Senja Dan Derita

Senja Dan Derita
98. Kumpulan Keluarga


__ADS_3

Karang, pemuda yang saat ini dibicarakan Senja dan Leo juga terlihat memikirkan keinginan Senja. Beberapa hari terakhir Karang memikirkan untuk bertemu dengan orang yang selama ini ia benci kehadirannya.


Mendapatkan dukungan dari teman dan beberapa orang di sekitarnya membuat pemuda itu memang harus bertemu dengannya. Karang akhirnya merencanakan ingin mengatur pertemuannya itu di weekend yang akan datang.


Dan beberapa hari setelah perencanaan itu, akhirnya hari ini mereka akan bertemu di sebuah restoran yang biasa ia dan kedua orang tuanya kunjungi. Karang di temani dengan kedua orang tuanya yang semakin hari semakin dekat dengannya duduk menunggu Senja dengan perasaan gugup.


"Karang, Papa bangga sama kamu. Karang yang dulu sudah benar-benar pergi. Terima kasih sudah membuat Papa bisa bernafas dengan lega sekarang. Papa benar-benar bahagia."


"Nggak perlu terima kasih, Pa. Kita sama-sama pernah salah dalam melangkah. Aku sebenarnya nggak mau bahas yang sudah berlalu, jujur aku malu dengan caraku memberontak dan cari perhatian ke Papa. Aku sekarang sadar kalau caraku salah dan aku akan berubah buat kalian dan masa depanku juga."


Akmal berkaca-kaca. Jujur saja ia tak pernah menyangka masa ini akan datang juga. Ia sempat terpikir bahwa momen ini tidak akan pernah ia lalui dalam hidupnya. Dan selamanya Karang akan mengenal Senja sebagai orang lain. Untunglah Tuhan masih memberikannya nyawa hingga detik ini, Tuhan menunjukkan rasa kasih sayang-Nya pada Akmal dengan memberikannya kesempatan untuk melihat kedua anaknya bertemu dan mengenal sebagai seorang Kakak dan Adik.


Beberapa saat berlalu, Akmal menyunggingkan senyum begitu melihat Senja yang sudah nampak muncul di balik pintu utama restoran. Satu lagi yang tak ia sangka dan tak ia percaya hingga detik ini adalah ia punya anak dari orang yang pernah ia cintai di masa lalu.


Pernah? Iya, pernah. Hanya pernah. Cinta yang selama ini terpatri dalam hati berusaha untuk ia hilangkan dalam hati. Apa sudah hilang? Tentu saja tidak semudah itu, memang tidak mudah bukan untuk menghilangkan rasa cinta kita terhadap seseorang, apalagi kita masih terikat dengannya dan sewaktu-waktu bisa bertemu kembali.


Namun, Akmal kini sudah merubah hidup dan jalan yang akan ia tempuh. Ia bertekad dan harus belajar untuk mencintai wanita yang sudah menghibahkan hidupnya selama puluhan tahun terakhir. Bertahan dengan dirinya yang sama sekali tidak ada rasa terhadap istrinya membuat Akmal merasa beruntung memiliki istri seperti Clara. Wanita itu memang bukan wanita sempurna, tapi kesabaran dan ketulusannya yang begitu sempurna mampu membuat Akmal merubah pola pikirnya dengan perlahan.


"Maaf aku terlambat. Apa aku terlalu lama membuat kalian menunggu?"


Karang seketika berdiri dari tempatnya. Ia ingat betul bahwa tujuannya ke sini untuk bertemu dengan kakak tirinya. Ia diam menatap bingung kedua orang tuanya dan juga Senja yang masih memperlihatkan senyuman manisnya.


Kebingungan yang ia pertontonkan rupanya tak membuat mereka betiga lantas menjelaskan kenapa Senja ke sini dan mengatakan bahwa keterlambatannya membuat mereka semua menunggu. Setelah beberapa detik mencerna apa yang ia lihat, akhirnya Karang menyimpulkan bahwa


"Jangan bilang kalau... Mbak Senja adalah..."

__ADS_1


"Iya, Karang. Mbak Senja yang kamu anggap sebagai Mbak kamu sendiri ternyata memang Kakak kamu. Dalam tubuh kita mengalir darah yang sama."


