
Hari yang di tunggu Senja akhirnya tiba, ia bersama dengan Laura menunggu di luar ruang operasi dengan was-was dan tak sabar. Terutama Senja, wanita dua anaknya duduk berdiri tak tenang.
"Senja, duduklah. Kamu, kan tahu ibumu itu kuat. Kenapa kamu jadi khawatir sendiri?" Laura menepuk kursi sebelahnya.
"Bude, nggak ada kabar dari dua laki-laki di hidup kita itu? Mereka katanya setelah makan siang ke sini, ini udah lewat jam mkan siang."
"Iya, mereka akan datang telat, ada meeting dadakan."
Senja hanya mengangguk lalu menatap lorong-lorong yang berada di dekatnya. Pandangannya seketika terkunci pada pria yang di dorong di kursi roda.
Dia lagi.
Senja masih bersitatap dengan pria itu. Ia melihat pria itu sama sekali tak ada respon saat menatap ke depan, padahal dirinya ada di depan pria yang akan ia lewati.
Deg deg deg.
Ya Tuhan, kenapa jantungku jadi bergaduh seperti ini? Dan dia, kenapa dia bertingkah seakan nggak kenal? Aku ketemu dua kali, apa itu artinya dia kembali ke sini? Tapi ke mana istrinya?
Sedang asyik dengan dunianya sendiri, pintu ruang operasi tiba-tiba terbuka. Senja mau tak mau mengalihkan perhatiannya pada pintu itu. Untuk sesaat Senja melupakan sosok pria yang sedang duduk di kursi roda dengan wajah datarnya dan badan yang sedikit kurus.
"Bagaimana, Dok? Operasi ibu saya lancar, kan?"
"Alhamdulillah lancar, tinggal menunggu pemulihan saja. Nanti bisa dijangkau setelah pindah ke ruang rawat."
"Baik, Dok. Terima kasih banyak."
__ADS_1
"Tuh, kan apa bude bilang, ibumu wanita kuat. Udah kita makan dulu, yuk. Lapar bude."
Senja mengangguk, mereka beriringan berjalan ke kantin.
***
Siang dan malam yang cepat berlalu membuat semua ikut berjalan dengan cepat pula. Tak terasa, hanya kata itu yang bisa Senja gambarkan dan utarakan. Memang benar, rasanya baru kemarin Senja menunggu ibunya operasi, kini wanita itu sudah kembali sehat dan di perbolehkan pulang.
Jika saat operasi hanya dirinya dan Laura yang menunggu, kali ini saat pulang semua orang ikut menjemput, tak terkecuali Akmal.
"Lihat, Ibu udah kayak ratu, ya. Pulang dari rumah sakit banyak yang jemput," ujar Senja bahagia.
Manda menatap sang anak. Dari ia kecil hingga sekarang, wajahnya tak jauh beda dengan Akmal. Sosok anak yang selalu merawat dirinya di saat ia sakit kini sudah tumbuh menjadi sosok wanita dewasa yang keibuan.
Entahlah, ia malu pada anaknya sendiri. Ingin minta maaf, tapi rasanya kesalahannya begitu berat dan besar. Jika ia tak minta maaf rasa bersalah dan dosa pasti tak akan pernah gugur dari hidupnya. Mampukah Senja memaafkan dirinya?
"Bu, Ibu mikir apa?" tanya Senja membuyarkan lamunan ibunya.
"Memikirkan kesalahanku. Kamu begitu mudahnya merawat ku selama aku di sini. Seakan aku nggak ada kesalahan apapun. Bahkan sebelum ini kamu juga selalu baik dan menjadi anak yang penurut, aku nggak tahu jaga apa yang harus aku ucapkan selain. Maafkan Ibu, Senja. Maafkan Ibu." Manda terisak menghambur ke pelukan sang anak.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Senja membalas pelukan ibunya dengan erat. Mereka sama-sama menumpahkan segala rasa dan sentuhan yang puluhan tahun mereka pendam. Hanya isakan lah yang mewakili segala rasa yang selama ini tak pernah menguar.
Sementara yang lain menatap bahagia, namun sekali lagi, air mata adalah pewakil segala rasa yang pas. Saat terlampau bahagia, air mata yang mewakili, begitupun dengan kesedihan, cairan bening itu juga keluar untuk mengurangi segala beban dan kepedihan.
"Ibu nggak perlinya maaf. Ibu memang salah, tapi aku sudah mengikhlaskan semuanya, Bu. Aku sudah menerima masa laluku, semuanya. Termasuk segala bentuk kasih sayang yang Ibu berikan padaku. Kita tinggalkan semuanya, kita mulai lembaran baru. Kita mulai dari awal."
__ADS_1
"Ibu akan serahkan semua hidup Ibu buat kamu. Menggantikan waktu yang sudah hilang dan waktu tumbuh kamu tanpa sosok Ibu."
"Iya, Bu, iya. Setelah ini kita akan habiskan waktu bersama."
Senja jadi teringat kata-kata Aldi yang selalu memberinya kekuatan dan kepercayaan, bahwa ibunya suatu hari nanti akan menyayanginya dan menerimanya dengan sepenuh hati. Sudah lama Senja menunggu waktu itu datang dan ketika ia sudah tidak lagi menunggu, tiba-tiba saja Tuhan mengirimkan hidayah pada ibunya.
Bahkan Senja tak percaya bahwa detik ini ibunya sedang memeluknya dengan erat. Senja bahagia, kini ia tidak lagi mengharapkan apapun selain kesehatan dan kebahagiaan untuk orang-orang yang ia sayangi dan menyayanginya.
"Ya udah pulang, yuk! Kita lanjutkan kebahagiaan kita di rumah," sela Akmal.
Sepanjang perjalanan keluar rumah sakit Senja dan Manda tak lepas dari pelukan. Senja sejak tadi tak diam, ia bercerita mengenai apa saja yang tidak diketahui oleh ibunya. Sesekali tawa menemani perjalanan mereka.
"Oh, ya, Yah. Tadi aku lihat Leo di rumah sakit," ujar Senja begitu mobil melaju.
"Leo di sini? Kamu yakin, kamu nggak salah lihat?" Akmal balik bertanya dengan nada terkejut.
"Iya, tapi ada yang aneh dari dia. Dia duduk di kursi roda didorong sama seorang pria. Aku nggak tahu dia siapa tapi pandangannya itu kayak datar gitu. Dan anehnya Leo lewat di depan aku tapi kayak nggak kenal sama aku. Bahkan lihat aku pun enggak, pandangannya tetap lurus."
"Senja, kamu salah lihat. Leo nggak di sini, kan?"
"Ya masa aku salah lihat sampai dua kali, sih, Yah. Aku pernah lihat juga waktu itu di rumah sakit yang sama enam bulan yang lalu waktu aku ngikutin Ibu. Sama seperti tadi aku ketemu sama dia. Pertemuan yang pertama juga nggak ada reaksi apa-apa."
"Mal, ini bahaya. Aku takut kalau dia sewaktu-waktu bisa ketemu sama Senja dan anak-anaknya. Mungkin kalau ketemu sama Senja aja nggak apa-apa. Tapi, kalau ketemu Senja sama anak-anaknya, kan bahaya." Aldi menumpahkan pendapatnya.
"Iya, Mas. Kamu tenang dulu. Nanti biar aku cari tahu. Mendengar cerita dari Senja membuat aku merasakan ada yang terjadi dengannya."
__ADS_1