
Pertemuan Senja dan Leo di rumah sakit setelah perpisahan satu tahun itu adalah pertemuan pertama dan terakhir. Mereka melanjutkan hidup tanpa komunikasi dan pertemuan lagi. Mereka lebih memilih untuk melanjutkan hidup masing-masing.
Sebenarnya Leo ingin melanjutkan hubungannya dengan Senja dengan status teman. Tapi rasa gengsi dan harga diri yang masih menjulang tinggi membuat Leo memutuskan untuk tidak mengutarakan keinginannya.
Tujuh tahun berlalu, nyatanya tak mengubah status Leo yang menduda. Keinginannya dahulu yang ingin membalas Rida dengan memamerkan keluarga barunya rupanya menguap begitu saja seiring berlalunya waktu.
Kini pria itu justru sibuk memperkaya diri dan merawat diri sendiri agar tetap rupawan di usianya memasuki kepala empat. Tapi, ada yang berubah dari dirinya. Ia kini sedang merubah kepribadiannya yang lain agar di kenal banyak orang. Tidak hanya orang-orang yang ia percaya. Percakapannya dengan Senja tujuh tahun yang lalu akan selalu ingat dan akan berusaha ia jalankan.
"Kamu kalau lagi ketawa terlihat lebih tampan, terlihat lebih muda juga. Jadi pimpinan nggak harus terlihat garang, kan?" Senja mengutarakan pendapatnya setelah melihat Leo tertawa kecil ketika mendengarnya bernyanyi.
Tampan?
"Kalau pimpinan lembek, nggak akan jadi pimpinan. Bawahan nggak akan takut sama atasannya," jawab Leo setenang mungkin. Padahal jantungnya kini sedang berisik di dalam. .
"Udah pernah coba emang?"
"Belum, dan nggak akan pernah nyoba."
"Kamu kenal Ayah, kan? Ayah nggak garang, nggak jahat kayak kamu. Tapi semua bawahannya nurut kok sama dia. Leo, orang yang namanya bekerja ikut orang lain, itu udah pasti akan nurutin apa kata atasannya maunya A, ya pasti bawahannya juga ngikutin A. Kamu nggak perlu jadi kejam, jadi jahat, jadi orang lain, biar kamu ditakuti sama orang. Kamu udah jadi penguasa di dunia bisnis, nggak perlu kamu jadi kejam, orang juga akan baik sama kamu. Kamu nggak mau gitu, di kenal banyak orang Leo yang baik hati, Leo yang dermawan, Leo yang ramah."
"Sebutkan satu alasan kenapa aku harus mendengar dan menuruti apa katamu."
"Masih butuh penjelasan? Sekarang kamu sedang mengalami dampak dari apa yang kamu perbuat dengan banyak orang Leo, kamu nggak sadar?"
"Aku buta karena kecelakaan. Bukan karena kepribadian aku, kalau semua orang yang kecelakaan punya kepribadian buruk, yang kepribadian yang jahat, jelek, nggak akan ada orang baik yang meninggal karena kecelakaan."
"Bukan itu Leo."
__ADS_1
"Terus?"
"Selama sakit ada yang jenguk? Ada yang peduli?"
"Ada."
"Siapa aja, coba sebutkan!"
"Fais."
"Itu aja?"
Leo mengangguk mantap. Ia bingung, ia merasa Senja hanya bicara berputar-putar saja, tapi tidak apa, itu artinya Senja akan lebih lama di sini dan ia bisa melihat Senja berlama-lama.
Hari ini Senja sangat berbeda dari satu tahun sebelumnya. Ia nampak sangat anggun dan cantik. Penampilannya pun jauh lebih kekinian daripada satu tahun yang lalu, lebih modis. Sungguh tidak bosan rasanya memandang Senja yang sekarang. Entah karena ia tak pernah melihat Senja setahun terakhir, atau karena memang ia terpesona dengan penampilan Senja yang baru.
Leo mengerutkan kening, "Apa kamu sebelumnya bertemu dengan Fais? Lalu kamu tanyakan semuanya tentang aku?"
Senja tertawa kecil. "Ngapain? Kurang kerjaan aku nyari tahu tentang kamu."
