
Senja mendelik ke arah pintu, Leo berdiri ditengah benda persegi itu dengan tangan yang masih berada di gagang pintu. Senja berharap pria itu tak mendengar apapun dari mulutnya.
"Kenapa kau tegang seperti itu?" Leo bertanya sembari berjalan ke arah Senja.
"Tidak, tidak apa-apa. Ada apa? Kenapa kau ke sini?" tanya Senja.
"Apa yang kau sembunyikan?" Leo berjalan mendekat.
Senja semakin gugup dan memundurkan langkahnya tanpa ia sadari. Tatapannya masih terpaku pada wajah Leo yang dingin dan nampak seram.
Senja masih merambat ke belakang, terus merambat dan akhirnya langkahnya terhenti karena badannya sudah menempel pada dinding.
"Aku, aku tidak menyembunyikan apapun," jawab Senja sedikit tergagap.
Disaat pandangan Leo sudah mengendur, tiba-tiba benda kecil milik Bi Jum berbunyi. Nafas Senja tercekat seketika, kerongkongan terasa kering tapi ia kesulitan menelan ludahnya sendiri.
Leo menggerakkan tangannya ke belakang gadis itu, dan dengan kasar ia mengambil ponsel jadul Bi Jum. Leo mengamati nomer ponsel, sedetik kemudian ia menekan tombol penerima panggilan.
Senja tak memikirkan bahwa dirinya nanti akan disiksa oleh pria itu, ia sudah terbiasa dengan perlakuan kasar seseorang. Ia hanya memikirkan nasib Bi Jum yang pasti akan terkena amuk juga oleh Leo.
"Halo, Senja. Ka..."
Sambungan telepon terputus karena Leo mengakhirinya secara sepihak. Pandangannya bertambah ****** dan mencekam setelah mendengar suara dari seberang, seakan ia tahu siapa manusia yang baru saja di hubungi Senja.
"Jangan, marahi Bi Jum, aku yang minjam hapenya. Salahkan saja aku, tapi ku mohon jangan marahi dia. Aku yang me... "
Plak
Rahang Leo mengerat dengan kuat. Amarahnya terasa di puncak, hal itu terlihat jelas dari raut wajahnya yang sama sekali tak ada kata ramah.
__ADS_1
"Entah bagaimana caraku memberitahu mu. Selancang ini kau? Sepertinya sudah seharusnya aku benar-benar melakukan sesuatu pada ibumu. Tunggu dan lihat saja nanti!" ancam Leo pergi dari kamar gadis itu.
Diam. Hanya itu yang Senja lakukan kini, entahlah satu tamparan dari Leo nampaknya membuat ia linglung sesaat hingga ia tak tahu apa yang harus ia lakukan.
Suara kunci yang terputar membuat Senja sadar dari lamunannya. Ia berlari dengan cepat dan menekan-nekan handel pintu, namun ternyata di kunci dari luar.
"Hei buka pintunya. Kenapa kau kunci aku? Buka!" Senja berteriak seraya menggedor gedor pintu dengan keras. Tangannya terasa memanas seketika.
"Bi Jum!" Leo tak kalah berteriak dari Senja.
Wanita paruh baya itu tergopoh-gopoh berlari ke arah meja makan dengan membawa sebuah piring berisi nasi dan lauk pauk. Saking paniknya, piring yang tadi yang tadinya akan ia berikan pada Senja ikut terbawa.
"Ambil ini dan jangan pinjamkan pada siapapun. Beri tahu yang lain, kalau sampai ada yang kasih pinjam hape ke Senja akan aku pecat langsung. Berhubung kau senior dan jarang melakukan kesalahan, kali ini kau ku ampuni, tapi tidak lain kali."Leo menyodorkan benda kecil itu pada Bi Jum. "Buat Senja?" tanyanya menatap piring.
"Iya Tuan."
"Kembalikan, hari ini dia harus menerima sentilan dariku."
"Kenapa nggak bisa dihubungi lagi? Apa jangan-jangan Senja ketahuan?" gumam Aldi masih berusaha menghubungi nomer yang di gunakan Senja untuk menghubunginya.
Beberapa menit mencoba dan tak ada hasil membuat Aldi menyerah dan meletakkan kembali ponselnya. Ia sudah sampai di rumah Akmal.
"Selamat pagi, Pak. Apa Pak Akmal di rumah? Saya Aldi, orang kepercayaan Pak Akmal di kantor." Aldi memperkenalkan diri pada satpam tanpa diminta. Ia berharap dengan kelancangan dirinya ini bisa mempercepat pertemuannya dengan Akmal.
