
Satu bulan tanpa Leo, Senja memang nampak baik-baik saja di luar, tapi di dalam sebenarnya ia juga bertanya-tanya dan merasa ada yang aneh. Kenapa Leo tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa kabar, tanpa bicara dan tanpa tahu alasan ia menghilang.
Sejak berpikir terus-menerus kira-kira kesalahan apa yang ia buat. Mengingat kejadian-kejadian yang sebelumnya mereka lalui sebelum Leo hilang ditelan alam.
Kebingungan dan kegalauannya pun terus berlarut karena hilangnya Leo berdampak pada kedua anaknya yang jatuh sakit bergantian. Ia sadar, bahwa anaknya selama ini sudah terbiasa hidup dan dengan Leo. Sebulan menghilang rupanya membuat mereka juga kehilangan.
Senja mewajarkan terpuruknya kedua anaknya, mereka ada hubungan darah, hubungan mereka begitu dekat meski anaknya tah tahu bahwa sebenarnya mereka ada hubungan darah.
Satu minggu merawat Alan dan Alana yang jatuh sakit bergantian membuat Senja kelelahan. Jadwal makan berantakan, istirahat yang kurang, jam tidur yang juga tak kalah amburadul membuat Senja juga jatuh sakit setelah beberapa hari Alan dan Alana masuk sekolah kembali.
"Nggak apa-apa. Mama pusing aja, kok. Besok juga sembuh. Kalian sekolah, udah ketinggalan banyak pelajaran. Kan di eunha ada Oma dan Bibi, Mama nggak sendirian. Kalain tenang saja. Fokus sekolah." Senja melayani kedua anaknya yang sudah tak memakai jasa baby sitter begitu usia meraka menginjak lima tahun.
"Buruan di makan! Hari ini diantar supir, ya. Nanti kalau Mama udah sehat, Mama yang akan antar kalian seperti biasa."
"Iya, Ma. Om Leo ke mana, sih Ma. Kita buat salah, ya sama Om Leo. Kenapa nggak kasih kabar, masa iya sibuknua terus menerus. Masa hari minggu juga kerja? Kan dulu mghak begitu," tanya Alana.
"Om Leo, kan punya kesibukan, Nak. Mama, kan juga nggak tahu Om Leo lagi mengerjakan apa."
Alan ingat bahwa saat dirinya sedang sakit kala itu, Leo menghubungi mereka melaluo telepon Karang. Anak itu ingin menyampaikan keinginan Leo yang menjadi ayahnya, namun tiba-tiba ia juga ingat bahwa ia dan Alana sudah berjanji tidak akan mengatakan apapun pada Sang Ibu.
Si kembar berangkat sekolah begitu urusan perut mereka sudah beres. Senja kembali masuk rumah begitu mobil sudah keluar dari pelataran rumahnya.
"Ibu nggak jadi ke rumah Pakde?"
"Kamu sakit begini masa Ibu tinggal?"
"Nggak apa-apa. Orang cuman pusing doang. Budhe, kan butuh bantuan Ibu. Di sana pasti lagi repot masak. Ibu ke sana aja nggak apa-apa. Nanti setelah supir antar anak-anak biar antar Ibu."
__ADS_1
Aldi yang akhirnya sukses membangun usaha dan menciptakan lapangan kerja sendiri sedang merayakan keberhasilannya dengan menggelar tasyakuran. Sudah jauh-jaih hari Manda di minta untuk datang ke sana membantu serangkaian kegiatan persiapan tasyakuran tersebut.
"Kalau ada apa-apa hubungi Ibu, ya. Sebenarnya Mas Aldi juga nggak apa-apa kalau Ibu nggak ke sana."
"Pakde cuman punya Ibu. Saudara Pakde, kan cuman Ibu. Masa nggak hadir."
Sejauh ini tidak ada yang bisa mengalahkan keras kepala Senja. Setelah obrolan singkat itu, Manda bersiap akan kerunah sang Kakak yang sepertinya sudah sangat lama ia tak ke sana.
Kepala Senja yang merasa pusing luar biasa, suhu badan yang panas tinggi, badan yang terasa lemas, memutuskan untuk langsung ke kamar. Ia sudah tak sabar merebahkan dirinya di kasur empuk dan juga tumpukan bantal yang membuat ia nyaman.
Baru saja memejamkan mata beberapa saat, ia merasakan menciun bau seseorang. Aroma tubuh yang begitu familiar di hidungnya. Merasa Indra penciumannya salah, ia bergegas mmengganti tubuhnya.
