
Hingga kini dud manusia yang berstatus sebagai ayah dan anak itu masih bersitatap dalam ketegangan. Sedangkan satu-satunya wanita yang berada di situ hanya diam, seakan wanita itu masih tidak percaya dengan pertengkaran yang ia lihat.
"Jawab aku, Pa! Salahku di mana?"
"Sebenarnya Papa sudah bosan mengulang ini, tapi kamu harus tahu."
Mengalir lah cerita Akmal di masa lalu. Ia yang sudah tak ingin membahasnya lagi, terpaksa ia kembali membuka mulutnya demi meluruskan kesalahpahaman Karang.
"Aku nggak peduli. Aku udah kecewa sama Papa. Terlepas dari masa lalu, mental aku pun sudah rusak karena kalian. Kalian hanya mengajariku cara bertahan dalam kesengsaraan. Kalian pikir aku tidak sakit hati, melihat pertengkaran, perkelahian, adu mulut yang nyaris setiap hari kalian tontonkan padaku? Aku diam bukan karena aku nggak tahu. Hati aku juga terlanjur sakit saat ingat kalian selalu sibuk dan mementingkan urusan kalian sendiri, kalian tidak pernah tanya bagaimana keseharian aku, apa yang terjadi padaku, kenapa kalian memutuskan menikah dan punya anak ketika di antara kalian tidak ada cinta, kenapa? Kalian adalah orang tua yang egois, kalau aku bisa milih, lebih baik aku matu dari pada punya orang tua seperti kalian."
"Karang," panggil Clara lemah.
"Aku sayang sama Mama, aku juga nggak mau lihat Mama nangis terus setiap bertengkar sama Papa. Tapi Mama juga turut andil dalam goresan luka hati aku, Ma. Luka pertama yang aku punya, ya dari kalian. Dan semakin aku dewasa, luka itu bukannya kalian buat kering, tapi malah kalian siram dengan air garam. Setelah itu kalian buat ukiran lagi di atas luka aku. Selamanya nggak akan pernah sembuh."
Karang menghentikan ucapannya, menatap kedua orang tuanya yang hanya terdiam. Wajahnya seakan menyiratkan penyesalan, tapi sayangnya, Karang sudah tak percaya dengan wajah palsu yang mareka tunjukkan.
Tiba-tiba kelopak matanya berair, pandangannya buram, dadanya terasa sesak penuh dengan beban. Mungkin akan lega jika ia keluarkan sekarang.
"Kalian pernah ngajarin aku apa? Kasih sayang, cinta, perhatian? Pernah kalian ngajarin aku tiga hal dasar yang harusnya aku terima dari aku di dalam kandungan? Tiga hal yang harusnya aku dapat dari kalian, justru aku dapat dari orang lain. Kalian tidak mengajarkan apapun padaku selain luka."
__ADS_1
"Karang, Ayah menyekolahkan kamu setinggi mungkin biar bisa jadi orang, biar otak kamu bisa dipakai. Kenapa kamu jadi brutal seperti ini? Sudah berapa kali kamu mengecewakan Papa? Papa ingin kamu jauh lebih baik dari Papa, bukan malah lebih buruk."
"Papa pernah ngajarin aku hal baik apa? Hal baik yang bagaimana yang Papa inginkan dariku?"
"Kamu harus sukses, Karang. Kamu harus bisa buat Papa bangga."
"Hal apa yang bisa aku banggakan dari Papa selain kesuksesan?"
"Karang, setiap manusia punya kesalahan, pasti punya masa lalu yang kelam, begitupun juga Papa. Semua orang punya masa lalunya sendiri-sendiri, yang terpenting sekarang adalah bagaimana cara kamu menggapai masa depan yang bagus, yang indah, yang lebih baik. Kamu jangan fokus sama kesalahan Papa."
"Aku tidak dapat memfokuskan kesalahan Papa, tapi yang aku lakukan sekarang adalah hasil dari didikan Papa sendiri. Bukannya Papa itu selalu mementingkan kepentingan sendir,peduli dengan ego sendiri, tanpa peduli dengan perasaan orang-orang di sekitar Papa. Papa mikir nggak waktu adu mulut sama Mama, waktu bertengkar, aku dengar. Papa nggak mikir perasaan aku bagaimana? Kalian juga pernah nggak, mikir ketika aku kecil, aku minta kalian datang ke sekolah, lalu kalian meributkan hal-hal itu. Memperdebatkan siapa yang datang ke sekolah, siapa yang paling sibuk, siapa yang paling menjadi manusia karir. Apakah kalian berpikir aku masih kecil aku nggak bisa terluka begitu? Justru dari situlah luka kecil itu mulai tumbuh melebar dan menganga."
Semua terdiam. Dua manusia yang tak lagi mudah itu nampak baru sadar jika setiap perilaku yang mereka tunjukkan ternyata dalam pengawasan Karang. Mereka seakan baru membuka pikirannya.
"Mama lupa aku pernah mengutarakan ini? Apa kalian berubah? Nyatanya aku malah ditampar kenyataan kalau Papa punya anak haram dari wanita lain di masa lalunya."
Suata tepukan antara pipi dan telapak tangan kembali terdengar. Kali ini suara yang diciptakan Akmal begitu menggelegar di telinga Clara. Sungguh sakit hatinya melihat anak semata wayangnya mendapat perlakuan kasar.
"Tidak ada anak haram! Mau bagaimanapun dia, dia tetap anak Papa, kakak kandung kamu. Dalam kalian mengalir darah Papa. Jangan pernah mengatakan hal menjijikkan itu lagi, Karang. Kamu lebih beruntung dari dia."
__ADS_1
"Iya, aku lebih beruntung dari dia dari segi materi. Tapi tidak dengan kasih sayang."
"Suah cukup Karang! Pembahasan ini selesai sampai di sini. Papa mengajakmu bicara karena Papa ingin tahu alasan kamu pergi ke klub itu, tapi malah malebar kemana-mana."
"Sekarang sudah tahu, kan? kalau begitu aku mau istirahat."
Tanpa menunggu jawaban dari siapapun Karang melangkah pergi.
"Tunggu Karang!"
Pemuda itu terpaksa menarik salah satu kakinya yang sudah menapaki anak tangga yang pertama. Ia masih terdiam di bawah anak tangga tanpa menghadap ke arah sang ayah yang sudah menghentikan langkahnya.
Terdengar suara langkah kaki yang mendekat. Tanpa menoleh ke belakang pun Karang sudah tahu siapa pemilik kaki itu.
"Mulai besok kamu urus sendiri perusahaan yang akan Papa berikan padamu. Kamu harus bisa bagi waktu antara bekerja dan juga kuliah."
Aknal terpaksa mengambil keputusan secara sepihak, karena ia merasa ini adalah jalan satu-satunya untuk mengisi waktu karang yang kosong saat tidak kuliah. Ia berharap dengan bekerja anaknya itu bisa menjadi manusia yang lebih baik dari dirinya.
"Kalau aku tidak mau?"
__ADS_1
"Papa akan cari tahu siapa teman kamu yang membuat kamu seperti ini. Akan Papa buat dia dan keluarganya menjauh dari kamu."
"Baik kalau begitu, aku akan mengurus perusahaan itu. Aku melakukan ini bukan untuk Papa tapi untuk temanku. Dia lebih berarti dari siapapun, jangan lupa sama kata-kataku tadi, kalau aku mendapatkan tiga hal dasar yang harusnya diterima oleh seorang anak, aku mendapatkannya dari temanku. Dari sini aku bisa belajar kualitas diri Papa yang sebenarnya." Karang lalu kembali berjalan menuju kamarnya.