Senja Dan Derita

Senja Dan Derita
103. Dia Lagi?


__ADS_3

Grap.


Sebuah tangan tiba-tiba melingkar di sepanjang pinggang Senja. Wanita itu terkejut hingga hampir teriris oleh pisau.


Menyadari bahwa itu Leo, ia kembali fokus pada masakannya. Pria itu tak bicara apa-apa, hanya saja ia tak berhenti menciumi leher jenjang Senja yang diperlihatkan jelas olehnya.


"Geli, Mas. Nggak kapok kamu, ya. Nanti kalau ada yang lihat gimana? Di rumah ini nggak hanya ada anak dan kita, ada Ibu juga. Malu ah kalau dilihat sama Ibu." Senja beralasan.


"Aku candu sama aroma kamu." Leo tak mengindahkan kalimat larangan istrinya.


"Katanya mau di kirim aja makanan siangnya, kok pulang?"


"Nggak tahan. Aku kangen sama kamu, aku mau susu."


"Iya, akan aku buatkan setelah masakan ini selesai."


"Maunya sekarang. Dari pabriknya." Leo mencengkram kuat benda kenyal milik Senja yang membuatnya mabuk kepayang.


"Mas! Dilihat orang, malu ah!" sentak Senja kesal karena Leo mesum tidak melihat tempat.


"Masaknya buruan, habis itu ke kamar," rengek Leo bergelayutan di pundak Senja.


Wanita itu hanya menghela nafas panjang. Kenapa sulit sekali menghadapi Leo setelah menikah dengannya. Leo nampak lebih manja sekarang daripada dengan Rida dahulu.


"Ya udah kamu duduk dulu kalau kamu mau masakan ini cepat selesai."


"Habis itu ke kamar, ya," bisik Leo.


Senja hanya mengangguk pasrah.


Leo mengendurkan dasi begitu ia sampai di kamar, melepas jas dan sepatunya. Entah kenapa ia ingin sekali rebahan seraya menunggu istrinya itu selesai memasak.


Saat duduk di meja rias Senja untuk melepas sepatu, tak sengaja ujung matanya melihat sebuah kertas undangan yang masih terbungkus rapi.

__ADS_1


Leo tertarik untuk melihat undangan tersebut. Keningnya berkerut saat melihat nama mempelai pria.


"Kayak pernah dengar nama ini, tapi di mana?" Leo berusaha kuat untuk mengingat-ingat.


Semakin ia berusaha untuk mengingat semakin ia lupa, itu adalah kebiasaan Leo. Merasa tidak penting, ia kembali meletakkan undangan itu dan berjalan ke tempat tidur. Merebahkan dirinya menghadap langit-langit rumah, menjadikan kedua tangannya sebagai bantal, dan memejamkan mata sejenak sepertinya akan mebuat dirinya lebih rileks, pikir pria beranak dua itu.


Baru saja beberapa detik mata itu terpejam. Leo kembali membukanya dengan lebar. Tiba-tiba saja ia ingat siapa nama pria yang berada dalam undangan itu.


"Jadi dia pergi qmenemui mantan pacarnya itu? Oke baiklah, dia harus membayar kesalahannya sekarang juga."


Leo berjalan cepat-cepat keluar kamar. Langkahnya yang cepat membawanya ke dapur, dengan wajah kesal dan juga menenteng undangan yang ia dapat di kamar ia menghampiri Senja yang ternyata sedang menata hidangan di meja makan bersama asisten rumah tangga mereka.


"Senja," panggil Leo di anak tangga nomor dua dari bawah.


"Ini udah selesai, Mas. Mau makan sekarang apa nanti barengan?"


"Nanti!" Tanpa perkataan apapun lagi, Leo naik ke lantai dua menuju kamarnya dan seakan mengerti apa maksud suaminya, Senja berjalan membuntuti pria itu dengan perasaan aneh.


"kamu kenapa, sih? Kok tiba-tiba kayak aneh begitu, ada apa?" tanya Senja begitu mereka sampai kamar.


Mendengarkan penturan Leo, mata Senja beralih pada undangan yang ia bawa. Dari situ Senja paham ke mana arah pembicaraan Leo. Meskipun ia dalam hati berpikir dari mana ia tahu kalau Daren adalah pria yang pernah menjadi kekasihnya dahulu, ia berusaha untuk membujuk bayi besarnya itu agar tak merajuk.


