Senja Dan Derita

Senja Dan Derita
56. Alan Dan Alana


__ADS_3

"Senja jamu duduk di sofa coba, Alan kamu kasih asi dulu, sepertinya dia juga tahu kalau mamanya ada di sini."


Refleks Senja dengan cepat mendudukkan dirinya di sofa. Gerakan yang cepat membuat perutnya sedikit nyeri.


"Kamu nggak bisa hati-hati? Nanti kalau jahitannya kenapa-napa gimana? Baru pulang udah banyak tingkah," ujar Manda ketus.


"Ibu perhatian sama aku?" tukas Senja mengatupkan mulutnya.


Manda sedikit salah tingkah. Memang benar, ada kekhawatiran di diri Manda saat anaknya mengaduh. Meski bahasa yang ia gunakan masih sama ketusnya dengan puluhan tahun yang lalu, ada nada dan kata-kata perhatian di sana.


"Udah, ini kamu urus anak kamu. Jangan banyak tanya! Baru juga ditinggal sebentar, udah nggak bisa tenang. Bisa, kan? Sebentar aku ambil kain dulu buat nutup." Manda berlalu dengan cepat ke kamar. Wanita itu sejakĀ  sebelum datangnya Senja sudah terlihat repot sendiri.


Akmal hanya geleng kepala melihat kelakuan wanita itu. Ia jadi membayangkan bagaimana jika dirinya waktu itu bisa menemukan keberadaan Manda, pasti ia sudah bahagia sekarang. Ia pasti sudah di buat pusing dengan tingkah dan kebiasaa Manda yang sedikit uring-uringan dan cerewet.


"Ayah, kelakuan Ibu ternyata bisa membuat aku lebih gila dari pada dulu. Dulu dia hanya bicara sepatah dua patah kata ketika sedang marah padaku, lihat sekarang. Tapi aku senang melihat Ibu yang sekarang, seandainya saja Nenek tahu kalau Ibu sudah berubah." Senja mengubah raut wajahnya menjadu sendu.


Akmal bergeser tempat duduk, yang semula duduk di depan anaknya, kini memilih duduk di satu sofa yang sama. Merentangkan tangan kirinya di belakang Senja dengan bertumpu pada sandaran sofa.


"Nenek tahu, Sayang. Nenek pasti tahu perubahan Ibu. Nenek bisa lihat dari atas sana. Almarhumah pasti bahagia juga, kamu harus menebalkan telinga lagi kali ini, mungkin ucapan Ibu nggak akan jahat lagi, tapi omelan-omelan kecil terkadang juga bisa membuat telinga panas."


"Omelan siapa?" sahut Manda dari arah kamar seraya membawa sebuah kain dan menutupi bagian atas tubuh Senja. "Kamu berangkat kerja sana! Kepala rumah tangga kok kerjaannya kelayapan, kasihan anak istrinya. Pamit berangkat kerja, tahunya ngurusin anak orang."


"Anak orang gimana? Senja anakku, jangan lupa itu. Aku nggak ngurusin anak orang lain, anakku sendiri. Entah itu anak yang di sini dan di sana, mereka akan sama-sama mendapat perhatian dan kasih sayang yang adil."


"Nggak ada satupun manusia yang adil di muka bumi ini. Pergi sekarang, atau aku yang panggil satpam."

__ADS_1


"Yang bayar satpam itu aku, mereka lebih mendengar apa kataku dari pada kata orang lain," jawab Akmal dengan entengnya.


"Terserah saja. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, aku nggak akan terima kamu lagi di rumah ini, kalau sampai istrimu datang lalu melabrak aku atau Senja. Akan ku banting kamu dari sini kalau sampai itu terjadi."


Manda sejak tadi berceloteh seraya mengganti popok Alana yang basah. Karena ia tak pernah melakukan kegiatan tersebut, membuat aktivitas mengganti popok adalah hal yang sulit baginya.


Senja yang berada di tengah-tengah mereka bingung harus mendengar mereka yang adu mulut. Wanita itu menyenggol perut ayahnya dengan siku lalu memberi isyarat untuk menuruti apa yang ibunya minta.


"Iya, ya udah, Ayah pergi dulu, ya. Nanti sepulang kantor Ayah mampir ke sini. Kalau pengen apa-apa bilang Ayah, nanti Ayah bawakan."


