
Satu minggu setelah menikah, Leo sudah kembali aktif di kantor. Lebih tepatnya ia terpaksa kembali aktif di usia pernikahan yang ke tujuh hari. Siapa lagi jika bukan karena paksaan dari istrinya untuk tidak meninggalkan pekerjaan terlalu lama.
"Nanti setelah kamu ada urusan sama temen kamu, kirim aku makan siang, ya," pinta Leo pada istrinya yang sedang menyimpul dasi di lehernya. Sudah lama ia tak diperlakukan seperti ini.
"Iya."
"Yang enak."
"Iya."
"Sama susunya juga."
"Iya."
"Maunya langsung dari pabrik."
"Iya, nanti aku beli sekalian sama pabriknya."
"Rasa vanila."
"Rasa apapun ada."
Leo tertawa, ia begitu menikmati ekspresi Senja yang kesal karena permintaannya. Rasa cinta pada diri Leo nyatanya sedang di masa pertumbuhan.
"Selesai. Udah rapi, ayo turun! Anak-anak sudah menunggu. Mereka mau di antar oleh kedua orang tuanya. Sudah seminggu mereka tidak bertemu kita hanya karena aku menuruti bayi sulungku ini."
"Kenapa kamu jadi nyalahin aku aja. Kamu nggak nolak ketika aku ajak bulan madu, kenapa sekarang jadi dibahas terus?" protes Leo tak terima.
"Di mana kata-kataku yang menyalahkan kamu? Kita yang antar anak-anak atau aku yang antar sendiri?"
"Iya-iya. Ya udah ayo."
"Bentar dandan dulu."
"Tadi di cepet-cepetin sekarang aku suruh nunggu juga," gerutu Leo kesal-kesal gemas.
Mendengar Leo yang menggerutu, Senja hanya perlu memberikan tatapan pisaunya ke arah Leo. Maka suaminya itu akan segera menurunkan pandangan ke bawah, pura-pura memainkan ponselnya.
Leo tak pernah berubah jika sudah mencintai seseorang. Ia akan menjadi bucin akut pada orang itu.
__ADS_1
"Udah, Mas ayo!" ajak Senja pada Leo yang hampir tertidur hanya perkara menunggu Senja yang mempercantik diri untuk ikut mengantar anak-anak ke sekolah.
Leo mendongak, ia begitu terkejut dengan apa yang ia lihat. Senja dengan dress di atas lutut, rambut panjang yang ia urai, sebuah tas kecil tersampir di pundak. Sungguh penampilan Senja membuat Leo melongo sesaat.
"Apa-apaan ini, Senja. Ganti baju! Kamu ngapain make up cantik begini? Hapus juga. Nggak usah dandan cantik." Leo beringsut mengambil tisu yang berada di meja rias dan hendak menghapus seluruh make up istrinya.
Senja yang memiliki refleks bagus seketika menghalangi niat Leo. "Mau apa? Kamu mau aku tampil jelek gitu? Aku, kan istri kamu. Istri pengusaha ternama, penampilan aku harus cantik dan elegan. Kamu mau dianggap nggak bisa merawat istri? Aku begini juga buat kamu, Mas. Nggak mungkin aku berpenampilan kayak dulu. Ka... "
Omelan Senja terhenti ketika bibir mungilnya dirampas paksa oleh bibir suaminya. Sudah seminggu ini, Leo tanpa absen menciptakan decakan yang memancing hasratnya. Rasanya tidak membungkam Senja sehari saja ada yang kurang dalam kesehariannya.
"Mama, Papa, ayo antar ke sekolah." Alan dan Alana membuka pintu tanpa memanggil terlebih dahulu.
Sarapan pagi yang nikmat itu seketika terlepas dengan segera. Sepasang suami istri yang kepergok berciuman itu seketika saling pandang dengan tatapan menyalahkan satu sama lain.
"Iya Sayang ayo berangkat!"
"Mama sama Papa habis ngapain?"
"Buat adik." Leo menjawab dengan santai seraya mengelap bibirnya dengan tisu lalu mengajak anak-anaknya untuk keluar kamar. Sementara Senja membenarkan lagi riasan lipstiknya yang amburadul.
Alan dan Alana nampak bingung dengan jawaban ambigu dari sang Ayah.
"Ayah mau buatin adik buat kita?" Alana yang bertanya.
"Iya."
