Senja Dan Derita

Senja Dan Derita
47. Melahirkan


__ADS_3

"Ayah. Kok Ayah ada di sini? Kalau ada yang tahu bagaimana?" Senja terkejut melihat Akmal yang sudah berada di depan meja resepsionis.


"Ayah nggak tenang kalau nggak lihat kamu. Lagipula sudah lama kita nggak ketemu."


"Iya, Ayah. Aku tahu, tapi ini bukan saatnya melepas rindu. Biarkan aku menyelamatkan anak-anakku dulu, setelah itu kita ngobrol."


"Ayah temani kamu."


"Nanti kalau Leo datang bagaimana?"


"Ada anak buah Ayah yang jaga. Udah tenang aja. Buruan masuk, bukannya waktu kita nggak banyak?"


Senja segera menggeret ayahnya ke ruangan dokter yang menangani dirinya selama masa kehamilan. Dokter wanita berhijab itu segera menyiapkan segala sesuatu yang di perlukan. Senja yang tadi sempat memberitahu dokter itu untuk segera melakukan operasi membuat dokter bernama Wulan itu tidak banyak bertanya lagi.


"Senja, Leo tidak menemanimu?" tanya Dokter Wulan seraya menyiapkan peralatan untuk operasi.


"Dia nanti akan menyusul tadi sudah sempat ku hubungi tapi nomornya tidak aktif. Apa boleh aku mau meminta bantuanmu, sebenarnya aku ingin sekali mengatakan ini dari awal tapi Leo sama sekali tidak memberiku kesempatan untuk periksa sendiri."


"Ada apa?" Dokter Wulan menghentikan aktivitasnya sejenak.


"Aku ingin membawa anakku pergi. Sebenarnya aku ini korban keegoisan Leo. Dia membuatku hamil karena ingin memiliki keturunan. Dokter Wulan tenang saja, aku sudah menyiapkan pengganti bayi kembar untuk Leo. Jadi, nanti jika bayi yang kau perlihatkan Leo tidak sama dengan bayi yang aku lahirkan, aku mohon jangan katakan apapun padanya. Kau seorang wanita dan aku yakin kau juga seorang ibu. Apakah kau tega membiarkan aku terpisah dari anakku?"


"Senja ini menyalahi aturan ru..."

__ADS_1


"Tugasmu hanya diam. Hanya itu saja, semuanya sudah saya atur. Sekarang segera tangani anak saya," sela Akmal yang tak mau berlama-lama.


"Baiklah aku akan membantumu sebagai sesama perempuan bukan sebagai dokter dan pasien," jawab Dokter Wulan setelah terdiam beberapa lama.


Tanpa banyak bertanya lagi wanita itu mulai bekerja. Akmal duduk di dekat kepala anaknya, sudah persis seperti suami siaga yang sedang menemani istrinya ingin melahirkan.


Pria yang bergelar sebagai ayah Senja itu menatap lekat anaknya tanpa berkedip. Setelah setahun berlalu Akmal masih tak percaya jika Senja adalah anaknya. Anak kecil yang pernah ia temui sekali kini tumbuh menjadi gadis lebih cantik.


Tak terasa air mata Akmal menggenang. Mengingat rentetan kejadian sebelum hari ini, memang tidak akan ada habisnya jika ia menyesali semua yang sudah ia lakukan. Hal itu tidak akan merubah keadaan juga. Ia juga tahu bahwa menangis tidak akan mengubah apapun, tapi hanya dengan menangislah perasaannya menjadi lega dan bebannya sedikit berkurang.


"Ayah kenapa nangis? Aku nggak sakit kok," tanya Senja seperti anak kecil.


