
Sama seperti halnya Leo, Senja juga betah menyendiri hingga kini. Kesibukannya yang menjadi wanita karir membuatnya lupa bahwa ia membutuhkan pasangan.
Ya, kini Senja menjadi wanita kantoran setelah beberapa tahun lalu memutuskan untuk meneruskan kuliah. Ia tak mau menjadi benalu terlalu lama untuk ayahnya, karena ia sadar ia adalah anak yang disembunyikan oleh sang ayah. Tanggung jawabnya tidak hanya pada dirinya.
Tap tap tap
Suara heels dari sepatu Senja yang menapak lantai terdengar menggema di bangunan luas nan tinggi itu. Wanita yang sedang dikejar waktu itu nampak berlari-lari kecil membuat beberapa helai rambutnya berterbangan ditiup udara. Hal itu sukses membuat senja diperhatikan oleh para karyawan yang ia lintasi, terutama para kaum lelaki buaya darat.
Jangan salah, selama delapan tahun menjadi seorang ibu, entah sudah berapa pria yang datang untuk meminang Senja menjadi istrinya. Namun, dari semua pria itu ia tolak karena, ia merasa pria-pria yang datang hanya mencintai dirinya tidak dengan anak-anaknya. Bagi Senja saat ini bukan hanya dirinya yang harus bahagia, tapi ia lebih mementingkan kebahagiaan sang anak. Ia sudah bertekad pada dirinya sendiri dan sudah berjanji bahwa ia akan menikah ketika anak-anaknya yang meminta.
"Astaga aku sudah terlambat sepuluh menit, mudah-mudahan anak-anak masih berada di sekolah." Senja semakin panik ketika melirik jam tangannya.
Senja panik bukan karena apa-apa, bukan karena takut anak-anaknya akan merajuk, karena telat menjemput. Itu justru jauh lebih baik daripada mereka naik angkot seperti beberapa waktu lalu. Menurut Senja, naik angkot sendirian adalah hal yang membahayakan, untunglah waktu itu tak terjadi apa-apa dengan mereka.
Senja sengaja memilih jalan pintas agar segera sampai di sekolah, ia tak mau anak-anaknya menunggu lebih lama hanya karena kemacetan.
Namun, harapannya untuk segera sampai di sekolah seakan dihambat oleh beberapa pemuda bermotor besar yang berjejer memenuhi jalanan. Entah sudah berapa kali ia menekan klakson dengan panjang dan durasi yang cepat. Namun, pemuda-pemuda itu seakan tuli.
"Ya Tuhan kenapa, kenapa mereka memenuhi jalan seperti ini? Lambat pula jalanannya." Senja bergumam seraya kembali menekan klakson.
Pemuda itu bukannya mengerti arti dari kode yang Senja berikan, justru mereka kompak berhenti di tengah jalan. Tanpa basa-basi lagi dan tanpa rasa takut, Senja segera turun dengan menampilkan wajah amarahnya.
"Hei apa kalian tidak punya telinga?" Teriak Senja menghadang jalan mereka.
Satu persatu dari mereka melepas helm yang menutupi seluruh wajah mereka. Seakan tidak ada rasa takut senja masih menunjukkan wajah sombongnya. Wanita itu refleks memperhatikan wajah mereka satu persatu. Jika dari dilihat dari wajahnya, mereka nampak masih muda, mungkin saja masih kuliah.
Pemuda yang berjumlah lima orang itu sudah melepas helmnya satu persatu, kecuali pemuda yang berada di tengah. Pemuda itu melipat tangannya di depan dada dan pandangannya seakan mengarah pada Senja. Entah hanya perasaan Senja saja atau memang pemuda itu benar-benar memperhatikannya.
__ADS_1
"Ngapain kalian lepas helm? Saya butuh Jalan bukan melihat wajah kalian. Minggir atau saya terjang kalian dari belakang."
Tidak ada respon dari mereka kecuali pemuda yang berada di tengah, dengan gaya songongnya ia melepas helmnya dan turun dari motor lalu mendekati Senja.
