Senja Dan Derita

Senja Dan Derita
78. Sial Yang Tak Terlalu Sial


__ADS_3

Tak seperti biasanya, Senja yang sejak sore di tunggu oleh kedua anaknya tak kunjung pulang. Bisanya ibu dari dua anak itu paling lambat akan pulang pukul empat sore. Namun, jarum jam sudah menunjukkan hampir angka enam, tak ada batang hidung Senja yang menunjukkan tanda-tanda ia pulang.


Manda yang juga menunggu anaknya pulang, mondar-mandir dengan gelisah. Bukan karena ingin segera diajak ke suatu tempat, tapi Senja tidak biasanya pulang terlambat tanpa kabar. Manda sudah berkali-kali menghubungi nomornya, tapi nomor wanita itu tidak aktif.


Sementara yang di tunggu sedang kebingungan di jalan. Ban mobil yang kempes di tambah baterai yang habis, membuat penderitaan Senja terasa lengkap di hari yang menjelang malam itu. Senja berjalan sedikit jauh dari tempat mobilnya, barangkali ia menemukan sebuah taksi atau sebuah halte di zaman yang sudah serba canggih ini.


"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Bagaimana caraku pulang, tidak ada taksi sama sekali di sini. Mana lapar." Senja lalu berjalan menuju seberang jalan, ada kedai sederhana yang nampak menjual mie ayam. Rasanya sudah lama wanita itu tidak makan makanan sederhana itu.


Satu mangkuk mie ayam bakso dan segelas teh hangat menjadi menu pilihan andalan Senja dari dulu hingga kini. Hari semakin gelap dan udara semakin terasa dingin menusuk tulang hingga ginjal. Terlambat kembali ke kantor dengan tumpukan pekerjaan yang menggunung membuat Senja cukup kapok untuk mengulangi kesalahannya kedua kalinya.


"Maaf, Pak. Bisa saya pinjam hape Bapak buat hubungi ibu saya? Dia pasti bingung sampai sekarang anaknya belum pulang. Hape saya kehabisan baterai." Senja memberanikan diri untuk meminjam ponsel pemilik kedai untuk menghubungi ibunya.


"Iya, sebentar saya ambilkan."


Senja lega. Akhirnya ia bisa menghubungi ibunya. Awal mula ia menghubungi nomor rumah. Dua kali tidak ada jawaban membuat Senja menghubungi nomer ponsel ibunya. Sering pertama tidak ada jawaban, kemudian ia kembali menghubungi untuk kedua kalianya dan


"Halo."


"Halo Ibu ini aku Senja. Maaf aku baru baru hubungi Ibu. Aku akan terlambat pulang, karena aku tadi lembur banyak banget kerjaan dan pulang-pulang mobil aku bocor. Hape aku juga kehabisan baterai, jadi aku pinjam hape orang untuk hubungi Ibu. Anak-anak gimana, Bu mereka nggak ngamuk nungguin aku, kan?" Senja yang hafal dengan kebiasaan kedua anaknya sedikit was-was.


"Nggak, mereka baik-baik aja. Nggak ngamuk, ini Ibu bawa ke mall. Mereka dari tadi siang sudah merengek minta ke mall, tapi ibu nungguin kamu dulu niatnya, karena kamu nggak pulang-pulang jadi ibu bawa mereka ke mall nggak apa-apa, kan? Kamu di mana? Biar orang bengkel yang jemput mobil dan kamu pulang dijemput supir."


"Aku lagi ada di Jalan Pahlawan. Aku juga lagi makan di kedai. Kedai depan sekolahan. Aku tunggu di kedai, ya Bu."

__ADS_1


"Ya udah, duduk diam di sana ini udah mulai gelap."


Senja mengakhiri obrolannya dengan ibunya. Ia segera mengembalikan ponsel itu kepada pemilik dengan menyelipkan beberapa lembar uang berwarna merah.


Sempat terjadi penolakan, namun bukan Senja namanya jika ia tidak berhasil membujuk seseorang. Ia sekarang bisa makan dengan tenang. Kunyahan demi kunyahan ia nikmati dengan santai saja, menikmati setiap rasa yang ada di makanan sederhana itu.


