Senja Dan Derita

Senja Dan Derita
83. Salah Terus


__ADS_3

"Jaga bicaramu Karang! Ini yang kamu dapatkan selama kamu bertahun-tahun menempuh pendidikan? Kakakmu tidak melakukan kesalahan apapun padamu, bahkan bertemu pun tidak. Kenapa kamu selalu menghinanya? Apa salahnya padamu?" Wajah serta mata Akmal memerah berusaha dengan keras menahan amarah.


"Gara-gara dia aku dulu mendapatkan hinaan sana-sini, dari teman, dari musuh, dari semua orang yang bertemu aku, mereka memandangku dengan sebelah mata. Coba bayangkan sudah berapa mulut orang yang mencaciku. Mempunyai ayah yang tidak punya moral, hanya sebuah kesalahan dari masa lalu Papa, aku juga mendapatkan dampaknya. Apa juga salahku, kenapa aku harus menerima dampak dari kesalahanmu itu. Dan satu lagi,  perlakuanmu pada kami yang tidak pernah berubah. Pertengkaran-pertengkaran yang Papa ciptakan sama Mama, perhatian Papa yang sama aku nggak ada sama sekali jangan-jangan tercurahkan oleh anak Papa yang lain. Papa memikirkan keberadaannya, keadaannya, iya, kan? Sampai-sampai Papa lupa kalau ada aku di sini. Jadi wajar kalau aku benci dia, perhatianmu dengan keluargamu sama sekali nggak ada gara-gara anak sialan dan wanita yang Papa hamili itu."


Akmal semakin murka. Ia merasa Karang sudah sangat kurang ajar, tangannya kembali melayang ke udara. Belum sempat telapak tangan itu menyentuh dengan kasar pipi Karang.


"Mau pukul aku lagi? PUKUL Pa! PUKUL!"


Dengan cepat Akmal menurunkan kembali tangannya, dadanya bergemuruh, nafasnya mulai terasa sesak menahan amarah.


Akmal bingung, ia berada di posisi yang serba salah. Ia bersikap tegas pada Karang, tapi Karang menyalah artikan ketegasannya. Ia membiarkan Karang, masa depan anak itu akan terancam.


"Kenapa diam, Pa?" Karang yang tadinya berteriak, kini berbicara dengan lemah, matanya pun sudah nampak penuh dengan air mata.


"Papa sadar nggak, sih aku selama ini berontak ke Papa? Papa Lihat keberadaan aku apa enggak? Apakah Papa berpikir selama ini aku tidak mengerti apa-apa? Aku melihat semuanya, Pa. Aku sadar aku terjun ke dunia hitam itu aku sadar, Pa. Aku sadar, aku salah. Aku melakukan ini supaya aku dapat perhatian dari Papa, aku mau lihat apa peduli apa nggak sama aku. Bagaimana cara pedulinya Papa ke aku. Aku cuman mau Papa itu keberadaan aku, Pa. Papa pernah nggak selamat belasan tahun aku sekolah datang ke sekolah aku ambil rapot? Pernah nanya aku ada PR apa nggak? Pernah nanya bagaimana keseharian aku di sekolah? Papa pernah ngobrol sama aku, Pa? Pernah Papa ngajak aku aku main? Ngajak aku jalan-jalan? Papa sadar apa nggak selama ini Papa juga melakukan kesalahan sama aku, sama Mama?! Jangan hanya fokus sama masa lalu Papa. Papa sibuk memikirkan kesalahan masa lalu Papa, tapi tanpa sadar Papa juga mengukir kesalahan di masa depan."

__ADS_1


Karang berhenti sejenak untuk menghapus air matanya yang sudah luruh. Nafasnya pun sudah tersengsanl-sengal karena sejak tadi meluapkan emosi.


"Memang iya, tidak seharusnya aku membenci anak Papa yang lain. Memang dia tidak salah dalam hal ini,  dia juga tidak pernah salah padaku. Tapi dia sudah merebut Papaku dariku."


"Karang, dia tidak pernah merebut Papa dari siapapun. Ya oke, Papa sadar Papa salah. Apa yang harus Papa lakukan supaya kamu bisa menjadi lebih baik Karang? Papa nggak mau kamu seperti ini, Papa peduli sama masa depan kamu." Nada bicara Akmal melembut karena ia sadar kesalahan yang ia buat memang begitu fatal. Ia sadar ia banyak menyakiti hati banyak orang.