Manda yang mendengar ucapan Akmal hanya mencibir pelan.


"Berlaku juga kok buat kamu. Nanti kalau ada nitip sesuatu, bilang Senja aja. Biar nanti di sampaikan ke aku," tukas Akmal yang mendengar cibiran Manda.


"Nggak ada."


"Pergi sekarang!" usir Manda seraya melempar popok yang sudah basah.


Untunglah refleks Akmal cukup bagus. Pria itu dengan mudah bisa menghindari lemparan popok yang sudah bau itu. Tak mau mendapatkan amukan lagi, Akmal segera berlari keluar rumah.


Sementara Senja hanya mampu tertawa melihat tingkah keduanya.


"Jangan tertawa, nanti jahitan kamu sobek!" ujar Manda dengan ketusnya. "Itu Alan udah tidur, sini biar aku pindahkan dia ke box, itu Alana kamu kasih susu. Udah menggeliat dari tadi."


Senja hendak bangkit menuju box, namun terhenti karena larangan Manda.

__ADS_1


"Mau ke mana? Duduk diam di situ, biar aku yang bawa Alana ke pangkuan kamu. Gantian yang sisi sebelahnya, ya. Jangan hanya satu sisi saja." Manda sibuk mengarahkan kepala bayi yang berusia dua hari itu.


"Memang kenapa, Bu kalau hanya satu sisi saja yang di ambil asinya?" Pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu Senja tanyakan karena ia sudah tahu jawabannya. Tapi tujuannya bukan itu, ia hanya ingin melihat ibunya yang menunjukkan perhatiannya.


"Nanti jelek, jadi besar sebelah. Kata orang tua zaman dulu begitu. Lagi pula anak kamu ini dua, nggak mungkin juga kamu mau kasih yang sebelah doang, kan nanti mereka malah nggak kenyang. Ngomong-ngomong kamu sudah makan belum tadi sebelum ke sini?"


"Udah, tapi aku merasa lapar lagi." Senja kembali mengarang cerita agar ia tahu bagaimana respon ibunya ketika mendengar dirinya lapar.


"Biasa itu, orang menyusui sama kayak orang hamil, malah lebih parah lagi. mereka lapar bisa berkali-kali lipat daripada orang hamil. Sebentar aku buatkan makanan dulu."


"Ibu tadi nggak masak?"


"Belum sempat, aku udah cape duluan. Udah makan kok, dah dibeliin sama suster kamu itu. Lagian Akmal nggak niat banget, bantu anaknya masa setengah-setengah. Rumah sebesar ini kagak dikasih asisten rumah tangga, nanti biar aku yang bilang sama dia. Aku lupa tadi nggak bilang." Manda setengah berteriak, karena jarak dapur dan ruang tengah memiliki jarak yang kira-kira sepuluh langkah.


Astaga, Ibu cerewet sekali. Meskipun nada bicaranya ketus dan ngegas, tapi ada perhatian di dalam setiap kata-katanya. Ayah benar, Ibu sudah mulai berdamai dengan masa lalunya. Ibu sudah mau menerima aku jadi anaknya, hanya saja Ibu masih belum mengakuinya.


Terima kasih ya Allah, Engkau benar-benar memberiku hadiah yang besar. Setelah berbagai ujian dan cobaan yang aku hadapi, Kau memberiku sesuatu yang aku inginkan sejak dulu. Bahkan Kau memberiku bonus dua malaikat kecil yang akan menemani hariku. Benar kata Nenek, hadiah dari Tuhan selalu lebih dari apa yang kita inginkan.


Pandangan Senja masih tertuju pada Manda yang repot sekali di dapur. Dengan perlahan wanita itu berdiri dan meletakkan bayi perempuan yang di balut dengan kain pink. Berhasil meletakkannya tanpa menangis adalah sebuah hasil yang membanggakan bagi Senja.


"Ibu, mau aku bantu?"


Manda terkejut.


"Alana mana? Kamu letakkan dia di box? Jangan di biarkan sendiri. Kamu jaga mereka. Biar aku yang masak, ini akan cepat. Kamu lapar sekali?" Manda bicara dengan tangannya yang tak berhenti melakukan sesuatu.

__ADS_1


"Ibu, kenapa Ibu mau aku repotkan?"


Pertanyaan Senja membuat aktivitas Manda berhenti lalu menatap wanita muda yang sudah bergelar ibu.


__ADS_2