
"Terus awasi! Aku nggak mau kehilangan jejak Senja."
Akmal tak melakukan apa-apa bukan berarti ia membiarkan anaknya begitu saja. Melepas Senja dengan pria biadab itu, sungguh ia tak pernah rela.
Ia dulu sempat ingin melaporkan hal ini pada pihak yang berwajib, namun seakan mengerti niat Akmal, Leo berulah dengan hampir saja mencelakai Karang. Hal yang sama juga dialami oleh Aldi. Anak sulungnya juga hampir celaka karena masih berusaha untuk mencari keberadaan Senja.
"Karang, sudah cukup kamu berulah di tahun yang lalu, ya. Papa menyekolahkan kamu bukan untuk ini. Kalau kamu kecewa sama Papa tidak seharusnya kamu melampiaskan pada sekolah kamu ini nggak ada hubungannya."
"Ini sudah satu tahun yang lalu, kenapa masih kamu terus juga, Pa?" Protes Clara kesal.
Ya, satu tahun yang lalu Karang yang ketahuan bolos sekolah selama berminggu-minggu menjadikan kedua orang tuanya dipanggil ke sekolah dan terpaksa Karang tidak naik kelas karena perbuatannya itu. Tentu saja hal itu membuat Akmal mengamuk. Pria itu marah hingga memberikan beberapa pukulan di tubuh anak laki-laki semata wayangnya.
"Pukul aku terus, Pa. pukul aku sampai puas. Aku memang tidak pernah kalian inginkan aku benci kalian. Kalian sejak kecil tak pernah peduli padaku, begitu Mama peduli padaku. Aku tahu Papa punya anak dari perempuan lain. Papa bilang ini nggak ada hubungannya sama sekolah aku? Papa tahu karena berita Papa yang terkenal itu aku jadi dihujat satu kelas, aku jadi dihina, aku jadi diejek-ejek sama anak-anak yang lain, bahkan yang kenal aku pun mereka juga ikut ngejek-ngejek aku. Mereka bilang aku punya Papa jahat. Semua orang membicarakan papa, Aku anak Papa jelas itu berpengaruh dalam kehidupan aku."
Itulah kalimat panjang yang Karang ucapkan sebagai bentuk protes perbuatan tercelanya sang ayah di masa lalu.
Akmal yang sadar dengan kesalahannya dan kehilafanya sudah berusaha untuk meminta maaf pada Karang berulang-ulang dan setiap hari selalu ia ucapkan maaf. Namun nampaknya hati anak itu sudah mati. Di usianya yang baru empat tahun, ia sudah bersikap dingin pada semua orang bahkan kedua orang tuanya. Sudah tidak ada lagi senyum di bibir Karang. Yang ada hanyalah bentuk keprotesan pada kedua orang tuanya yang ia tunjukkan dalam kebisuan.
"Aku berangkat dulu, aku nggak perlu diantar jemput aku bisa sendiri. Nggak perlu khawatir atau takut aku bolos lagi, aku nggak akan bolos, aku akan menerima ocehan dan hinaan dari semua orang. Aku tahu aku memalukan karena aku tidak naik kelas karena ulahku sendiri, aku akan bertanggung jawabkan perbuatan itu. Inilah perbedaan aku dengan Papa. Kita sama-sama keras kepala, kita sama-sama emosian, tapi aku mempunyai satu sifat yang tidak ada di diri Papa yaitu satu tanggung jawab."
Akmal hanya bisa menghela nafas panjang. Kehidupannya sekarang begitu rumit. Perekonomian yang belum stabil, anak gadisnya yang masih berada di tangan pria jahat, dan Sekarang Karang ikut membencinya. Bahkan ia saat ini tidak tahu lagi apa alasan ia hidup di dunia ini. Semuanya nampak Begitu jahat padanya.
__ADS_1
***
Nasib miris pun kini sedang menimba Manda. Beberapa bulan yang lalu ia divonis sakit gagal ginjal dan harus melakukan cuci darah satu minggu dua kali. Uang yang dari Leo pun habis untuk membiayai cuci darah yang akhir-akhir ini ia lakukan.