"Papa boleh peduli sama masa depan aku dengan mengajariku untuk menjadi pimpinan, dimulai dari usiaku yang bahkan masih dibilang aku nggak bisa melakukan itu. Tapi, jangan kekang aku lupa, jangan aku melakukan ini nggak boleh, aku melakukan itu nggak boleh. Aku juga mau kumpul sama temen, Pa."


"Dengan datang ke club?"


Clara yang sejak tadi bungkam akhirnya angkat suara.


"Kamu mau anak kamu rusak dengan sering datang ke club?"


"Aku nggak ke club, aku cuman nongkrong doang sama temen-temen. Aku akan pulang sebelum tengah malam. Udah puas, kan?"

__ADS_1


Karang mengakhiri ribut itu dengan segera pergi dari sana. Kini tinggal menyisakan Clara dan Akmal.


"Kamu ini kenapa, sih? Baru tadi pagi, loh kita sepakat untuk tidak bilang soal Senja kamu kenalin Karang sama Senja. Karang, tuh masih belum bisa menerima kehadiran anak kamu yang lain. Kamu juga harus ngerti, kamu nggak bisa terus menggenggam Karang dengan erat. Sekali-kali kamu juga harus melonggarkan genggaman itu biar Karang nggak terus-terusan berontak dan terus-terusan menjadi anak yang dugal."


"Kalau nggak dijelaskan dia akan terus salah paham. Dia akan terus mengira kalau aku mementingkan Senja daripada dia. Padahal dari awal ketemu Senja juga aku mengorbankan dia lagi. Kamu tahu ceritanya dari awal sampai akhir. Sekali-kali kamu habisin waktu sama Senja. Kamu akan tahu bagaimana kehidupan dia, biar kamu sama Karang juga nggak mikir yang aneh-aneh. Nggak mikir bahwa aku terlalu fokus dengan Senja sampai aku lupa sama kalian. Kalau memang aku hanya mementingkan Senja aku sudah meninggalkan kalian. Senja kerja juga nggak di perusahaan aku. Dia lebih memilih bekerja di perusahaan orang lain ketimbang di perusahaan ayahnya sendiri. Kamu pikir dia begitu karena apa? Karena hargai kita juga, dia nggak mau kalau kalian mengalami kecemburuan sosial. Dia juga nggak mau jadi benalu, dia nggak mau lama-lama makan uang aku, makanya dia kerja. Cobalah untuk mengikuti saranku, untuk satu hari bersama dia. Satu hari mendengar ceritanya, aku yakin pikiran kamu akan berubah, Cla."


Tak mau lagi memperpanjang urusan yang sebenarnya tidak perlu dibahas berlama-lama, Akmal memilih melipir pergi dari hadapan Clara. Akmal sudah bosan bertengkar dengan Karang dan Clara perkara Senja, padahal ia sebagai seorang ayah dua anak hanya ingin bersikap adil pada keduanya.


"Senja, Senja, Senja. Hanya satu nama itu yang selalu membuat keluargaku menjadi ribut setiap saat. Apa istimewanya wanita itu sampai-sampai aku harus menghabiskan waktu satu hari dengannya? Baiklah, aku akan coba dan membuktikan ke Akmal, kalau keyakinan dia salah. Aku nggak akan merubah pikiranku terhadap wanita itu."


Dan pembuktian itu di lakukan oleh Clara ke esokan harinya. Pukul sembilan pagi di hari sabtu, ia sudah bercermin di depan meja riasnya. Menumpuk crean di wajahnya dengan bedak, memberikan sedikit polesan lipstik berwarna merah di bibirnya, ia membiarkan rambutnya yang panjangnya sepundak terurai menantang angin yang akan menerbangkannya. Meski usianya sudah kepala empat, Clara adalah salah satu wanita yang peduli dengan penampilan. Itu sebabnya ia terlihat masih cantik meski sudah memiliki anak yang beranjak dewasa.


"Mau ke mana?" Akmal yang bertanya.


"Kamu sendiri yang memintaku untuk bersama Senja sehari. Dan sekarang aku akan melakukannya, kamu masih bertanya," jawab Clara menyambar tasnya dan berjalan keluar kamar.

__ADS_1


__ADS_2