Senja Dan Derita

Senja Dan Derita
85. Alan Dan Alana Versi Dewasa


__ADS_3

"Senja, kamu nggak benci Tante?"


"Nggak. Memang kenapa aku harus benci? Kenapa, sih kita harus menjalani hubungan yang canggung begini? Kita bisa jadi ibu dan anak kalau Tante mau."


"Syukurlah kalau begitu, permasalahan ini selesai. Tante lega dan nggak nyangka sebenarnya kalau Tante bisa menerima kehadiran kamu. Kamu pernah minta waktu Ayah kamu dua jam setiap harinya, kan? Tante akan membebaskan kamu bertemu kapan pun yang kamu mau. Tapi, ada satu yang masih mengganjal di hati dan pikiran Tante."


"Apa? Tante bilang aja."


"Karang, dia merespon kehadiran kamu dan ibumu sama seperti Tante kemarin. Tante nggak terima kalau Ayah kamu ada lain, ada keluarga lain selain kami."


"Itu yang aku ingin tanyakan. Tante sebenarnya apa yang terjadi? Aku melihat Karang beda dari Tante dan Ayah. Maksudnya dia seperti..."


"Iya, jadi diwaktu dia masih kecil Tante itu masih bekerja....."


Clara akhirnya mencurahkan apa yang terjadi dengan anak semata wayangnya. Ada perasaan malu saat dirinya bercerita. Tapi apa boleh buat? Ia harus menceritakan ini pada Senja agar anak tirinya tidak berbuat kesalahan dengan menemui Akmal di saat yang tidak tepat.


Ada wajah prihatin dan iba yang tercetak di wajah Senja. Tak ia sangka kesalahan Ayah di masa lalu benar-benar berdampak besar pada keluarganya. Benar-benar perjalanan yang begitu rumit dan pelik.


"Tante tenang aja. Nanti aku bicara pelan-pelan sama Karang. Aku akan datang sebagai teman, bukan sebagai Kakak. Dia belum tahu kalau aku Kakanya, kan? Itu akan lebih mudah untukku masuk ke dunia dia. Jangan beri tahu kalau aku Senja kakaknya. Aku akak berusaha untuk membuat Karang menjadi lebih baik."


"Ini sangat sulit, Senja."


"Tante, aku bisa menaklukkan ibuku dalam waktu belasan tahun. Jangan ragukan kesabaran seorang Senja. Perkara Karang itu mudah."


Clara mengangguk saja.


***


Pukul dua siang, setelah Leo menghadiri acara pernikahan sepupunya, ia mampir ke rumah Senja. Ia sudah membuat janji pada anak-anaknya untuk kembali bermain bersama.


"Hello, spada. Apa yang kalian lakukan?" sapa Leo saat menghampiri si kembar yang sedang bermain bersama di samping rumah.


"Om Leo. Aku lagi nyusun puzzle. Kalau Alan sedang merakit mobilnya. Dari kemarin, tadi pagi, hingga sekarang, kerjaannya hanya merakit satu mobil yang tidak pernah selesai," ejek Alana.


"Ini susah tahu, ini bukan mainan kamu yang tinggal tempel-tempel doang," sungut Alan tak terima.


"Udah tahu susah, kenapa di beli?"


"Ngasah otak."


"Ribet banget."


"Di mana-mana yang ribet itu perempuan. Noh, lihat Mama sama Oma kalau lagi mau kondangan ke rumah saudara. Kita dari berangkat mandi sampai siap di mobil belum selesai gambar alis."

__ADS_1


Ucapan Alan sontak mengundang tawa di mulut Leo. Pria itu refleks tertawa dengan lebar, Alan benar-benar sepemikiran dengannya.


"Apa hubungannya?" sentak Alana tak mau kalah.


"Udah-udah. Kalian nggak bisa nggak ribut sehari?"


"Nggak!" jawab Alan dan Alana serempak.


"Kalau kalian ribut gini apa yang akan di lakukan Mama?"


"Dibiarin sampai nanti aku nangis. Kalau aku udah nangis, nanti baru ditanya ada apa," jawab Alana masih sibuk degan puzzlenya.


"Kamu selalu nangis setiap berantem sama Alan?"


"Iya, dia nakal."


"Kamu yang mulai," sela Alan.


