Senja Dan Derita

Senja Dan Derita
6. Dewasa Sebelum Waktunya


__ADS_3

"Manda, ada apa denganmu? Dia bahkan baru saja menginjakkan kaki di rumah setelah pulang dari rumah sakit. Lepas!" Aldi berusaha untuk melepas cengkraman kuat yang bertengger di lengan kecil Senja.


Melihat keributan yang semakin runyam membuat Bu Patmi juga tersulut emosi. Hanya karena sebuah buku yang sedikit usang Cucu kesayangannya mendapat perlakuan yang kejam.


Bu Patmi menatap buku yang di punggung Senja. Anak kecil itu begitu erat menggenggam buku bersampul biru itu. Tak mau berlama-lama lagi, Bu Patmi mengambil buku tersebut dan melemparnya ke arah Manda.


"Itu, kan yang kamu inginkan? Ambil dan buang! Jangan sakiti Cucuku. Hanya karena sebuah buku usang, kamu bertindak kriminal. Ibu benar-benar gagal menjadikanmu seorang wanita. Kamu terlalu jahat!"


"Dia yang jahat, dia yang buat aku begini! Aku benci apapun yang berhubungan dengan dia." Manda mengambil korek dan berniat membakarnya.


Senja dengan cepat merebut kembali buku itu. Ia tak tahu apa yang membuatnya begitu berani pada Ibunya. Hanya karena sebuah buku yang ia sendiri tak tahu apa isinya, ia terang-terangan melawan Ibunya yang sebelumnya selalu ia iyakan apapun ujarannya.


"Aku mau simpan buku ini. Aku janji buku ini tidak akan terlihat di mata Ibu."


Merasa menyerah dengan buku yang ingin sekalinya ia lenyapkan, Manda memilih pergi dari rumah dengan membawa amarah yang masih di puncak.


"Kamu dan pemilik buku ini sama saja, sama-sama perusak hidup orang!" hardik Manda menghentakkan kaki ke luar rumah.


"Coba lihat tangan kamu, biar Pakde obati."


"Sudah, Pakde tanganku hanya memar. Rasa sakit ini nggak seberapa, aku sudah melalui rasa sakit lebih dari ini. Nek, boleh aku tahu ini buku siapa? Kenapa Ibu bilang aku dan pemilik buku ini sama-sama merusak hidup Ibu? Aku ingin tahu siapa dia, aku mau tanya kenapa dia rusak hidup Ibu?" cerca Senja dengan polosnya.


Bu Patmi tak langsung menjawab, beliau justru menatap anak sulungnya seakan bertanya haruskah Senja tahu sekarang? Anak sekecil ini, apa bisa memahami apa yang terjadi?


Dengan gerakan isyarat pula, Aldi menjawab tatapan Ibunya. Ia menggerakkan kepalanya ke bawah dengan pelan, seakan ia sendiri ragu dengan apa yang harus mereka lakukan.


Bu Patmi melangkah mendekati Cucunya, dengan langkah yang terasa berat dan jarak yang terasa panjang. Padahal Nenek dan Cucu itu berdiri dengan jarak yang tak lebih dari seratus lima puluh senti.

__ADS_1


"Buku ini adalah buku Ayah kamu," ucap Bu Patmi dengan pelan namun sukses mencubit jantung Senja.


"Ayah? Jadi Ayah yang sudah merusak hidup Ibu? Apa yang sudah Ayah lakukan, Nek? Kenapa Ayah melakukannya?" Senja tak bisa menahan kekecewaannya. Ia bertanya dengan suara yang bergemetar.


Tes.


Air mata Senja tanpa aba-aba dengan kurang ajarnya menetes tanpa diminta. Ia begitu kecewa mendengar penuturan Neneknya. Sosok laki-laki yang Senja rindukan dan ingin sekali ia lihat ternyata justru menyakiti Ibunya begitu dalam.


Hening. Suasana hening masih memenangkan keadaan rumah yang saat ini dihuni beberapa orang. Semua berkecamuk dan tenggelam dalam pikiran yang entah bagaimana cara menjelaskannya.


"Nek, apa yang dilakukan Ayah?" desak Senja dengan merengek. Pipinya masih basah oleh cairan bening yang baru saja tumpah ruah.


"Dulu, Ayah kamu melakukan sebuah kesalahan. Dia sudah melakukan tindakan..." ucapan Bu Patmi terhenti, beliau bingung harus menjelaskan dengan bahasa yang bagaimana? Beliau merasa Senja belum waktunya mengetahui jati dirinya.


"Tindakan apa, Nek?" Senja masih memaksa Bu Patmi untuk bercerita.


