
Dan hari itu pun tiba, hari di mana Karang benar-benar menjadi pimpinan sebuah perusahaan yang masih berjalan dari bawah. Perusahaan yang baru saja dibangun oleh Akmal, sengaja ia persiapkan untuk masa depan Karang. Ia hidup anaknya terjamin nantinya, Tapi sayangnya, Karang melakukan tindakan yang membuat ayahnya marah. Sehingga Akmal memutuskan untuk menumpahkan perusahaan itu sekarang.
"Kamu akan Papa lepas sama Pak Niko. Kamu akan diajari dan dituntun sampai kamu bisa. Ini perusahaan Papa bangun buat kamu, Papa mulai sekarang lepas tanggung jawab dengan perusahaan ini. Kamu sendiri yang akan memajukannya nanti. Jangan harap kamu bisa main mulai sekarang."
"Iya."
"Kamu laki-laki. Suatu saat nanti akan jadi kepala keluarga, kamu main-main sekarang, masa depan kamu dipertaruhkan."
"Aku nggak akan pernah jadi kepala keluarga, nggak akan pernah menikah. Pernikahan hanya membuatku menderita seperti kalian. Mencintai seseorang saja tidak akan pernah aku lakukan, apalagi menikah."
"Terserah. Kamu urus sendiri masa depan kamu. Yang terpenting adalah Papa sudah kasih bekal, mau kamu urus apa nggak, kamu sendiri yang memilih. Jangan minta apapun lagi dari Papa."
"Memang aku pernah minta apa ke Papa?"
Akmal memejamkan mata seraya menghirup nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Ia lakukan itu berulang kali agar amarahnya bisa mereda, sungguh ucapan Karang beberapa hari terakhir membuat ia naik darah.
Ia ingin murka seperti beberapa hari yang lalu, namun ia juga sadar bahwa tindakannya selama ini adalah sebuah kesalahan. Ia tidak memperhatikan Karang seperti perhatian seorang ayah pada anaknya. Ia sadar ia juga salah dalam hal ini.
"Ya sudah Papa mau kerja dulu." Akhirnya Akmal memutuskan untuk pergi daripada terus memberi anaknya pesan dan amanah, tapi selalu jawab dengan ungkapan menyakitkan.
Karang menjatuhkan bokongnya di kursi yang akan membesarkan namanya. Mengangkat kedua kakinya ke atas meja, menyalakan rokok dan mengeluarkan ponselnya lalu ia bermain-main dengan benda pilih itu.
Sedang asik berselancar di dunia maya, tiba-tiba saja pintu terayun ke dalam. Muncullah sosok pria yang bertubuh kekar dan tinggi di sana. Pria itu adalah Niko, orang yang bertugas mendampingi Karang selama di kantor. Perawakannya masih muda, usianya yak jauh beda dengan Karang. Hanya terpaut lima tahun saja. Ya, di usia Niko yang ke dua puluh tujuh ini, ia mendapuk karyawan terbaik di perusahaan Akmal.
"Selamat pagi, Mas Karang."
"Pagi."
"Baik, kalau begitu Mas Karang bisa pelajari ini dulu. Nanti kalau ada yang tidak mengerti bisa tanya ke saya."
"Iya."
__ADS_1
Karang melanjutkan permainannya di ponsel. Permainan yang menjamur di kalangan anak muda.
"Ngapain masih di sini? Ya udah kerja aja sana. Nanti aku tanya kalau ada yang nggak paham."
"Kerjaan saya, kan Mas Karang. Tugas saya di sini nggak ada yang lain selain mendampingi Mas Karang. Saya tidak akan di samping Mas Karang hanya ketika di jam istirahat. Silakan di pelajari sekarang, Mas."
"Kamu tahu siapa saya, kan? Saya laporin Papa kalau kamu semena-mena."
"Silakan saja, Mas. Saya di beri wewenang penuh untuk menjadikan Mas pemimpin di perusahaan ini. Saya bebas melakukan apapun untuk menggembleng Mas Karang menjadi pemimpin. Pak Akmal sudah mempercayai saya sepenuhnya."
Karang membanting ponselnya ke meja. Melirik berkas yang tak tebal, namun ia begitu malas menyentuhnya. Membayangkan mempelajari pekerjaan kantoran saja sudah memusingkan.
