
Senja masih berkacak pinggang, ia kesal karena Leo membiarkan kedua anaknya bertengkar dan dirinya malah enak-enakan duduk di atas pohon dengan mangga di tangannya.
"Ada apa? Ini masih ada satu mangga yang tersisa. Kalian bagi dua, ya. Nanti kalau kurang beli aja, Om yang beliin yang banyak," kilah Leo pada keduanya seraya menyodorkan satu buah mangga pada si kembar.
"Bukan perkara mangga, Leo. Kenapa kamu biarin anak-anak bertengkar sampai pukul-pukulan?"
"Ya mana tahu kalau mereka pukul-pukulan aku, kan ngikutin cara kamu. Kalau mereka berantem dibiarin entar kalau ada yang nangis baru ditenangin, terus dicarikan jalan keluarnya dari masalah. Udah selesai, mana aku tahu kalau ada adu pukul."
Leo lalu berjongkok di depan mereka.
"Kenapa kalian pukul-pukulan? Ada yang luka, nggak? Mana yang luka?" Leo memutar tangan keduanya. Tidak biasanya mereka bertengkar hingga adu pukul.
"Nggak ada Om."
"Ya udah saling minta maaf, untuk kali ini nggak ada penolakan. Om nggak peduli siapa yang salah, siapa yang mulai. Semua harus minta maaf, nggak ada yang memgajari kekerasan. Gara-gara kalian Om kena omel sama Mama."
Alana memonyongkan bibirnya. Meskipun dengan terpaksa ia tetap mengulurkan tangan juga untuk meminta maaf lebih dulu.
"Ya udah, nih makan! Kalian masuk." Seperti anak kecil pada umumnya, mereka akan menurut jika diberi sesuatu. Mereka langsung berlari ke dalam rumah begitu mangga di tangan Alana.
Karang melirik ke segala arah, ia sedikit canggung di posisi seperti ini. Rasa bersalah juga semakin menjalar di tubuhnya ketika mengetahui Senja nampak kesal.
Karang baru sadar satu hal, wajah akan dan Alana yang bak foto kopian dari wajah Leo membuat daftar pertanyaan di kepala Karang bertambah.
__ADS_1
"Maaf, Mbak. Ini buka salah Bang Leo aja. Aku juga salah. Nggak seharusnya aku mau aja di ajak naik ke atas pohon tadi. Kelamaan ngobrol di sana juga."
Bang? Wow cepat juga Leo kerjanya.
"Iya, nggak apa-apa. Sebenarnya Mbak nggak ada maksud menyalahkan siapapun. Hanya sedikit kesal saja. Kamu mau pulang sekarang?"
"Pulang? Sekarang aja, Mbak. Aku rasa udah cukup aku di sini. Tadi, kan aku hanya nunggu Mbak Senja selesai mandi."
"Iya, kamu boleh main ke sini kapanpun kamu mau. Biar diantar supir, ya. Maaf aku nggak bisa antar. Ada sedikit keperluan."
"Aku pulang sendiri naik taksi online aja nggak apa-apa, Mbak."
" Jangan! Sama supir aja, sekalian aku ada nitip sesuatu di dia soalnya."
Karang hanya mengangguk pasrah, lalu berjalan masuk rumah untuk berpamitan dengan Manda dan juga si kembar. Beberapa jam yang berarti untuknya. Mata hati yang selama ini tertutup rapat, akhirnya kini ada setitik celah yang ia buka.
"Jangan sampai kamu kayak aku. Tumbuh menjadi pribadi yang juga tidak punya rasa welas asih terhadap orang lain. Kamu akan menyesal nantinya. Jangan menjadi orang lain agar kamu di perhatikan. Justru jika kamu menjadi diri sendiri, semua orang di sekitarmu akan mencintaimu karena apa adanya kamu. Jangan karena kamu selama ini nggak pernah melihat sebuah bentuk rasa cinta, kamu jadi hidup tanpa cinta. Kamu tahu rasanya nggak di perhatikan dan dicintai seseorang, jadi kamu jangan berikan rasa itu pada orang lain juga. Kan kamu tahu sakitnya, seharusnya orang-orang di sekitar kamu jangan sampai merasakan apa yang kamu rasakan."
