
Ketika akan berangkat tidur Senja teringat akan buku catatan kecil yang diberikan oleh Leo. Ia pun akhirnya beranjak menuju lemari di mana ia menyimpan tas kerjanya dan mencari benda kecil itu.
Senja mengernyit begitu lembaran buku itu terbuka. Tidak ada catatan apapun di dalamnya, lalu ia berinisiatif untuk membuka lembaran berikutnya, tidak ada apapun juga di sana. Tangannya terus bergulir hingga halaman terakhir.
"Nomor telepon? Nomor siapa?" gumam Senja meneliti deretan angka yang ada di halaman terakhir buku itu.
"Ah nggak jelas Leo ini, biar sajalah. Pasti ini nomor dirinya sendiri."
Senja meletakkan buku itu ke dalam laci dekat ranjang tidurnya. Wanita itu memilih untuk segera tidur dan menggapai alam mimpi. Jika dulu Senja tidur untuk mimpi indah, kali ini ia tidur untuk istirahat. Keindahan dunia sudah bukan mimpi bagi Senja.
Lain halnya dengan Senja. Jika wanita itu sudah memulai berlayar ke alam mimpi, tidak dengan Karang. Pemuda itu justru baru akan memulai kehidupan malamnya. Minum-minum dan duduk di antara beberapa wanita adalah hal yang sudah menjadi kebiasaan bagi Karang.
Menikmati masa mudanya dengan salah kaprah dan tanpa arah adalah hal yang paling tidak Karang pikirkan semasa kecilnya. Masa kecil Karang sangat menggebu ingin menjadi pria sukses dan berprestasi, dikenal banyak orang dengan karakter yang baik meski tanpa kasih sayang orang tua sepenuhnya. Ia ingin menjadi motivator bagi orang-orang yang juga mungkin bernasib sama dengannya. Ia yakin dan meyakini satu hal, bahwa banyak orang di luar sana yang bernasib lebih malang dari dirinya.
Entah bagaimana cara Karang membuat kedua orang tuanya begitu percaya bahwa ia bergaul dengan baik dan benar, sampai-sampai ia sama sekali tidak ada batasan untuk keluar malam.
"Ganteng, kamu sering ke sini, tapi kamu tidak pernah pesan kamar. Kamu tidak ingin tahu rasanya bermalam denganku?"
"Bukannya tidak ingin, aku masih terlalu muda untuk bermalam denganmu. Aku belum punya pengalaman, nanti saja kalau sudah punya dasar dan cara yang benar untuk memuaskan seorang wanita aku akan memakaimu sepanjang hari."
Ya, meskipun Karang hobi mengunjungi klub malam, pemuda itu masih bisa menahan hasrat untuk tidak meniduri satu pun wanita di sana.
Entah sudah berapa gelas pemuda itu menghabiskan minuman memabukkan itu. Hingga ia setengah tersadar dibawa oleh Andra pulang ke rumahnya. Pemuda itu adalah satu-satunya teman Karang yang masih setia di sampingnya hingga kini. Meskipun Andra tak membawa pengaruh baik pada Karang, ia senantiasa menjaga pemuda itu untuk tetap pada jalurnya. Tidak melakukan hal lebih selain mabuk dan duduk diam di kelilingi wanita.
Memang terdengar tidak masuk akal, seharusnya sebagai seorang teman, Andra mengarahkan Karang ke dalam kebaikan, atau setidaknya membuat Karang kembali pada jalur yang benar.
__ADS_1
Ada penyesalan dalam diri Andra, pemuda itu adalah orang pertama yang mengenalkan Karang pada hal-hal dan sesuatu apapun yang bersifat negatif. Diantaranya adalah mengonsumsi barang haram di saat masih remaja, merokok, dan masih banyak perbuatan tercela lainnya.
Andra merasa iba pada temannya itu. Kehidupan yang tak pernah adil membuatnya menjadi orang yang seakan tak berguna.
"Kita pulang, Rang. Lo udah mabuk berat."
Andra selalu membawa Karang pulang jika pemuda itu dalam keadaan mabuk berat. Sebagai teman, ia sudah hapal, jika Karang mengajaknya ke klub dan ia mabuk berat seperti ini. Sudah di pastikan Karang baru saja mengetahui pertengkaran kedua orang tuanya.
"Gue nggak mau pulang. Gue cape, gue cape hidup sama mereka. Mereka memang nggak pernah bertengkar di depan gue, tapi gue tahu setiap mereka bertengkar, ada ucapan yang nyakitin hati gue."
"Iya. Gue ajak lo pulang ke rumah kayak biasanya. Udah jangan lama-lama di sini."
Andra lalu membopoh Karang keluar klub. Entah sudah berapa kali Andra selalu menjadi tameng untuk teman baiknya itu.
Seandainya gue tahu alasan lo untuk kenal dunia gue di waktu kita masih remaja, Rang. Mungkin gue nggak akan kasih izin lo untuk masuk dunia gue. Gue emang nakal, gue pecandu, tapi masih bisa jaga diri gue. Gue nggak serusak lo, Rang. Lo yang gue ajarin, malah lo yang jauh lebih rusak dari gue. Gimana caranya biar lo berhenti, Rang? Semakin ke sini gue makin sedih lihat keadaan lo. Ketika gue udah berusaha keras buat berhenti mengkonsumsi barang haram, lo justru menambah jumlahnya. Gue ajak lo masuk ke genk motor, biar lo sedikit lupa sama obat-obatan itu, tapi justru lo yang jadi ketuanya dan lo ajak anak yang lain buat ikuti lo.
Karang yang diajak berkeluh kesah sudah tertidur pulas. Andra hanya melirik sebal.
"Kalau bukan gue yang ngenalin lo ke dunia hitam, ogah gue direpotin sama lo. Padahal gue cuma ngenalin lo ke rokok sama obat, kenapa lo jadi lebih rusak dari gue, sih Rang," omel Andra melajukan mobilnya.
***
Keesokan harinya, Karang terbangun dengan pusing kelapa yang hebat di kepalanya. Sering minum rupanya tak menghilangkan kekurangan Karang yang selalu pusing sehabis minum.
"Akhirnya, bangun juga lo. Nih, teh anget."
__ADS_1
Seperti biasa, Karang akan menenggak habis teh buatan temannya itu lalu bertanya
"Hape gue mana? Lo kabari nyokap gue kalau tidur sini, kan?"
"Iya, bosen gue denger pertanyaan lo. Mau pulang sekarang?"
Belum sempat Karang menjawab, dering teleponnya sudah membuat ia mengalihkan perhatian.
"Papa, tumben?" gumam Karang meletakkan ponsel ke telinga.
"Iya, Pa."
"Pulang sekarang!"
Tuut tuut
"Kenapa? Ada masalah?"
"Nggak tahu, bokap nyuruh gue balik."
Karang segera bangkit meraih tasnya dan berlalu dari sana.
"Rang, ini yang terakhir, ya. Nggak bosen lo ngerepotin gue? Lo punya banyak hutang budi sama gue."
"Nggak janji."
__ADS_1
"Eh gue pacul lo sampai berani mabuk berat lagi."
"Yoi bro. Gue siapin tanah juga nanti," jawab Karang asal.