Karang melirik Niko yang masih berdiri di sampingnya. Dengan sangat terpaksa ia meraih berkas itu dan mulai membukanya. Ia benar-benar membacanya, tapi entah masuk ke dalam kepala atau tidak, hanya Karang dan Tuhan yang tahu.
Lima menit, sepuluh menit, Karang masih sibuk dengan deretan huruf yang berjejer rapi di kertas putih bersih itu.
"Aku haus," ucap Karang tanpa mengalihkan perhatian pada kertas di depannya.
Hening.
"Pak, nggak dengar aku tadi bilang apa?"
"Dengar, Mas." Niko menjawab dengan mata yang masih memandang benda yang ia pangku.
"Lah, terus kenapa nggak nyaut?"
"Mas Karang tadi bilang haus, kan? Secara logika saja, anak TK juga akan langsung minum ketika haus. Di meja sudah tersedia air putih satu gelas. Mas Karang tinggal ambil lalu minum. Lalu gunanya saya menyahuti ucapan Mas Karang apa?"
"Kalau aku mau minum ini juga nggak akan bilang akun haus. Aku mau yang lain, kopi hitam."
"Di situ ada telepon yang bisa langsung nyambung ke bagian pantry. Ada satu orang yang jaga di sana. Nanti akan dibuatkan."
__ADS_1
Niko akhirnya berdiri dan memberitahukan nomor-nomor yang akan terhubung ke beberapa bagian.
***
Pagi itu Senja dan Leo kembali berdua setelah beberapa hari yang lalu melakukan meeting bersama. Mereka kembali tak sengaja bertemu di salah satu toko kue.
Memang menjadi kebiasaan Senja ketika sebelum berangkat ke kantor akan membawa beberapa camilan untuk teman berkutat dengan laptop dan juga berkas.
"Udah buka buku catatan yang aku kasih?"
Masih ada beberapa menit sebelum memasuki jam kerja. Mereka memutuskan untuk berbincang sebentar.
"Udah. Kamu kayak abg aja ngasih-ngasih begituan."
"Kan mggak ada tulisannya. Nggak ada catatan di dalamnya, kan? Buku itu berguna buat kamu. Sekretaris, kan? Pasti banyak catatan, jadi bisa di bawa ke mana-mana."
"Iya, sihm makasih, ya. Terus yang di buku itu nomer siapa?"
"Kok tahu ada nomor telepon di situ?"
"Iya tau aja, kan aku buka semuanya itu lembaran."
"Biasanya nih, ya kalau orang dikasih buku, halaman pertama nggak ada tulisannya, ya udah balik ditutup aja, kenapa kamu buka sampai akhir? Berharap ada pesan aku, ya di sana?" goda Leo menaik turunkan alisnya.
"Ha? Ya, ya, ya nggak gitu. Yang kamu sebutkan tadi itu, kan kebiasaan orang lain. Kebiasaan aku, ya aku memang buka dari depan sampai belakang." Senja seketika tergagap.
"Oh gitu. Itu nomerku, boleh simpan di hape kamu boleh nggak. Suka-suka kamu aja. Atau kalau kamu mau kenalkan aku ke temanmu yang masih single, boleh juga," ujar Leo terkekeh.
"Nanti akan aku pikirkan. Aku jalan sekarang, ya. Kamu mah enak, mau sampai jam berapa aja nggak ada yang marah. Nah, aku?" Senja berdiri dan melangkah keluar toko. Leo dengan sigap mengikuti gerak Senja.
"Kenapa kamu milih kerja di perusahaan lain? Ayahmu, kan juga punya perusahaan. Malah aku baru dengar kalau dia baru opening kantor baru. Katanya untuk anaknya, aku pikir buat kamu."
__ADS_1
"Kamu, kan tahu aku ini bagian masa lalu Ayah. Dia sekarang udah punya keluarga, banyak yang harus dia urus. Aku nggak mau nyusahin dengan menambah beban dia lagi. Aku udah cukup menyusahkannya beberapa tahun yang lalu. Aku mau berdiri dengan kakiku sendiri."
Leo dibuat semakin kagum dengan sosok wanita yang di depannya. Dari dulu hingga sekarang ia tak pernah berubah. Keberanian dan kemandiriannya sangat langka di jumpai di diri wanita lainnya.