"Hanya memberi tanpa di beri?"
"Bukan mereka yang beri kita, tapi Tuhan. Kasih sayang nggak hanya dari manusia, dari Tuhan jauh lebih penting, nanti yang lain akan mengikuti. Kamu tahu, sebelum aku kenal Senja, aku pribadi yang benar-benar kaku. Nggak bisa menikmati hidup, aku begitu angkuh hingga Tuhan mencabut nikmat melihat hingga satu tahun lamanya. Saat berada di titik itu, aku sadar, mereka semua yang selalu ada ada di saat aku sempurna, tidak ada di saat aku sedang butuh mata. Dari situ aku paham, kalau aku salah mengaplikasikan hidupku. Mereka ternyata peduli hanya karena takut padaku. Bahkan orang yang aku cintai sepanjang hari, ternyata juga memilih pergi. Jadi jangan sampai kamu merusak diri kamu sendiri."
Karang berpikir, apa yang dikatakan Leo ada benarnya. Kenapa ia harus melampiaskan rasa haus kasih sayangnya dengan tidak mempercayai adanya cinta dengan kehidupannya? Ia tidak dapat cinta dari kedua orang tuanya, tapi ia mendapat cinta dari para sahabatnya.
__ADS_1
Dari cerita Leo, ia bisa sedikit membuka pikirannya. Pola pikir yang salah juga akan berdampak besar. Kisah Leo justru lebih buruk darinya. Ia masih bisa menikmati masa kecil dan remaja bersama teman sebayanya. Sedangkan Leo, dari usia remaja ia sudah tidak bisa bergaul degan siapapun. Ia harus belajar bekerja setiap pulang sekolah, ia di didik untuk bekerja keras dari usia dini oleh pamannya. Itu sebabnya Leo menjadi kaku dan kejam saat dewasa. Sifat itu terbentuk dari ketidak terimaan dirinya karena kehilangan masa kecil yang seharusnya.
"Behenti, Pak. Kita sudah sampai. Bapak mau mampir?" tawar Karang begitu sampai rumah.
"Makasih, Den. Saya langsung pulang saja."
"Baiklah, saya yang makasih. Salam untuk Mbak Senja dan keluarga." Karang turun dari mobil dan masuk pekarangan rumahnya begitu mobil itu melenggang pergi.
Seperti biasa, Karang akan masuk rumah tanpa berharap ada sapaan dari siapapun. Ia berjalan berniat menuju kamar untuk mengganti pakaian. Namun langkahnya terhenti karena sang Ibu memanggilnya.
"Karang kamu dari mana saja? Kenapa kamu nggak pulang? Ini wajah kamu kenapa?" Clara pura-pura tak tahu apa-apa.
"Nggak apa-apa. Hanya sedikit mengalami kecelakaan, aku tidur di rumah teman. Maaf kalau nggak sempat mengabari. Aku ke kamar dulu, mau ganti baju."
"Iya, pakai baju terbaikmu. Papa ngajak kita makan siang di luar."
"Dalam rangka apa?"
"Nggak ada. Ini, kan minggu. Waktunya sama keluarga."
"Papa baru sadar kalau punya keluarga?"
"Karang, kamu jangan begitu. Jangan buat Papa jadi serba salah. Kamu nggak dapat perhatian dari kami, kamu protes, begitu kami mulai berubah untuk kamu, kamunya nggak menghargai niat kami."
__ADS_1
Sepertinya memang aku harus ikuti kata Bang Leo. Aku nggak mau sampai merasakan yang Bang Leo rasakan. Menyesal dan sudah kehilangan semuanya.
"Iya. Aku mau."