"Iya memang Adik apa lagi?"
Alana garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Emang bahan-bahan membuat Adik itu apa, Yah? Ayah udah beli? Aku juga mau lihat pas Ayah buat adik," ujar Alana polos.
"Bahan-bahan membuat adik itu nggak perlu beli, cuman butuh sesuatu yang panjang dan sempit."
Alana semakin bingung. Sementara Alan yang sejak tadi diam juga tidak sembarang diam. Ia sedang berpikir keras apa yang dimaksud sang Ayah.
Plak!
Senja yang berjalan belakangan memberikan pukulan di lengan suaminya.
__ADS_1
"Ngajarin anak yang bener kenapa, sih? Masih kecil juga, malah diajak ngomong begituan."
"Aku nggak gamblang Sayang, aku pakai bahasa isyarat. Toh, mereka juga nanti akan mengerti apa yang aku maksud."
Senja tak menjawab. Ia merasa sejak menikah justru mereka sering adu mulut. Adu mulut menyebalkan dan adu mulut kenikmatan selalu Senja rasakan seimbang. Kehidupannya memang jauh lebih berwarna.
Sebelum mengantar si kembar ke sekolah, Leo lebih dulu mengantar istrinya yang sudah ada janji temu dengan temannya.
"Aku turun, ya Mas. Nanti anak-anak biar pulang sama aku aja."
"Iya. Hati-hati, kalau ada apa-apa buruan telepon aku, ya."
Ini adalah pertama kalinya Senja keluar rumah seorang diri tanpa Leo setelah menikah. Leo yang sebenarnya memiliki sifat posesif terhadap pasangan, ikhlas tidak ikhlas jika harus mengizinkan Senja keluar rumah tanpa dirinya.
"Iya Mas, aku sudah biasa keluar sendiri, kenapa kamu khawatir? Ya udah, ya aku turun."
Senja turun setelah mencium punggung tangan sang suami dan juga berpamitan pada anaknya.
Leo yang selama hidupnya tidak pernah diperlakukan seperti itu, terharu dengan perlakuan istrinya. Ya, hanya mencium tangan biasa saja tapi Leo sudah merasa senang dan dihargai, karena saat bersama dengan Rida tidak pernah sekalipun ia diperlakukan seperti itu.
Senja yang sudah lama tidak bertemu dengan temannya berjanji akan bertemu di sebuah Cafe temannya yang baru launching. Teman SMA yang sempat hilang kontak dan dipertemukan lagi di sosial media hingga akhirnya kembali terjalin sebuah hubungan pertemanan yang hangat sejak enam bulan yang lalu.
"Halo spada ke mana pemilik cafe ini?" teriak Senja yang langsung di sambut oleh temannya.
"Hey pengantin baru akhirnya datang juga, suami tidak ikut?" Arum menyambut Senja dengan pelukan serta cium pipi kiri dan kanan. Meluapkan rindu lantaran sudah bertahun-tahun tak bersua.
"Suamiku kerja dong. Masa suruh dengerin kita ngobrol," ujar Senja terkekeh.
"Ya udah mau duduk di mana?"
Senja melihat sekeliling dan ia memilih duduk di dekat dinding yang bergambar sepasang merpati. Langkah yang mereka bawa akhirnya sampai pada meja itu. Beberapa menit setelah Arum berteriak meminta dua minuman terbaik di cafe miliknya, datanglah seorang waiters dengan nampan yang berisi permintaan Arum.
"Cobalah, ini minuman terbaik di cafe ini."
"Pasti, ada kabar baik apa? Kenapa kamu sampai nyuruh aku datang ke sini?" tanya Senja setelah menyeruput secangkir latte di depannya.
"Udah lama kita nggak ketemu, kan? Masa aku minta ketemu aja kamu nanya gitu."
"Ya nggak sih, tumben banget gitu loh. Aku kenal kamu dari SMA, aku tahu kamu itu bukan tipe orang yang suka ngajak orang lain jalan-jalan, ketemu, kalau kamu nggak ada urusan sama dia."
__ADS_1
"Sayang, bahan yang kamu minta itu susah banget buat dicari aku nggak nemu."
Belum sempat Arum menjawab pertanyaan Senja, datang seorang pria dari arah pintu utama yang membuat Senja tertegun, seketika nyawanya seakan tiba-tiba melayang tanpa diminta.