Sudah masuk bersenggama dengan mienya, tepukan dipundak wanita itu membuat Senja terlonjak dari tempatnya karena terkejut. Dan memang ia benar-benar terkejut begitu menoleh ke belakang.


"Leo, kamu ada di sini?"


"Nggak, aku lagi di Sumatera. Udah tahu berdiri di sini masih nanya lagi. Kamu baru pulang kerja?" tanya Leo duduk di depan wanita itu dan memberikan kode pada penjual untuk membuatkannya semangkuk mie dan juga segelas minuman.


"Iya, aku tadi pas jam istirahat terlambat masuk lagi ke kantor. Kerjaanku banyak banget, makanya aku tadi lembur, tapi pas aku pulang, ban mobil aku bocor, hape aku kehabisan baterai, jadi, ya udah aku nunggu supir di sini," jawab Senja seraya mengunyah makanan.


Leo mengangguk terdiam, tapi tatapannya masih mengarah pada Senja. Pria itu sedang membatin, tanpa mandi dan minyak wangi wanita itu masih terlihat bening. Sungguh ingin sekali ia menggeleng-gelengkan kepalanya karena ia begitu heran dengan kecantikan Senja yang tidak pernah luntur termakan usia. Kecantikan yang dimiliki Senja benar-benar alami.


"Kamu mau ke mana?" tanya senja mengelap keringat di dahinya.


"Sepupu, kebetulan besok ada yang mau nikahan, jadi aku ke sana. Yah, kumpul-kumpul aja sebelum menyandang status baru."


"Kok kamu tahu aku ada di sini, sih?"


"Ya aku tadi lihat mobil kamu di pinggir jalan. Aku ketuk-ketuk kaca mobil, kok nggak ada orang. Ya Aku lihat sekeliling, apa yang dilakukan sama seorang wanita karir di jam segini, parkir mobil di depan sekolah? Aneh aja terus lihat kamu di sini. Ya udah aku samperin. Gimana kalau aku antar pulang aja, kamu hubungi supir kamu nggak usah jemput." Leo meletakkan ponselnya di atas meja dan mendorongnya ke arah Senja.

__ADS_1


Senja yang baru saja memasukkan mie ke dalam mulutnya seketika tersedak. Tenggorokannya terasa tergelitik mendengar omongan Leo. Ia tidak masalah jika pria itu mengantarnya pulang, tapi yang menjadi masalah adalah ketika nanti bertemu dengan anak-anaknya. Tidak bermaksud untuk menyembunyikan mereka dari ayahnya, atau tidak mengizinkan Leo bertemu dengan ayahnya. Tidak, tidak seperti itu, hanya saja ia belum siap kalau Lei dan anaknya mengetahui semuanya sekarang. Bukan bermaksud untuk menyembunyikan sebuah fakta, sekali lagi hanya saja Senja belum siap membuka fakta tersebut sekarang.


Tapi tunggu, anak-anak sama ibu lagi di mall, kan? Kayaknya nggak masalah kalau aku diantar pulang, di rumah nggak ada orang.


"Katanya mau ke rumah sepupu."


"Nggak buru-buru, kok. Mau juga tahu tempat tinggal kamu yang sekarang."


"Nggak merepotkan?"


"Kan aku yang memberi tawaran, bagaimana ceritanya aku direpotkan?"


"Ya udah boleh, aku coba hubungi supir aku, ya." Setelah sekian lama teronggok di sana, akhirnya ponsel itu tersentuh juga oleh tangan lembut Senja.


Mereka menghabiskan makanan yang ada di depan mereka dengan ngobrol santai seperti biasa saat bertemu. Tak berselang lama, tiba-tiba saja hujan mengguyur dengan deras.


"Kenapa celingukan? Aku, kan bawa mobil, nggak akan kehujanan juga. Tenang aja."


"Mobil kamu mana?"


"Tuh, ada di depan mobil kamu. Udah habis, kan? Ya udah yuk kita pulang."


Senja hanya mengangguk pasrah. Ia sungkan hendak mengatakan bahwa dirinya alergi dengan air hujan. Ia khawatir jika akan tambah merepotkan.

__ADS_1


"Kita ke sananya gimana?"


Leo tak menjawab, ia justru melepas jaketnya dan memberikan kode Senja untuk mendekat ke arahnya.


__ADS_2