Senja Dan Derita

Senja Dan Derita
37. Peringatan


__ADS_3

"Kenapa kau nggak minta anak buah mu untuk jaga di sana?"


"Sudah, sudah dari aku ke sana waktu itu. Tapi mereka nggak ada lapor apa-apa. Hanya sekali saja Senja keluar rumah itu, itupun sama Leo. Katanya mereka ke rumah sakit, anak buahku nggak bisa ikuti sampai masuk, ada yang jaga mereka dari jauh. Hanya satu orang, tapi dia bahaya. Komplotan mafia."


"Kira-kira untuk apa mereka ke rumah sakit?" Aldi nampak berpikir keras, "Apa Jangan-jangan mereka akan program bayi tabung? Atau apapun yang berhubungan dengan anak? Aku yakin itu, Mal. Nggak ada alasan lain mereka ke rumah sakit. Kau ingat dia pernah mengatakan akan pinjam rahim Senja, kan?"


Akmal menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangan, tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Ia tak mungkin kembali gegabah mendatangi Leo lagi.


"Nggak ada pilihan lain, Kak. Kita harus bawa ke polisi ke rumah Leo. Bagaimana kalau kita pergi sekarang saja. Aku nggak mau anakku jadi mesin pembuat anak pria bejat itu."


"Kau yakin? Aku khawatir jika ini akan berdampak pada keluargaku dan keluargamu. Begini saja, besok coba kita datang ke..."


Ucapan Aldi terhenti karena bunyi ponsel di saku celananya.


"Iya, Dek? Kenapa?"


"Manda pingsan, Mas. Aku nggak tahu kenapa dia bisa pingsan, aku ke rumah antar makanan udah tergeletak di dapur."


"Ya udah aku pulang sekarang, coba kasih minyak di hidungnya nanti kalau nggak sadar-sadar kita bawa ke rumah sakit."


"Kenapa, Kak? Siapa yang sakit? Manda?" tanya Akmal sedikit panik.


"Iya, dia pingsan di dapur. Memang beberapa hari ini dia sedang mengeluh sakit di pinggang. Aku pulang dulu, ya."


"Iya, nanti aku ke sana kalau aku bisa keluar."

__ADS_1


"Utamakan keluarga, jangan tenggelam dalam masa lalu. Nggak baik." Aldi menepuk pundak Akmal dua kali lalu bergegas pergi.


Akmal benar-benar merasa tak berguna, ia tak bisa melakukan apa-apa disaat semua sedang genting. Perusahaan yang ditinggal klien secara mendadak, Senja yang masih dalam tekanan, dan sekarang Manda pun harus sakit juga. Belum lagi soal Clara yang setiap hari uring-uringan.


Di satu sisi ia ingin melupakan wanita masa lalunya, tapi di sisi lain ia merasa sulit melakukan itu. Sungguh perasaan Akmal saat ini sangat sulit untuk di mengerti.


***


"Bagaimana? Apa dia belum sadar?" tanya Akmal dengan nafas ngos-ngosan.


"Belum, dari tadi juga aku baluri minyak di beberapa bagian tubuhnya, tapai nggak ada perubahan. Bawa ke rumah sakit aja, Mas. Takut ada apa-apa."


Saat tubuh Manda diangkat dari lantai, tergenang darah yang mengalir, tak banyak, tapi berhasil membuat istri Aldi berteriak karena sejak tadi ia tak sadar punggung Manda terluka.


Manda langsung mendapat penanganan begitu sampai di rumah sakit. Sepasang suami istri itu menunggu dengan gusar di luar ruangan. Pikiran Aldi terfokus pada luka Manda. Apakah ini ada sangkut pautnya dengan Leo? Apa ini akibat dari keberanian Senja menghubunginya tadi? Itu artinya Senja tadi benar-benar ketahuan?


"Kamu tahu siapa yang melakukan ini?" tanya Aldi.


"Luka dia aja aku baru tahu pas kamu angkat, gimana caranya aku tahu siapa yang melakukannya?"


"Nggak ada orang yang datang ke rumah?"