Sulit di percaya, Karang tak mampu berucap bahkan satu kata pun. Keterkejutannya membuat ia merasa bisu mendadak, ia linglung dan ingatannya beberapa waktu lalu yang begitu memggebu mengatakan bahwa ia benci sosok kakak yang merusak hidupnya kembali terngiang di telinga dan menari di pelupuk mata. Seolah otaknya itu mengingatkan bahwa ia harusnya malu karena ternyata selama ini ia mencaci seseorang itu langsung di depannya. Tapi kenapa Senja tak marah?


"Mbak jangan bercanda, Pa, Ma." Karang memanggil semua orang bergantian dengan tatapan yang haus penjelasan.


"Iya, dia Kakak kamu," ucap Akmal.


Karang bingung hendak bereaksi bagaimana. Ia tak merencanakan jika kakak kandungnya adalah Senja. Ia mengira pertemuan ini adalah pertemuan pertama baginya dan sang Kakak. Padahal ia sudah mempersiapkan obrolan dan permintaan maaf pada kakaknya. Namun, sungguh diluar dugaannya, orang yang akan ia temui justru ternyata orang yang selama ini ia kenal baik dan punya pembelajaran yang luar biasa hebat dalam mencintai seseorang.


"Aku nggak tahu harus ngomong apa." Karang yang sudah berkaca-kaca menghambur memeluk Senja.


"Aku minta maaf, Mbak," ucapnya seraya terisak. "Aku memperlihatkan kebencianku pada Mbak. Tapi Mbak nggak marah, Mbak tetap sabar memberiku arahan. Aku minta maaf." Untuk pertama kalinya, seorang Karang Rafandika meminta maaf seraya menangis terisak.


"Iya-iya. Mbak maafin. Mbak mengerti, jadi kamu bukan perkara mudah. Kita tinggalkan yang udah berlalu. Biarkan dia menjadi kenangan yang cukup kita simpan. Kita menata semuanya dari awal. Tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu." Senja melonggarkan pelukannya.


Tangan halus dan lembutnya tergerak untuk menghapus lelehan air mata yang membasahi pipi sang Adik.


Plak!


Senja menampar pelan pipi Karang.


"Kamu lebih tinggi dari Mbak rupanya. Di peluk sama kamu serasa di peluk sama suami," ujar Senja terkekeh.


"Kamu di peluk siapa aja juga rasa suami, tinggi badan kamu aja nggak seberapa," sahut Akmal yang di respon tawa oleh Clara dan Karang.

__ADS_1


Sementara Senja memanyunkan bibirnya. Meskipun begitu, ia benar-benar lega sekarng. Tidak ada yang mengganjal di hatinya kecuali satu hal, yakni hubungannya dengan Leo yang harus mendapatkan restu dari kedua orang tuanya.


Restu dari Manda sudah ia kantongi, tinggal meminta restu pada sang Ayah yang akan ia lakukan hari ini.


Setelah obrolan ringan dan santai mereka lempar satu sama lain, Senja mengubah mimik wajahnya menjadi serius. Ia benar-benar gugup saat ini.


"Ayah, aku ingin bicara sesuatu."


"Apa? Kan dari tadi kamu juga udah bicara."


"Ih aku serius."


"Iya, mau bicara apa?"


Belum sempat Senja bicara, teriakan dari seseorang membuatnya bungkam.


"Pada ngumpul di sini nggak ajak-ajak," sahut Leo berjalan mendekati meja.


"Selamat pagi, semuanya. Calon Ayah mertua, Ibu mertua dan juga adik ipar. Boleh aku bergabung di sini?"


Ucapan dari Leo di respon cubitan keras dari Senja. Tak lupa pelototan pun pria itu terima. Bulatan mata yang biasa ia tatap dengan indah kini berubah menyeramkan.


"Aduh sakit," keluh Leo.


"Senja jangan begitu, kamu menyakitinya. Ayo Leo duduklah!" Clara nampak menengahi pertengkaran tanpa kata yang mereka lakukan.

__ADS_1


__ADS_2