Leo menarik nafas dalam-dalam. Dari awal bertemu hingga sekarang, apapun yang ditanyakan oleh Leo selalu berakhir keributan.


"Ya udah terusin ributnya, Om pergi dulu. Nanti kalau sudah selesai kasih tahu Om."


"Mau ke mana?" Mereka bertanya bersamaan.


"Jalan-jalan."


"Janji dulu jangan bertengkar nantinya pas jalan-jalan."


"Janji."


"Ya udah izin Mama sama Oma dulu."


"Yang di rumah cuman Oma. Mama lagi pergi dari tadi pagi."


"Ke mana?"


"Nggak tahu, cuman bilang ada urusan penting."


Leo seketika merasa kesal. Ia kemarin sudah berpesan untuk tidak banyak berjalan, malah wanita itu pergi keluar rumah.


"Ya udah tunggu Mama dulu, ya. Beresin dulu mainannya."


"Mau ke mana? Kok harus tunggu Mama?" sahut Senja yang baru saja sampai di rumah.

__ADS_1


"Dari mana?" Alih-alih menjawab pertanyaan yang di tanyakan justru Leo kembali melemparkan pertanyaan.


"Keluar sebentar ada urusan," jawab Senja dengan enteng membuat Leo semakin geram.


"Aku bukan anak-anak yang bisa kamu jawab dengan jawaban random begitu. Dari mana yang jelas jawabnya!" Leo frustasi.


"Emang kenapa, sih? Apa urusannya coba sama kamu?" Senja berjalan melewati Leo karena merasa pria itu sedikit aneh dengan tingkahnya.


Jelas ada urusannya. Kamu nggak sadar apa selama ini aku berubah karena kamu. Dasar wanita nggak peka, bisanya ngerepotin perasaan orang aja.


"Aku belum selesai ngomong, nggak sopan main tinggal-tinggal aja," protes Leo berjalan mengikuti langkah Senja dan menjajarinya.


"Ya kamu aneh, kesel nggak jelas."


"Ya kamunya nggak bisa dikasih tahu, kamu aku kasih pesan apa kemarin? Jangan banyak jalan, kenapa malah keluar rumah coba aku tanya."


"Aku keluar rumah juga nggak jalan, aku naik mobil. Aku juga cuman duduk aja di restoran, ketemu sama orang. Nggak jalan-jalan kayak pelayan. Ngomel aja," geruti Senja kembali berjalan.


"Lagi pula kakiku udah mendigan, nih lihat udah nggak merah," lanjut wanita itu kesal.


"Iya, tapi masih bengkak itu. Buat jalan aja terus biar makin gede tuh kaki. Biar kayak kaki gajah."


Plak!


Satu pukulan cukup keras mengenai lengan kekar Leo. Pria itu hanya menatap Senja seolah menantangnya.


"Ada masalah apa, sih kamu sama aku. Kemarin aja sok baik, sok sweet, sekarang nyebelin."


"Ya kamunya di kasih tahu nggak bisa, udah dibilang suruh istrahat malah kelayapan."


"Siapa yang kelayapan? Aku ketemu sama istrinya Ayah. Ada yang kita bicarakan."


"Bicara apa?" Nada bicara Leo menurun.


"Cuman ngobrol dari hati ke hati aja. Soal perempuan, kamu kalau aku kasih tahu juga nggak bakal ngerti."


Senja melangkahkan kakinya, namun ia nampaknya lupa bahwa pergelangan kakinya masih cedera. Dengan santai ia menghentakkan kakinya ke lantai dan


Bugh!


Tidak, Senja tidak terjatuh mengenai lantai. Tangan Leo berhasil menopang tubuh wanita itu dan kini mereka saling timpa di bawah kursi. Senja yang sempat menutup mata perlahan membuka mata karena merasa ada sesuatu di atas tubuhnya.


Ternyata benar dugaannya, tubuh yang sedang menimpa dirinya adalah tubuh milik Leo. Seperti sinetron atau drama di televisi, mereka saling tatap satu sama lain dengan durasi yang lama dan seakan telinga mereka terdengar senandung sebuah lagu berjudul aku jatuh cinta yang di populerkan roulette.

__ADS_1


Karena posisi mereka yang begitu dekat, Leo nampak terbawa suasana, kepalanya sedikit ia majukan ke bawah dan


"Mama sama Om Leo ngapain di situ? Ngumpet dari kita?"


__ADS_2