Senja Dan Derita

Senja Dan Derita
92. Niat Yang Sedikit Kuat


__ADS_3

Karang berusaha dengan keras menekan perasaan tidak suka saat bersitatap dengan sang Ayah. Ia masih enggan bicara panjang lebar dengan pria itu, sikapnya ia paksakan untuk tetap baik saat bicara dengannya.


Bukan hal yang mudah bagi Karang untuk berubah dalam satu waktu. Merubah dirinya menjadi lebih baik nyatanya tak semudah yang ia kira. Kekakuan, sakit, dan luka yang begitu dalam terpatri di hati begitu sulit untuk diajak kompromi.


"Karang, kuliah kamu gimana? Masih aman meski harus kuliah di malam hari? Papa akan kasih kamu kelonggaran kalau kamu keberatan. Kamu bisa ke kantor setengah hari saja. Dan sisanya kamu buat kuliah. Papa juga akan kasih kamu kelonggaran untuk kumpul dengan temanmu. Tapi hanya satu hari saja. Weekend hanya dua hari, satu hari buat temanmu dan dirimu sendiri lalu satu hari lagi dengan kami. Papa sudah tua, Papa takut jika waktu Papa nggak lama sama kamu."


Mendengar kalimat Akmal, entah mengapa hati Karang terasa nyeri. Hatinya merasa tercubit mendengar kalimat sang Ayah yang terakhir.


"Jangan bicara seperti itu. Tidak baik," jawab Karang nampak acuh, namun hatinya sedikit ricuh. "Jangan ke mana-mana dulu sebelum aku bisa sukses, aku juga mau buktikan kalau masa depan aku nggak rusak seperti yang Papa bilang," imbuhnya.


Akmal dan Clara hanya saling pandang, nampaknya mereka mulai melihat sedikit perubahan di diri Karang. Tinggal mereka yang harus mengubah kebiasaan hidup dan hubungan yang tak sehat agar Karang menjadi semakin yakin, bahwa perubahannya nanti tak berujung sia-sia.


***


Semenjak hari minggu yang berarti untuk perubahan beberapa orang di dunia itu, Karang yang tadinya memiliki pribadi yang begitu rusak kini mulai sedikit demi sedikit kembali menatanya. Meskipun ia masih tergabung di dalam genk motor yang dipandang buruk oleh beberapa orang, ada beberapa hal kecil yang mulai ia rubah kebiasaannya. Salah satunya adalah tidak lagi menyudutkan sang Ayah dengan seribu alasannya untuk mencela.


Meski sudah begitu, Karang masih belum bisa damai dengan masa lalu sang Ayah. Ia masih enggan jika kedua orang tuanya membahas sang Kakak saat dengannya. Akmal dan Clara pun berusaha paham dan tidak memaksa kehendak mereka begitu saja. Mereka akan sabar menunggu dan pelan-pelan menuntun Karang agar mau menerima masa lalu Akmal dengan legowo.

__ADS_1


Clara adalah orang yang paling ingin Karang segera mendapatkan hidayah. Ia tahu dan sudah merasakan bagaimana jika kita berdamai dengan masa lalu dan menerima segala sesuatunya dengan ikhlas. Hati dan pikiran kita akan jauh lebih tenang dan bahagia. Hidup kita pun terasa jauh lebih ringan.


Dan dampak dari apa yang dilakukan Clara, kini sudah terasa di kehidupannya. Akmal yang tadinya acuh dan memberikan pedulinya hanya sekenanya saja, kini sikapnya juga mulai berubah menjadi sosok suami yang lebih baik di mata Clara. Entah itu hanya untuk sebagai sebuah penghargaan atas sikapnya yang menerima suaminya dengan apa adanya, atau memang Akmal sudah berniat ingin merubah segalanya di usianya yang sudah tak lagi muda.


Clara tak memikirkan alasan suaminya merubah dirinya, ia hanya fokus pada perubahannya sekarang. Ia menikmati perhatian dan kasih sayang Akmal yang mulai terlihat. Ia tak peduli itu dilakukan dari hati atau tidak, Clara akan lebih tenang jika ia tak memikirkan alasan suaminya itu.