Ada yang berbeda dari Manda sejak ia jatuh sakit. Ia sering melihat Senja dalam mimpinya. Ia sering melihat Senja entah itu sedang tertawa, tersenyum, sedih namun Senja tak bisa melihat dirinya yang berada di dekatnya.
Dalam diam Manda memandang foto yang selama ini tak pernah ia lihat. Foto yang diberikan oleh Senja kecil beberapa tahun yang lalu. Ia tak mau menyimpannya tapi Senja memaksanya untuk menyimpan foto itu di laci ibunya. Dan ini adalah pertama kalinya ia melihat foto itu.
Di balik foto itu ada sebuah kertas yang terlipat. Tulisan itu terlihat sedikit buruk namun masih bisa terbaca.
Aku sayang ibu. Di hari ulang tahun Ibu ini aku hanya bisa memberi ini. Mungkin suatu hari nanti aku akan memberi hadiah yang besar untuk Ibu, ini adalah foto waktu aku di sekolah untuk ijazah aku saat lulus sekolah beberapa bulan lagi. Aku ada banyak, Bu, Ibu simpan satu ya. Jangan hilang biar Ibu ada kenangan waktu aku kecil, meskipun Ibu sekarang nggak sayang aku tapi aku yakin suatu hari nanti Ibu akan sayang sama aku. Selamat ulang tahun, Bu."
Manda tak tahu kenapa ia membaca surat itu begitu lama. Menghayati kata demi kata anak kecil yang tersakiti hatinya. Tiba-tiba saja mata Manda nemanas. Ia tak tahu apa penyebabnya, entah kata-kata yang begitu menyayat hati atau Manda sedang meratapi nasibnya yang hidup seorang diri.
Di saat dirinya sakit seperti ini ia baru menyadari bahwa ia butuh seorang teman. Satu-satunya teman hidupnya sudah pergi meninggalkannya untuk selamanya. Ia masih punya satu teman tapi ia jual dia pada orang kaya.
Manda begitu kesepian. Di rumah sendiri ,cuci darah sendiri, melakukan apa-apa sendiri, sakit diurus sendiri, sungguh nelangsa hidup Manda.
"Kamu kenapa nangis?" tanya Aldi yang baru saja datang. Ia melihat Senja di teras sedang melamun.
"Nggak apa-apa aku hanya merasa sendiri saja."
__ADS_1
"Itu surat? dari mana tulisannya jelek banget." Aldi merebut kertas yang berada di pangkuan manda.
Aldi baca deretan huruf itu dan ia sadar bahwa tulisan itu tulisan jari tangan Senja kecil.
"Karena ini kamu menangis?"
"Aku nggak tahu. Aku hanya merasa hidupku sekarang sendiri. Entahlah ladahal aku dari dulu juga sendiri tapi aku baru merasakan kesedihannya sekarang. Dulu selalu ada ada Senja yang mengucapkan ulang tahun setiap tanggal lahirku. Di saat semuanya lupa dengan hari ulang tahunku hanya Senja satu-satunya manusia di muka bumi ini yang mengucapkan selamat ulang tahun Ibu. Tapi aku tidak pernah menganggapnya ada." Manda menunduk.
"Kamu menyesal?"
"Aku sendiri nggak tahu aku masih dalam proses damai dengan diriku sendiri. Aku benci diriku sendiri dari puluhan tahun yang lalu, tapi ketika aku diberi sakit aku merasa sedih, aku tidak mau sakit. Kematian adalah hal yang paling aku inginkan dari dulu tapi sekarang aku begitu takut menghadapinya. Aku sendiri tidak mengerti apa yang aku mau, aku bingung dengan diriku sendiri, Kak."
"Sepertinya kamu sudah mulai sadar dengan kesalahanmu. Kalau kamu bisa kembali pada masa Lalu apa yang akan kamu perbaiki?"
"Caraku menghadapi kenyataan dua puluh satu tahun yang lalu."
"Kenapa?"
"Biar Ibu nggak benci aku, Ibu pergi dalam keadaan yang masih marah padaku, Kak. Aku tidak mengabulkan keinginannya."
"Emang apa yang Ibu mau?"
__ADS_1
"Memeluk senja."