Pemuda itu tidak berucap apapun ketika berada di hadapan Senja. Justru pemuda itu menatapnya dengan lekat masih dengan gaya songongnya. Tangannya pun ia kembali lipatkan di depan dada.
"Kalau mau nerjang kita dari belakang kenapa nggak dari tadi aja? Kenapa malah menekan-nekan klakson? Nggak guna."
"Saya memberikan peringatan supaya kalian minggir. Tapi rupanya, sepertinya saya memang salah berhadapan dengan orang, ya dan saya juga salah memperlakukan kalian dengan baik. Sekarang minggirkan motor kalian, saya buru-buru. Saya tidak punya waktu untuk melayani kalian."
"Pinggirin sendiri kalau bisa."
Senja di buat semakin geram oleh pemuda di depannya itu. Sadar bahwa perdebatan ini tidak akan ada ujungnya, ia berjalan ke arah mobil dan merogoh tasnya. Ia berniat akan menelepon sang supir, mudah-mudahan saja supir itu sedang di rumah, harap Senja.
Jika kalian bertanya kenapa Senja tidak melakukan itu sejak saat di kantor tadi. Sejak di saat ia menyadari bahwa ia sudah terlambat menjemput anak-anak. Kenapa baru sekarang? Itu ia lakukan karena Alana, anak gadis kecilnya itu tidak mau jika dijemput oleh supir. Ia pasti akan merajuk pada ibunya, anak itu pasti merasa bahwa Senja tak sayang padanya karena lebih mementingkan pekerjaan.
"Tidak, Bu. Mereka tadi saya lihat diantar mobil bagus, tapi pemilik mobil tidak turun. Dia langsung melanjutkan perjalanan begitu Mas Alan dan Mbak Alana turun dari mobilnya."
Mendengar penuturan dari supirnya, tentu saja membuat Senja mengerutkan kening. Siapa gerangan yang mengantar kedua anaknya pulang.
"Tapi mereka nggak apa-apa, kan?maksudnya nggak ada luka atau apa gitu."
"Tidak, Bu. Alhamdulillah mereka baik-baik saja."
Perbincangan mereka selesai sampai di situ. Senja yang berniat ingin pulang, terpaksa ia urungkan. Atasannya menelpon dirinya untuk segera kembali ke kantor.
Wanita itu masuk mobil tanpa mempedulikan lima pemuda yang sejak tadi menatapnya.
__ADS_1
Kayak pernah lihat tapi di mana, ya?
"Woy lah Rang, ngapain lo masih berdiri di situ? Yuk buruan jalan."
Pemuda yang dipanggil 'Rang' itu terpaksa membuyarkan lamunannya dan berjalan ke arah teman-temannya lalu pergi dari sana.
***
Senja kembali ke berjalan dengan terburu-buru. Entahlah, semenjak ia bekerja di kantor, wanita itu merasa hidupnya di kejar oleh waktu. Ia harus membagi pekerjaan dengan anak-anaknya yang sering merajuk karena kesibukannya.
Alana adalah anak Senja yang paling sering protes soal kesibukan Senja yang menjadi wanita karir. Gadis kecilnya itu begitu manja dan susah untuk jauh darinya. Apapun harus berjalan sesuai dengan kemauannya, itulah salah satu sifat Leo yang ia turunkan pada Alana.
Senja lupa bawa hari ini ia menggantikan asisten pribadi atasannya untuk meeting. Dengan gerakan dekat ia segera berbenah diri. Penampilannya harus tetap cantik dan wangi di tengah gempuran keringat yang sedikit membasahi keningnya.
Setelah semua dirasa selesai, Senja membawa berkas yang ia perlukan untuk meeting nanti dan berjalan ke arah ruangan atasannya.
"Selamat siang pak meetingnya akan dimulai sepuluh menit lagi, kita jalan sekarang atau--."
"Sekarang aja klien kita nggak mau nunggu."
Nggak mau nunggu?
Mendengar kalimat tidak mau menunggu membuat Senja mengernyit. Pasalnya, kata-kata itu tidak pernah ia dengar selama bekerja di sini.
Tak mau meraba-raba kebenaran, ia segera membuka berkas yang ia bawa.
Astaga, Leo Hardana?
__ADS_1