Laura nampak berpikir, "Ada, nggak lama setelah kamu pergi, Manda ada tamu laki-laki, tapi Manda aku lihat nggak apa-apa, pas ada tamu itu. Dia sempat antar ke teras soalnya. Aku nggak kenal siapa dia. Selang setengah jam aku ke rumah, Manda tergeletak di lantai. Aku nggak tahu dia ada luka begitu."


"Itu artinya, tersangka lewat pintu belakang. Manda aja pingsannya di dapur, kan?" Aldi menerka-nerka. Mengajak otaknya untuk berpikir dengan keras.

__ADS_1


"Kamu tahu siapa yang tersangkanya?"


"Ya nggak, Dek. Aku juga lagi mikir, apa ini ada hubungannya sama Leo? Kamu tahu, tadi Senja menghubungi aku, nggak tahu pakai nomer siapa. Dari nada bicaranya di baik-baik saja. Tapi nggak lama kami ngobrol sambungan terputus tiba-tiba, aku coba hubungi lagi terangkat tapi dia nggak ngomong apa-apa. Cuma beberapa detik, lalu terputus lagi. Habis itu aku nggak bisa hubungi lagi. Aku tadi ke rumah Akmal, kenyataan lain aku dengar dari dia. Tubuh Senja penuh dengan luka ketika Akmal datang ke sana."


"Apa kamu berpikir kalau yang terjadi pada Manda adalah sebuah bentuk gertakan dari Leo, agar Senja nggak berani lagi melakukan apapun. Bisa jadi Senja sering berusaha kabur tapi nggak berhasil, dan itu membuat Leo akhirnya menjadikan orang terdekat Senja sebagai senjata. Dengan begitu, pasti Senja nggak akan berani melakukan apapun, kan? Apa kita sepemikiran?"


"Itu yang aku pikirkan. Semua orang tahu Senja keras kepala. Dia pasti nggak mau pasrah gitu aja dengan kungkungan Leo. Dan aku sampai sekarang nggak bisa berbuat apa-apa. Kita nggak lapor polisi aja ada korban begini, bagaimana kalau kita melakukannya? Ini semua berawal dari Manda sendiri, kalau dia nggak menerima uang dari Leo, kita nggak akan di posisi ini."


"Terus? Apa kita harus menunggu tanpa melakukan apapun? Kasihan sekali anak itu, dari kecil susah banget buat bahagia."


"Aku nggak punya kuasa apapun untuk menyelamatkan Senja. Perusahaan Akmal saja entah bagaimana kabarnya. Dia kehilangan banyak klien dan penanam saham, karena punya masa lalu yang bisa dianggap bentuk kriminalitas. Leo melakukan itu karena dia di pukuli sama Akmal. Rumah tangganya pun sekarang sedang berada dalam masalah. Antara bertahan dan tidak. Aku juga nggak bisa tekan Akmal terus menerus di tengah kondisinya seperti ini."


Hening sesaat. Tak ada yang tak mau di posisi mereka. Hingga kini mereka tak bergerak bukan berarti mereka tak menyayangi Senja. Tapi menang mereka sama sekali tak bisa bergerak karena diikat terlalu kuat, bergerak salah, diam saja semakin tersiksa.


Ditengah heningnya siang itu, dering ponsel Aldi berbunyi.


"Siapa, Mas?"


"Nggak dikenal nomernya." Aldi menggeser icon hijau untuk menerima panggilan.


"Iya, halo selamat siang," sapa Aldi.


"Pakde, ini aku Senja. Aku cuma mau bilang kalau aku di sini nggak apa-apa. Nanti aku akan pulang kalau memang waktunya pulang. Berjanjilah padaku jangan cari aku dulu. Nanti aku pasti pulang. Aku baik-baik saja di sini, aku bisa menjaga diri. Salam buat Ibu dan Nenek. Jagain mereka dulu, sebelum aku pulang."


Aldi sudah membuka mulutnya hendak bersuara, namun sambungan telepon itu sudah terputus. Ia berusaha untuk menghubungi kembali, naas nya nomer itu sudah tak aktif.

__ADS_1


__ADS_2