Senja Dan Derita

Senja Dan Derita
59. Cerita Karang


__ADS_3

Senja menepati janjinya pada sang Ayah, bersikap biasa saja di depan ibunya, menunjukkan seolah-olah memang ia tak tahu apa-apa. Namun, di belakang sikapnya yang biasa saja itu Senja diam-diam memeriksakan diri untuk mengetahui keadaan ginjalnya. Ia ingin tahu apakah ginjalnya baik-baik saja dan cocok untuk ibunya.


Ya, senja merasa menunggu donor darah dari orang lain sangatlah lama dan tidak bisa diharapkan. Sebelum terjadi sesuatu dengan ibunya, ia akhirnya inisiatif untuk mendonorkan ginjalnya sendiri.


"Maaf sekali, Bu karena ibu sedang menyusui jadi tidak kami sarankan untuk mendonorkan ginjal. Kami tidak ingin dengan tindakan kami ini akan mempengaruhi kesehatan Ibu, sehingga itu akan berdampak pada anak-anak Ibu juga. Hidup dengan satu ginjal itu tidak mudah, Bu. Wanita seperti Ibu ini harus mempunyai fisik dan psikis yang sehat. Jadi, mohon maaf kami tidak bisa mengabulkan permintaan Ibu."


Itulah jawaban dari dokter ketika Senja mengutarakan niatnya datang ke rumah sakit. Ia akhirnya pulang dengan harapan hampa. Datang ke rumah sakit dengan semangat dan harapan yang besar, namun begitu sampai di rumah sakit harapannya dipatahkan oleh ucapan dokter itu.


Hingga siang itu, di hari ulang tahun Alan dan Alana yang pertama. Aldi membawa kabar baik di hari yang istimewa. Ia mengabarkan pada semua orang bahwa Manda mendapatkan donor ginjal yang cocok untuknya.


"Pakde serius?" Pekik Senja berbinar.


"Serius, ini tadi Pakde dikabari sama pihak rumah sakit."


"Kok ke nomer Mas Aldi?" Akmal ikut bertanya.


"Iya, emang yang aku tulis nomerku. Manda nggak mau, katanya nanti kalau ada deringan hape dia berharap panggilan dari rumah sakit. Semakin di berharap, maka akan semakin sakit nantinya. Gitu, katanya."


"Oh ada yang takut dipatahkan oleh harapan juga, ya ternyata," sindir Akmal.


Manda hanya menjawab dengan cibiran saja.


"Kapan operasinya?" Senja yang bertanya.

__ADS_1


"Minggu depan. Jadi tugas kamu mulai sekarang jaga pola makan dan kesehatan Ibu. Biar nanti pas hari operasi sehat dan siap untuk sembuh."


"Dari dulu juga aku jaga Ibu. Tuh, tanya sama Ibu. Sejak Ibu jujur padaku soalnya sakitnya, aku selalu jaga Ibu."


"Ibu jujur sama kamu? Yakin?"


"Aku paksa lah."


Acara makan siang itu akhirnya berlanjut dengan nikmat dan penuh dengan canda tawa, sudah seperti keluarga yang utuh tanpa masalah. Padahal salah satu diantara mereka ada yang sedang memikirkan sesuatu, Akmal yang sudah mulai mencurigai sedikit demi sedikit perubahan sikap Karang.


***


"Habis ini lo mau sekolah di mana? Gimana kalau kita satu sekolah aja, biar pertemanan kita nggak putus." Andra, teman yang paling dekat dengan Karang. Bisa dibilang kedekatan mereka ini seperti saudara. Sama-sama menjadi anak tunggal membuat mereka saling melengkapi satu sama lain.


"Boleh. Belajar mulai dari sekarang, lo. Kita masuk di SMA favorit yang ada di ujung jalan sana. Ceweknya cantik-cantik, lumayan buat bahan mainan. Bikin baper mereka terus tinggal."


Pertanyaan Andra membuat pikiran Karang berkelana mengenai permasalahan yang ia alami dari semasa ia kecil hingga sekarang.


