senja berjalan melewati Leo, namun pria itu mencekal pergelangan tangannya, membuat langkah wanita itu terhenti seketika. Bahkan tidak hanya langkahnya saja yang terhenti, detak jantungnya pun rasanya sudah berhenti bekerja.
"Aku tidak pernah bohong pada orang-orang tertentu," bisik Leo di telinga Senja, pria itu lalu dengan kurang ajarnya meninggalkan Senja di kamar mandi dalam keadaan memprihatinkan karena kegugupannya.
Acara meeting dan makan siang itu berjalan lancar bagi Leo. Namun, tidak bagi Senja, ia ingin segera acara ini lekas berlalu agar ia bisa bernafas lega tanpa beban. Sungguh rasanya sulit bagi Senja melewati satu setengah jam bersama dengan Leo. Entahlah, ia merasa berbeda saja dengan pertemuannya kali ini.
Pertemuan mereka berakhir dengan berjabat tangan tanda kerja sama di mulai hari itu juga.
"Senang kenal denganmu, Bu Senja."
Wajah yang baru saja membaik kini kembali di buat memerah oleh Leo.
__ADS_1
"Senang bisa bekerja sama dengan Anda. Terima kasih." Senja menjawab dengan tenang meski sebenarnya hatinya begitu gaduh.
Mereka terpisah setelah jabat tangan yang mendebarkan bagi Senja. Baru beberapa langkah menjauh dari meja, wanita itu terpaksa menghentikan langkah karena telinganya menangkap suara seseorang yang memanggil namanya.
"Buku catatanmu tertinggal." Leo menyodorkan buku catatan kecil berwarna biru.
"Buku catatan? Tapi--."
"Ini milikmu," Potong Leo cepat dengan tatapan dan ekspresi wajah yang tak bisa diartikan Senja.
Terasa lama menunggu, Leo meraih tangan Senja dan meletakkan buku kecil itu ke dalam telapak tangan halus wanita yang melahirkan anaknya itu.
"Aku nggak ada waktu untuk menunggu. Sampai jumpa lagi." Sekali lagi Leo meninggalkan Senja dengan perasaan bertanya-tanya.
Pasti ada note di sini. Dia tahu ini bukan milikku.
Senja ingin membuka lembaran buku yang tak tebal itu, namun panggilan dari atasannya membuat ia kembali menutup buku itu dan menyadarkan diri bahwa ia masih berada di jam kerja.
***
"Ini nanti kalau ketahuan sama Mama pasti kalian kena omel lagi. Kenapa pada nggak ada yang mau ngalah? Yang satu nggak mau di jemput selain Mama, yang satu nggak sabar nunggu Mama. Kalian nggak bisakah berpikir yang peting bisa pulang dengan selamat? Belajar untuk berpikir yang sederhana, jangan memaksakan kehendak masing-masing, kalian sama-sama anak Mama. Jangan buat Mama jadi kepikiran pas kerja. Mama cari uang buat kalian juga. Ini makan, terus tidur siang."
Senja memang sedikit berlebihan dalam menyayangi anak-anaknya. Sangat berbeda dengan Manda yang melatih keduanya untuk mandiri sejak dini.
"Oma udah tahu nanti Mama akan ngomel, tapi Oma omelin kita juga. Masa kita dapat omelan dobel dalam sehari. Ya Oma jangan ikut ngomel kalau tahu Mama nanti ngomel," tukas Alan mengunyah makan siangnya.
Manda tak mejawab, ia tahu jika menjawab ucapan Alan yang selalu di dasari oleh logikanya, maka perdebatan adalah jalan satu-satunya yang akan melewati untuk menuju titik berhenti bicara. Manda merasa sudah cukup tua untuk berdebat.
"Oma, masa tadi om-om yang antar kita mirip banget sama kita."
Manda yang sibuk membereskan piring kotor refleks menghentikan aktivitas.
"Emang siapa yang antar kalian?"
"Nggak tahu, nggak kenalan. Om nya ganteng." Alana yang menjawab.
"Hus, masih kecil juga, sana masuk kamar, tidur!"
__ADS_1
Kedua anak kecil yang sama-sama menyukai bantal itu tak perlu di perintah kedua kali, mereka berlarian menuju kamar masing-masing untuk mengistirahatkan tubuh.
Entah kapan mereka memejamkan mata hingga sebuah guncangan yang pelan membuat mereka terpaksa membuka mata.
"Udah sore, bangun! Alana udah mandi, kamu juga baruan mandi. Habis itu temui Mama di ruang tengah."
"Lima menit lagi."
"Nggak ada nawar, bangun!"
"Tiga menit Ma."
"Satu, dua."
"Iya bangun." Alan seketika terduduk dengan wajah malasnya. Kakinya ia paksa berjalan ke kamar mandi.
Senja kembali ke lantai dasar, begitu sampai di ruang tengah ternyata sudah ada Alana yang menonton TV dengan santainya.
Seperti biasa, gadis kecil Senja itu selalu tampil cantik. Ia kali ini sengaja memakai celana panjang untuk menutupi lukanya. Meskipun ia sebenarnya tak yakin jika ibunya tak tahu perihal luka di lututnya.
Senja mendudukkan diri di sebelah anak gadisnya tanpa bertanya apapun, ia sengaja menunggu satu lagi anaknya yang jujur saja membuat Senja tak bisa lupa dengan Leo.
Mengingat Leo membuat ingatan Senja kembali pada buku catatan kecil yang masih belum sempat ia baca. Ingin membacanya sekarang, tapi terdengar langkah dari arah tangga membuatnya kembali urung.
"Ada apa, Ma? Pasti mau tanya kita pulang sama siapa? Kita nggak tahu namanya siapa, kita lupa nggak kenalan. Tapi kita udah bilang makasih. Kita nggak apa-apa, Ma. Kita mggak ada yang jahatin, Om yang antar kita baik."
Bahkan Senja belum membuka pertanyaan satupun, tapi Alan dengan lancarnya memberikan penjelasan seakan ia tahu apa yang akan ditanyakan oleh sang Ibu.
Merasa tak mau kalah dengan perjaka ciliknya, Senja pun memutar otak untuk bertanya hal lain.
"Mama nggak nanya itu."
"Terus?"
"Kenapa kaki Alana bisa luka?"
"Ya Mama tanya ke Alana, kenapa nanya aku?"
__ADS_1
"Ya memang, kan Mama nanya ke Alana. Kamu aja yang baru datang udah nyerocos duluan."
Hening.