Senja Dan Derita

Senja Dan Derita
53. Bismillahirrahmanirrahim Bisa


__ADS_3

"Selamat malam, anak Ayah," sapa Akmal memasuki ruangan Senja.


"Ayah, kok ke sini? Nggak pulang?"


"Iya, ini tadi habis dari rumah kamu sama si kembar langsung ke sini. Habis ini Ayah pulang."


"Rumah aku?"


"Iya, nanti rumah yang akan kamu tempati dengan cucu Ayah adalah rumah kamu. Nggak ada penolakan. Kamu akan aman dan nyaman tinggal di sana. Jauh dari jangkauan Leo."


"Tapi aku mau tinggal sama Ibu aja, Yah. Ibu sendirian. Lagian Leo keluar negeri, katanya nggak akan balik ke sini."


"Senja. Beri pelajaran Ibu sesekali nggak apa-apa. Kamu harus bisa sedikit tega sama Ibu. Biar apa? Biar Ibu sadar kalau dia butuh kamu. Oh, ya, Ayah mau cerita sedikit, pasti kamu akan senang mendengar cerita Ayah."


"Apa?"


Mengalirlah cerita soal Manda selama berada di rumah baru. Nampak Senja yang berbinar mendengar penuturan sangat Ayah. Ia tak menyangka ibunya mau menggendong anak-anak yang da berniat akan memberi nama.


"Ayah serius? Aku jadi kepingin ketemu Ibu. Aku pengen lihat Ibu gendong anak aku."


"Itu artinya setelah satu tahun lebih kalian berpisah itu ada perubahan, kan? Mungkin Ibu baru sadar dan mulai kehilangan kamu, kan di rumah udah nggak ada nenek, Ibu sendirian, kan. Hanya saja sepertinya Ibumu itu perlu di desak, didorong dan dipaksa untuk bilang kalau sebenarnya dia itu butuh kamu. Dia gengsi aja itu untuk mengakui kalau kamu penting buat dia. Hal itu manusiawi sekali, mengingat Ibu dulu memperlakukanmu secara tidak manusiawi dan sekarang dia baru sadar akan kesalahannya, dia pasti ada sedikit banyak gengsi yang akan datang kapan saja karena dia sudah tenggelam dengan euforia kebenciannya dulu. Dia berpikir kalau dia meminta maaf ke kamu sudah seperti menjilat air liurnya sendiri. Itulah sebabnya Kenapa Ayah pengen memberikan setelan pada ibumu. Mau kerja sama, sama ayah, kan?"


"Aku nurut aja, Yah. Sebenarnya aku juga nggak mau dan nggak akan maksa Ibu minta maaf sama aku, dengan Ibu sayang sama aku aja itu udah lebih dari cukup."

__ADS_1


"Mau apapun statusnya yang namanya salah harus tetap minta maaf dan dibarengi dengan perubahan. Itu baru tindakan yang benar. Memaklumi kesalahan sekali dua kali nggak apa-apa. Tapi kalau keseringan nanti dianya malah ngelunjak dan dia nggak akan tahu mana yang salah dan mana yang benar. Memang terlihat seperti anak kecil, tapi Ibu memang pola berpikirnya masih seperti anak kecil. Karena kehilangan masa dewasanya dengan cara yang menyedihkan. Lalu setelah itu mengalami fase buruk dalam hidupnya. Dan salahnya lagi, dia nggak bisa bangkit, nggak mau tenggelam juga tapi dia enggan berusaha untuk keluar dari lubang masalahnya. Ngerti maksud Ayah, kan?"


"Ngerti, Yah. Ibu nggak mau mengingat-ingat masa lalu tapi Ibu juga nggak mau berdamai dengan masa lalu."


Akmal menyunggingkan senyum, "Masalah sudah mendewasakan kamu. Kapan kamu bisa pulang?"


"Aku belum tanyakan, sebenarnya aku ingin cepat. Aku ingin bertemu dengan anak-anak, mereka juga pasti membutuhkan asi dariku, Yah."


"Akan Ayah atur. Kamu istirahat sekarang, maaf Ayah nggak bisa nemenin kamu. Sebenarnya pengen banget, lain kali Ayah akan menginap di rumah kamu, ya. Mudah-mudahan suatu saat nanti kita bisa sama-sama tanpa ada yang merasa di rugikan."


Cup


Satu kecupan di kening mendarat begitu mulus. Sebaiknya sedikit terkejut karena Akmal melakukannya dengan cepat.


"Malam. Duduklah!"