"Apa aku lahir dari sebuah kesalahan?" tanya Senja menyelidik.


Deg!


Bu Patmi dan anak menantunya saling pandang. Lebih tepatnya jantung mereka serasa di remas dan di lepas paksa oleh tangan tak terlihat. Hatinya terasa di tusuk-tusuk oleh jarum.


"Dari mana kamu mendapat kata-kata seperti itu?" Aldi yang bertanya.


"Memang siapa orang yang mau dekat denganku? Sampai-sampai aku harus mendengar kata itu dari orang lain?" tanya Senja balik. Ucapan yang keluar dari mulut Senja seakan menandakan bahwa ia bukan lagi anak-anak yang mudah di bohongi.


Aldi hanya bisa kembali diam, ia tak habis pikir dengan apapun yang menjadi pertanyaan Senja. Kenapa anak sepuluh tahun ini begitu pandai mengolah kata untuk membuat lawan bicaranya diam.

__ADS_1


"Bukan itu maksudnya, Sayang. Di dunia ini tidak ada manusia yang lahir dari sebuah kesalahan. Semua sudah ada yang mengatur, sudah ada garis takdir dalam kehidupan manusia. Semua sudah di atur sama Allah. Bagaimana kita lahir hingga kita mati. Termasuk kamu, bagaimana kamu bisa berpikir seperti itu? Pikiran dari mana, Nak?"


"Lalu kenapa Ibu benci aku dan Ayah? Jawab aku Nek, Pakde. Apa yang aku lakukan sampai Ibu benci aku?" Senja bertanya dengan nada lemah dan melas. Sungguh akan membuat tangis bagi siapapun yang mendengar.


"Tidak, Nak. Ibu tidak benci kamu. Ibu hanya belum berdamai dengan masa lalu. Masa lalu Ibu sangat pahit dan..."


"Itu salahku? Iya, kan? Seandainya saja aku tidak hidup dan seandainya saja aku mati saat Ibu berusaha menggugurkan aku, pasti Ibu tidak akan seperti ini?"


"Bukan itu, Sayang. Kendalikan dirimu, kamu masih terlalu kecil untuk bicara seperti ini!" ucap Bu Patmi dengan sedikit meninggi.


"Tapi itulah yang aku dengar dari Ibu. Ibu selalu mengatakan seandainya saja aku mati, maka hidup Ibu tidak akan sehancur ini. Jika Ayah yang berbuat salah, lalu kenapa harus aku yang menanggungnya? Lalu ke mana Ayah sekarang, Nek? Ayah ke mana? Kenapa Ayah meninggalkan aku dan Ibu?" Senja terisak hingga sesak nafas.


Bu Patmi dan Aldi tentu saja dibuat panik. Mereka tak tahu harus berbuat apa. Semakin lama nafas Senja semakin tak beraturan.


"Senja, Nenek mohon tenanglah, Nak! Minyak, ambil minyak angin Aldi, cepat! Kenapa kamu selalu saja linglung di saat kondisi genting begini." Mengomel, Bu Patmi selalu saja mengomel saat situasi yang membuat panik mendominasi.


Aldi dengan garuk-garuk tengkuknya tiba-tiba saja lupa di mana letak kotak obat. Ia menggeledah setiap laci dan entah laci ke berapa ia baru menemukan kotak itu. Bagai menemukan harta karun, Aldi berseru senang ketika kotak obat ada di tangannya.


Aldi mengoleskan minyak di bawah hidung Senja, dengan harapan ketika ia mengambil nafas bau minyak tersebut menguar ke paru-paru dan melegakan nafas Senja.


Disaat nafas yang entah mengapa tiba-tiba sesak. Senja mendekap buku itu dengan erat. Entah apa yang ia harapkan dari buku itu. Entah ia penasaran dengan isinya atau memang ia ingin menyimpan satu-satunya barang Ayahnya yang ia punya.


Sepersekian menit berlalu, nafas Senja sudah kembali normal, keringat membasahi dahinya. Dengan pelan ia meneguk air yang disodorkan oleh Neneknya.


"Nenek mohon jangan berpikir yang tidak-tidak. Kalau kamu masih ingin tahu atas pertanyaan yang sejak tadi kamu lontarkan kamu harus tetap hidup hingga dewasa. Ketika usiamu sudah dua puluh tahun, kamu akan tahu semuanya. Nenek janji, sebelum usia kamu dua puluh tahun, jangan pernah tanyakan ini lagi! Sanggup?" ujar bu Patmi tegas.


"Sanggup!" jawab Senja tak kalah tegas.

__ADS_1


__ADS_2