Jika dulunya Karang sering mendengar kata-kata dan ungkapan-ungkapan kasar dari mulut kedua orang tuanya, matanya pun sekarang dipaksa untuk melihat keadaan kedua orang tuanya yang selalu berjauhan dan jarang bertegur sapa.


Sudah jarang pertengkaran di antara mereka, tapi yang nampak jelas kini adalah Clara dan Akmal yang seperti orang asing di dalam satu atap, setidaknya itu yang Karang tangkap dari apa yang ia lihat.


"Gue nggak trauma atau mati rasa, gue hanya nggak punya cinta. Dan cinta menurut gue itu, nggak ada."

__ADS_1


"Terus kenapa lo ada niatan untuk mempermainkan perempuan? Gue nakal, gue akui gue nakal. Gue yang ngenalin lo sama hal-hal yang harusnya kita hindari. Tapi gue nggak ada pikiran yang sama kayak lo. Bagi gue, perempuan harus di jaga, Rang. Kita lahir dari seorang perempuan, janganlah sakiti kaum mereka. Mereka itu hatinya lembut, lo baperin doang terus tinggal, iya kalau itu cewek nggak apa-apa. Kalau mentalnya yang kena gimana?"


"Lo nggak kayak gue, karena lo dikelilingi banyak cinta," jawab Karang lalu kembali menghisap rokoknya.


"Emang lo, nggak? Kita sama aja, kali Rang. Orang tua kita sama-sama punya kesibukan sendiri-sendiri dan seakan lupa kalau mereka punya anak."


"Tapi orang tua lo adem ayem. Mereka meskipun sibuk dari pagi sampai sore di luar rumah, mereka malamnya ada waktu buat lo, kan? Mereka punya quality time buat mereka sendiri dan juga lo. Sebenarnya lo itu nggak kekurangan kasih sayang dibanding gue. Lo aja yang merasa kurang, kan? Kalau lo lihat gue di rumah, mungkin lo akan bersyukur, lo punya orang tua yang sekarang. Gue nginep di rumah lo cuman dua hari aja iri sama lo. Coba habis ujian akhir nanti lo tidur rumah gue. Biar lo lebih bersyukur punya orang tua yang sekarang."


"Bukannya nyokap lo di rumah dua puluh empat jam? Itu artinya lo nggak ada batasnya dong buat terima kasih sayang dari dia. Lo punya masalah apa sama orang tua lo? Kayaknya gue lihat berat banget Rang."


Tiba-tiba saja mata Karang memanas, tak lama kemudian pandangannya pun buram. Dadanya terasa sesak, sakit sekali rasanya jika ia harus mengingat apa yang ia alami selama lima belas tahun ini.


"Rang, lo bisa cerita ke gue kita, kan dekat udah lama. Lo anggap gue saudara, kan?" Andra yang menyadari perubahan raut wajah Karang, ia menyentuh pundak sahabatnya itu. Dan di saat bersamaan air mata Karang yang tadinya berjejal di pelupuk mata kini sudah berhamburan keluar.


"Ceritanya panjang, Ndra. Kalau gue ceritain, gue takut lu jadi iba ke gue."


"Lo meragukan persahabatan kita?"


"Justru karena gue ken lo, gue jadi merasa punya keluarga. Lo ngajarin gue hal-hal yang nggak-nggak, hal-hal yang mengarah ke hal yang negatif. Tapi, di satu sisi gue bersyukur gue punya lo, lo yang selalu ada buat gue."


"Ya lo cerita dong, lo ada apa? Lo kenapa?"


Mengalirlah cerita Karang dari ia berusia mengerti dengan keadaan sekitarnya hingga kini. Andra memperlihatkan wajah terkejut.

__ADS_1


"Jadi lo anaknya Pak Akmal? Pengusaha sukses yang pernah kesandung kasus pemerkosaan di masa lalu? Lo serius, Rang?" Respon tak terduga dan tak percaya ditunjukkan Andra. "Terus lo pernah ketemu sama kakak lo?"


"Nggak, gue nggak ada niatan untuk mau tahu, mencari tahu dan peduli dengan masa lalu Papa. Gue nggak ada urusan."


__ADS_2