"Siapa, Yah?"


"Yang akan jaga kamu malam ini. Nggak menerima penolakan. Biar Ayah juga tenang ninggalin kamu di sini. Anak buah Ayah juga masih ada yang jaga di luar. Jadi, kamu benar-benar aman dan Ayah bisa tenang. I love you. Ayah pulang dulu. Kabari kalau ada apa-apa."


Senja hanya terdiam menatap kepergian sang ayah, mengantarnya dengan kedua ekor matanya. Rasanya ia masih tak percaya ada seseorang yang mengecup keningnya selain kekasihnya, Daren.


Menyebutkan nama Daren membuat Senja ingin mengetahui kabar pria itu. Ia sudah tak punya nomornya, tapi ia masih ingat nama media sosialnya.

__ADS_1


Wanita dua puluh satu tahun itu mulai mengetikkan sesuatu di layar pipihnya. Menggeser-geser ke atas dan ke bawah layar sentuhnya. Hingga jempolnya berhenti di sebuah nama yang ia cari.


Bibirnya membentuk senyuman ketika Senja melihat deretan foto Daren. Sungguh ia sangat merindukan kekasihnya itu. Namun, sedetik kemudian ia mengubah raut wajahnya menjadi sendu. Bukan fotonya yang membuat ia sedih, namun caption di setiap foto yang Daren upload membuat hati Senja begitu sakit dan perih.


~Ada waktu untuk berharap, ada waktu untuk berhenti. Ada masa untuk memperjuangkan, namun ada masa untuk mengikhlaskan. Bismillahirrahmanirrahim, bisa~


Kalimat yang tidak panjang dan sederhana, tapi begitu menyakitkan dan bermakna dalam bagi Senja. Tak terasa air matanya luruh saat melihat deretan foto Denan beserta captionnya. Wajahnya tetap menawan, meski di selimuti oleh kesedihan yang dalam.


Melihat berbagai unggahan di media sosial milik kekasihnya, membuat Senja mengambil keputusan saat itu juga. Ia tidak akan mencari atau menemui Daren lagi. Pria itu sudah mengikhlaskan dirinya. Daren tak sabar menunggu dirinya. Lagipula statusnya yang sudah menjadi seorang ibu beranak dua membuat Senja semakin yakin akan keputusannya. Tak mungkin ia merepotkan pria lain dengan apa yang ia bawa.


"Bismillahirrahmanirrahim, bisa." Senja mengikuti status Daren yang terakhir.


Dengan berat hati Senja mengembalikan ponselnya di samping ranjang. Berusaha melupakan apa yang sudah ia lihat, memulai mimpinya mulai dari sekarang. Dan ia berharap esok hari akan jauh lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Ia harus move on, ia harus bangkit untuk anak-anaknya. Mulai dari sekarang, bukan hanya dirinya saja yang ia pikikan, tapi anak-anaknya juga.


Anak? Bahkan usianya masih dua puluh satu tahun, dan ia sudah memiliki dua anak? Sungguh diluar dugaan. Tak pernah ia terbayangkan kenyataan ini.


***


Entah sudah ke berapa kalinya Manda terbangun dari tidur nyenyaknya, karena suara tangisan bayi yang kadang menangis bergantian dan kadang juga bersamaan. Ini baru malam pertama, dan ia sudah kelelahan.


Maklum, Manda memang seorang Ibu, tapi dahulu ia tak pernah melakukan kegiatan ini. Bahkan sekali pun, ia tak pernah terbangun dari tidurnya saat tengah malam. Di hari pertama ia menunggu anak-anak Senja, ia menjadi sadar saat di posisi ibunya dulu, tidaklah mudah.


"Kalian tahu? Aku sangat membenci ibu kalian. Karena kelahirannya tidak aku inginkan. Dia merusak masa depanku, dia merusak segalanya. Aku tidak pernah sayang padanya, tidak pernah peduli padanya, juga tidak pernah menyentuhnya. Tapi, tiga bulan yang lalu, ibu kalian datang. Memelukku dari belakang, itulah kali pertama aku membiarkan dia menyentuhku. Aku tidak tahu apa yang terjadi saat itu dan setelahnya, hanya saja aku merasa sesuatu yang beda. Aku sendiri tidak bisa menjelaskannya. Dan hari ini, aku malah menjaga kalian, anak dari perempuan yang tidak aku inginkan kehadirannya. Aku nggak tahu apa yang membuat aku ingin melakukan ini."

__ADS_1


__ADS_2