Namun, tak berselang lama, Senja merasakan sesuatu menyentuh dahinya dan duduk di ranjang yang sama dengannya tidur. Perlahan ia membuka mata dan nampaklah seorang pria yang bernama Leo sedang duduk di dekatnya.
Senja yang terkejut seketika duduk. Ia lupa pada kepala dan tubuhnya yang terasa tak baik-baik saja.
Senja masih terkejut, namun ia menuruti apa yang diucapkan pria itu. Beberapa kali ia mengerjapkan mata demi memastikan apakah yang ingin lihat benar atau salah.
"Kok bisa kamu ada di sini?" Akhirnya pertanyaan itu meluncur bebas di mulut Senja.
"Iseng aja. Kata Bibi kamu lagi sakit dan nggak keluar kamar dari pagi, makanya aku ke sini. Badan kamu panas banget. Ke rumah sakit, yuk!"
"Nggak usah. Hanya demam biasa, aku hanya kelelahan. Besok juga sembuh. Ada urusan apa kamu ke sini? Mau ngapain?" tanya Senja sedikit ketus.
"Nggak boleh aku ke sini?"
"Ya buat apa? Kan udah lama nggak ke sini juga, urusin aja kerjaannya. Nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba menghilang, nggak ada badai nggak ada angin topan tiba-tiba datang. Kamu maunya apa? Aku sama anak-anak salah apa sampai kamu nggak bisa dihubungi sama mereka? Kamu juga nggak ada kabar," Omel senja tanpa sadar.
__ADS_1
"Kamu ataupun anak-anak nggak ada salah apapun, Senja. Aku hanya ingin tahu bagaimana kalian tanpa aku. Aku..."
"Udah tahu, kan sekarang tanpa kamu gimana? Sebelumnya mereka juga tanpa kamu baik-baik aja, kan? Mereka nggak kenal kamu juga baik-baik aja Leo. Mereka bahagia-bahagia aja. Untuk apa kamu membuang waktu dengan menghilang seperti itu lalu kamu datang lagi, buat apa? Jangan kayak anak kecil lah."
Senja meluapkan amarahnya yang selama ini terpendam. Ia kesal, ia marah, ia jengkel dengan hilangnya kabar dari pria yang akhir-akhir ini mengubah warna di hidupnya.
Seperti kebanyakan wanita lainnya, mereka akan selalu mencari masalah jika mereka merindukan seseorang. Senja pun sama, ia adalah wanita biasa, manusia biasa yang juga memiliki kerinduan terhadap seseorang. Selama satu bulan ini ia berusaha untuk menekan perasaan. Ia ingin sekali meluaplan amarahnya, hanya saja ia tidak luka tempat.
"Iya maaf aku salah. Nggak seharusnya aku melakukan ini hanya untuk mencari tahu bagaimana perasaan aku ke kamu."
"Kenapa baru terpikir itu sekarang? Kamu pikir tindakan kamu lucu apa? Anak kecil juga tahu kalau kamu salah," gerutu Senja seakan lupa bahwa ia sedang tak sehat.
Leo hanya menahan senyum saja, ia nampaknya berhasil membuat Senja merasa kehilangan. Salah sendiri siapa suruh menggantung perasaan hingga berbulan-bulan, batin Leo tersenyum menang.
Senja masih mengerucutkan bibirnya dan membuang muka ke segala arah asal tak melihat wajah pria di dekatnya.
"Lihat apa yang aku lakukan, aku akan membuat kamu sembuh dalam waktu singkat." Leo memaksakan kepala Senja agar berhadapan dengannya dan
Grap.
Bibi kedua manusia dewasa yang sedang dilamda kerinduan itu bertemu dengan ganasnya. Bukan, buka ganas, justru sentuhan dari Leo yang begitu lembut dan tiba-tiba membuat Senja tak punya alasan atau waktu untuk menolak.
Senja terkejut dengan apa yang dilakukan Leo padanya. Namun, rasa keterkejutan itu tak sebanding dengan kerinduan yang menyesakkan dada. Siapa sangka tindakan Leo dengan membungkam mulut Senja dengan bibir seksinya mampu membuat kerinduan itu menguap begitu saja.
"Om Leo," pekik si kembar bersamaan.
Senja dan Leo yang sedang berpautan bibir itu seketika membuka mata lebar-lebar dengan lidah yang masih menyatu di dalam.
__ADS_1