Hingga dua bulan setelah Karang menginap di rumah Senja, Karang tak menceritakan apapun mengenai baik Senja maupun Leo. Pemuda itu nampaknya masih tertutup jika itu mengenai masalah pribadinya. Hingga hari ini, Karang yang akan bermain ke rumah Senja pun tidak menceritakan apapun soal kepergiannya yang akan ke mana dan menemui siapa. Akmal mengetahui jikalau sang anak perjakanya akan datang ke rumah Senja melalui Senja sendiri.


"Biarkan saja dulu, Yah. Kita, kan nggak  bisa merubah orang secara instan. Dia masih tertutup biarkan saja, yang penting, sekarang dia ada sedikit perubahan untuk tidak mengolok-olok atau menyudutkan Ayah lagi."


Pembicaraan melalui telepon itu mau tak mau harus terhenti karena Karang nampaknya sudah sampai di rumah Senja.


Karang tak tahu apa yang mendorongnya untuk memikirkan kata-kata Leo itu. Yang ia tahu hanya satu, sejak kata-kata itu terdengar di telinganya, entah kenapa ia ingin sekali mendengar cerita Senja. Melihat kehidupannya yang penuh dengan kebahagiaan sekarang, apakah kehidupan Senja sebelum ini lebih menderita darinya? Karang tak yakin, itulah sebabnya ia ingin bertanya.


"Akhirnya sampai juga, tuh anak-anak udah pada nungguin di depan TV, yuk masuk! Katanya mereka pengen main sama kamu. Maklumlah, ya sebelumnya mereka ini ada teman yang seumuran sama kamu, anaknya Bibi, tapi sekarang dia lagi PKL jadi mereka kesepian."


"Bang Leo enggak ke sini emang?"

__ADS_1


"Kebetulan dia lagi ada di luar kota dari dua hari yang lalu. Sebentar aku ambil minum, ya."


Karang yang memang belum akrab dengan mereka masih nampak canggung. Pemuda itu duduk bergabung di lantai beralaskan karpet dengan mainan yang begitu banyak dan berserakan.


"Main tuh enaknya sambil makan. Nih, Om bawa makanan. Jangan berebut!"


Mata keduanya seketika berbinar melihat dua kantong kresek berisi aneka jajanan supermarket.


"Wah makasih, ya Om," ujar keduanya secara serempak.


"Kalau ke sini, ke sini aja nggak usah bawa apa-apa, Rang. Nggak usah se formal itu."


Senja kembali dengan sebuah nampan berisi dua gelas jus alpukat dan satu piring camilan. Sementara si kembar yang sudah sibuk dengan jajanannya membereskan mainan lalu beranjak ke taman samping rumah.


Karang menyedot jusnya terlebih dahulu sebelum memulai maksudnya datang ke rumah ini.


"Mbak aku bisa tanya-tanya sesuatu ke Mbak? Ini bersifat pribadi, Mbak boleh menolak untuk menjawab kalau Mbak keberatan."

__ADS_1


"Apa?"


"Sebelumnya aku mau cerita sedikit sebelum aku bertanya. Jadi kemarin aku tuh, ngobrol banyak sama Bang Leo. Aku sedikit banyak jadi tahu kehidupannya Bang Leo. Dari obrolan kita itu, aku menyinggung soal ketidakpercayaanku terhadap cinta dan kasih sayang karena aku tidak melihat itu selama aku hidup. Terus Bang Leo menceritakan sedikit masa lalu di hidupnya sebelum menjadi seperti sekarang. Terus bang Leo juga bilang ke aku, kalau aku harus tanya ke Mbak Senja tentang apa itu kekuatan cinta. Aku nggak tahu apa maksudnya, tapi Bang Leo bilang kalau aku mendengar kehidupan Mbak Senja sebelum sekarang pasti pola pikirku akan berubah mengenai dua hal itu. Bang Leo bilang sebelum aku menyesal aku harus merubah pola pikirku. Itulah sebabnya selama dua bulan ini aku begitu menggalau karena pengalaman yang dibagikan ke Bang Leo. Aku tiba-tiba mulai takut kalau masa depanku tidak seindah yang ada dalam bayanganku."


__ADS_2