"Terus tahu dari mana?"
"Asal tebak aja. Leo,.sejahat apapun kamu sama orang lain, ketika kamu memperlakukan baik pada satu orang saja, maka jika kamu berada di titik terendah orang yang kamu perlakukan baik akan ada buat kamu. Coba bayangkan kalau kamu baik hati sama semua orang, di saat seperti ini pasti kamu tidak akan merasa sendirian, dan kamu akan bangga pada dirimu sendiri. Karena di saat kamu sedang terpuruk sekalipun, banyak orang yang peduli padamu."
"Tapi nggak semua orang bisa membalas kebaikan orang lain Senja."
"Kan ada Tuhan. Kebaikan yang kamu lakukan, kebaikan yang kamu sebar luaskan tidak hanya dibalas dengan manusia saja. Bisa jadi dampak dari kebaikan kamu itu datangnya langsung dari Tuhan, itu jauh lebih baik." Senja menumpuk tangannya dia tas tangan Leo.
__ADS_1
"Kita hidup di dunia ini berdampingan, kita tidak hidup sendirian. Suatu saat nanti kita akan butuh bantuan orang. Mungkin sekarang kita berada di atas, tapi jika Tuhan berkehendak, satu detik dari sekarang Dia juga bisa kok buat kamu jadi orang miskin, gelandangan yang nggak dihargai banyak orang, sama seperti kamu tidak menghargai orang lain. Jangan lupa dengan hukum alam soal tabur tuai."
Percakapan tujuh tahun yang lalu benar-benar membekas di hati Leo. Kata demi kata yang ia rangkai begitu bijak dan dewasa mampu membuat pikirannya terbuka dengan lebar.
Usia senja jauh di bawah Leo, tapi rupanya wanita itu jauh lebih dewasa darinya. Leo ingat betul, saat itu percakapan mereka begitu panjang dan memakan waktu hampir setengah hari.
"Tujuh tahun kita nggak ketemu, kenapa aku jadi mikirin kamu terus?" Leo bergumam di depan laptop seraya mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja.
Entah kenapa hari-harinya sering terganggu karena memikirkan Senja. Tidak setiap saat ia memikirkan wanita itu, tapi terkadang di saat-saat tertentu, jujur saja ia merasa ada setitik rindu di hatinya untuk Senja.
"Dia udah nikah belum, ya? Kenapa juga dulu aku nerima dan bersedia menuruti apa katanya untuk mencari kebahagiaan masing-masing." Leo mulai menyesali apa yang sudah ia putuskan.
"Senja, apa kamu juga sedang rindu aku? Harapan aku masih sama, aku ingin kita ketemu meskipun hanya sekali dan harapanku yang lain adalah kamu belum dimiliki oleh siapapun. Nggak tahu apa yang salah dengan diriku Senja, tapi ternyata tujuh tahun tidak bertemu sama sekali denganmu buat aku merindukan sesuatu darimu. Pasti kamu akan tertawa kalau kamu denger ini." Leo mulai bicara dengan dirinya sendiri dan menertawakan dirinya sendiri.
Tok tok tok
"Iya masuk."
"Selamat pagi, Pak. Saya mendapat kabar kalau Bu Rida ada Indonesia." Fais membawa sebuah berkas dan menyelipkan sebuah informasi.
Saking niatnya Leo untuk berubah, semua karyawan yang semula memanggilnya Tuan, kini berganti Pak.
"Rida ada di sini?"
"Yang saya dengar Ibu Rida sudah menikah lagi dengan orang luar Indonesia, Pak. Dia ke sini hanya untuk liburan."
Leo hanya mengangguk-anggukan kepala saja tanpa suara. Karena ia tak tahu harus merespon dengan kata apa. Jujur saja ia biasa saja mendengar kabar itu. Entah sudah mati rasa, sudah melupakan atau sudah tidak mau peduli, ia tak tahu. Untuk anak-anak yang dibawa Rida pun, entah kenapa ia juga tidak ingin tahu kabarnya. Jangan tanya kenapa, karena ia sendiri juga bingung dengan apa yang ia rasakan.
__ADS_1