"Saya hubungi Tuan dulu, Pak."
Aldi hanya mengangguk melihat satpam itu ke posnya dan nampak berbicara entah apa dan pada siapa. Entah pada Akmal atau istrinya.
Sejurus kemudian, "Silakan masuk, Pak. Anda di izinkan untuk bertemu dengan Tuan." Satpam itu membuka pagar rumah Akmal yang menjulang tinggi. Pagar yang sangat tertutup, tak ada sedikit pun bagi manusia yang berada di luar untuk melirik bagaimana rumah pengusaha sukses di usia muda itu.
__ADS_1
Dengan di antar seorang satpam, akhirnya Aladi berhasil menapak lantai teras rumah besar itu. Ada rasa sedikit mengagumi saat melihat sekeliling rumah yang besar dan mewah itu. Namun, rasa kagum itu tak berlangsung lama karena bukan itu tujuannya datang ke rumah Akmal.
" Terima kasih," ucap Aldi begitu ia berhadapan dengan Akmal. "Maafkan aku baru datang ke sini, Ibu meninggal jadi aku tak sempat memikirkan hal lain."
Ekspresi terkejut seketika tercetak di wajah Akmal. "Apa? Kenapa kau tak mengabariku, Kak?" tanyanya yang lebih terdengar seperti sebuah protes.
"Aku nggak sempat, aku tadi nelpon kau, tapi nomermu kenapa nggak bisa dihubungi? Lalu aku hubungi sekretaris mu. Tapi katanya kau nggak ada di kantor. Mal, bagaimana bisa Rekaman itu bocor ke publik?"
"Kita bicarakan ini di ruang kerjaku, ada Clara, nanti di dengar."
Mereka beriringan berjalan ke ruang kerja Akmal, di sana mereka aman bicara apapun karena Clara tak pernah lancang masuk ke sana. Lagipula yang ia tahu, Aldi adalah karyawan kesayangan suaminya, jadi tak ada sedikitpun alasan yang membuat ia curiga Akmal membahas hal lain dengan Aldi selain pekerjaan.
"Kau sudah tahu postingan Leo? Hal itu terjadi setelah kita datang ke kantornya, Kak. Bisa jadi dia nggak terima aku pukuli saat itu. Lupakan itu sekarang, yang aku bingungkan adalah cara mengambil Senja dari dia. Jadi pas aku ke sana, aku melihat banyak luka di tubuh Senja. Apa dia mendapat perlakuan buruk di sana? Aku jadi kepikiran terus, tapi aku nggak bisa apa-apa. Seluruh alat komunikasi aku di bawa Clara, aku nggak bisa menghubungi siapapun."
"Istrimu juga tahu ini?"
"Aku pulang dari rumah kalian, dia sudah tahu. Sebenarnya dia mau memaafkan aku, Kak. Dia bertahan dan berusaha melupakan demi anak kami juga. Tapi dia nggak terima saat aku di tembak anak buah Leo karena nolong Senja."
"Kau beritahu dia soal Senja yang dibawa Leo."
"Tentu saja tidak, Kak. Nggak mungkin aku cerita, dia nggak mau dengar dan nggak mau aku fokus dengan Senja. Aku harus memprioritaskan dia dan anak kami satu-satunya. Aku sadar, selama ini mereka kurang kasih sayang dari aku karena aku belum menemukan Manda. Akhirnya aku pelampiaskan pada mereka. Dia marah saat aku membahayakan diri untuk anakku sendiri. Dia nggak terima dan anggap aku ingkar janji. Ini salahku, Kak. Aku nggak bisa salahkan Clara juga. Jika aku di posisi dia pasti aku juga aku akan kecewa, bahkan mungkin belum tentu sekuat dia."
"Kalau begitu berikan saja alamat Leo padaku, biar aku yang ke sana. Senja tadi ada sempat telepon aku, tapi sambungannya terputus begitu saja. Aku khawatir kalau dia ketahuan."
"Jangan terlalu gegabah, Kak. Aku bisa masuk ke rumah Leo butuh bantuan anak buahku. Nggak semudah itu masuk ke dalam rumah Leo. Apalagi kita sudah pasti masuk daftar dalam musuh dia."
"Lalu? Apa kita harus diam saja?"
"Sebentar, Kak. Aku sendiri juga sedang bingung dengan kondisiku. Bisnis yang aku bangun mulai goyah karena banyak klien yang membatalkan kerja sama."
__ADS_1
Mereka berdua lalu hening dan tenggelam dalam pikiran masing-masing.