"Aku itu bertemu dengan Arum, aku nggak tahu kalau dia akan menikah dengan Daren. Aku sendiri juga kaget pas dikenalin sama calon suaminya. Arum nggak pernah cerita ke aku soal hubungan asmaranya, Mas. Kalau aku tahu, ya aku mejaga jarak dengan mereka untuk jaga hati kamu."


"Bohong," ujar Leo buang muka.


Ya Tuhan lebih baik aku menghadapi Loe yang dulu dari pada Leo yang sekarang.


"Aku nggak bohong, Mas." Senja mendekap suaminya. Ia dongakkan kepala untuk melihat wajah tampan pria yang kini merajuk padanya.


"Aku sudah punya kamu dan itu sudah cukup untukku. Kenapa kamu cemburu? Aku dan dia, kan nggak ada hubungan apa-apa. Aku sudah berkeluarga dan Daren akan berkeluarga, kita sudah sama-sama melupakan masa lalu. Aku ketemu sama Arum, Mas bukan dia. Aku hanya dikenalkan saja tadi. Dia nggak ikut nimbrung obrolan aku dan Arum. Kamu bisa tanya Arum kalau kamu mulai nggak percaya sama aku."


Leo masih enggan menatap Senja. Tangannya pun ia masukkan ke dalam saku celana.

__ADS_1


Merasa tak ada pilihan lain, Senja jinjit untuk meraih sesuatu yang menggodanya saat sedang marah seperti itu. Hanya dengan sentuhan kecil dan lembut, harga diri Leo hilang seketika. Dengan cepat dan ganasnya ia membalas apa yang dilakukan Senja.


***


Merasa pusing dengan skripsinya yang tak kunjung usai. Karang memutuskan untuk keluar sebentar mencari udara segar. Setidaknya duduk di cafe dengan ditemani secangkir minuman clasic hot chocholate nampaknya akan mengubah moodnya menjadi lebih baik.


Seperti biasa, Karang akan memakai style yang biasa saja saat sedang keluar sendirian. Hanya dengan hoodie hitam dan celana pendek selutut berwarna senada dengan hoodienya di tambah sepatu yang juga berwarna hitam sudah mampu membuat pesona seorang Karang menguar ke mana-mana.


Karang adalah tipe kebanyakan kaum hawa sebenarnya, dari dirinya masuk dunia perkuliahan, ia sudah banyak digandrungi oleh para betina. Hanya saja ia tak mau peduli dengan mereka. Kalian tahu apa alasannya. Jadi tak perlu di jelaskan kembali.


"Mau ke mana Karang?"


"Ngopi bentar, Ma. Kepala aku mau meledak rasanya ngerjain skripsi doang."


Dengan motor sport yang pernah ia ajak menjadi pemuda begajulan, Karang keluar dari pekarangan rumahnya dan melajukannya dengan cepat.


Ah, baru menikmati udara siang hari saja, Karang sudah dibuat lega oleh hembusan angin yang menabrak wajahnya. Karang memilih cafe yang paling dekat dengan rumahnya, hanya membutuhkan waktu lima belas menit saja untuk sampai di sana. Salah satu Cafe yang sering ia datangi bersama sahabatnya, Andra.


"Bikinin gue kayak biasa bro," pinta Karang yang sudah akrab dengan di barista.


"Akan datang secepatnya," jawab pemuda tampan yang sedang sibuk membuat pesanan.


Karang memilih tempat duduk dekat dinding kaca. Ia bisa melihat kendaraan yang berlalu lalang dari sana. Ia juga bisa melihat siapa saja manusia-manusia yang masuk dan keluar ke cafe yang ia datangi ini.


Pandangan Karang tak lepas dari halaman cafe sampai sebuah mobil masuk ke lahan parkiran yang luas itu. Seakan tidak punya kerjaan, pemuda itu menunggu siapa yang akan keluar dari mobil itu.


Satu persatu manusia yang menunggangi kuda besi itu keluar dari persembunyiannya.


Wow masih SMA ternyata.


Mata karang masih tak lepas. Ia baru sadar bahwa perempuan zaman sekarang sudah keluar aura kecantikannya saat masih duduk dibangku SMA. Jujur saja, Karang tak pernah menyadari itu.


Karang ingin mengalihkan perhatian dari para gadis yang berjumlah empat orang itu ke arah lain, namun satu di antara mereka yang sedang berjalan membuat kepalanya kembali mengarahkan pandangan ke halaman.

__ADS_1


Pandangannya terpaku pada salah satu sosok gadis yang berjilbab. Ia menyipitkan mata demi memperjelas penglihatannya pada gadis itu.


Dia lagi? Jadi dia masih SMA?


__ADS_2