"Ayah kangen sama kamu. Sejak Ayah tahu kamu anak Ayah. Ayah belum pernah meminta maaf, maafin Ayah, ya. Ayah tidak ada niatan untuk meninggalkan kamu dan ibu dengan sengaja. Tapi saat itu memang Ayah harus pergi untuk melanjutkan pendidikan Ayah. Setelah pendidikan Ayah selesai, Ayah langsung pulang ke sini dan mencari kamu juga Ibu. Sudah belasan tahun Ayah mencari, tapi sama sekali tidak menemukan di mana keberadaan kalian. Hingga akhirnya Ayah berpikir kalau ibumu sudah menikah dengan pria lain dan hidup bahagia. Lalu Ayah juga memutuskan untuk menikah dengan wanita lain, tapi sungguh cinta Ayah sampai sekarang masih sama ibu. Ayah sudah berusaha untuk menghilangkan dan melupakan ibu tapi nyatanya usaha Ayah sia-sia."


"Ayah sudahlah, aku tidak ingin membahas masa lalu, aku juga tidak hidup di masa itu. Aku ingin memulai semuanya dari awal lagi, aku nggak peduli masa lalu aku seperti apa. Yang aku pedulikan adalah masa depanku. Aku sebentar lagi akan menjadi Ibu. Aku tidak bisa memikirkan diriku sendiri, kan? Sudah ada anak-anakku yang harus aku pikirkan, jadi aku mohon Ayah, jangan bahas yang sudah-sudah!" pinta Senja memelas.


Memang benar, Senja tidak mau lagi memikirkan apa yang sudah terjadi, apalagi jika harus menyesali detik demi detik yang terbuang sebelum hari ini. Baginya semua itu sudah tidak penting, pertanyaan-pertanyaan yang sempat menggelayut di kepalanya saat bertemu dengan ayahnya sudah tidak ada lagi. Entah ke mana perginya, mungkin saja pertanyaan-pertanyaan dan keingintahuannya itu menghilang seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia.


"Ayah mau bawa anak kamu ke mana nanti?"


"Ayah sudah menyiapkan semuanya, Nak. Ayah akan menyembunyikan mereka di tempat yang aman jauh dari kota ini."


"Jauh?"

__ADS_1


"Iya, kalau di sini-sini aja nanti takutnya Leo tahu, lagi pula Ayah harus..." Akmal menggantung ucapannya, ia bingung mengilah kata, bahwa sebenarnya ia mengkhawatir jika Clara dan Karang mengetahui bahwa ia masih berhubungan dengan anak kandungnya yang lain. Ia tak mau kejadian beberapa waktu lalu kembali terulang. Lagi pula jika ia bicara jujur dengan Senja ia takut Senja juga akan menjauh darinya.


"Harus apa Ayah? Apa Ayah takut kalau istri Ayah yang sekarang mengetahui keberadaan aku?"


"Ayah berada di posisi yang serba salah, Nak. Ayah tidak bisa memiliki semuanya. Ayah tidak bisa memilih kamu ataupun keluarga Ayah yang sekarang. Tapi Ayah juga tidak bisa mempertahankam kalian bersama dan terang-terangan. Bagi Ayah semuanya penting, semuanya adalah hidup Ayah. Jadi..."


"Ayah harus menyembunyikan salah satu di antara kami dan Ayah menyembunyikan aku."


"Sayang...."


"Nggak apa-apa, Yah. Ayah tidak perlu merasa bersalah. Aku sadar di mana posisiku berada. Aku tahu harus bersikap bagaimana dan aku bisa menerima semua itu Ayah. Percayalah Ayah tidak perlu khawatir. Ayah tidak perlu menyesali semuanya, yang terpenting adalah aku sudah ketemu sama Ayah." Senja dengan tegar mengatakan itu, tak ada raut kesedihan sama sekali. Hal itu malah membuat Akmal kembali tersedu.


Tidak ada yang mau di posisi Senja maupun Akmal. Posisi mereka sama-sama sulitnya.


Sebagai anak, sebenarnya Senja juga ingin dianggap ada dan tak di sembunyikan, tapi ia juga tak bisa egois memikirkan keinginannya saja. Ada banyak hati yang harus ia jaga. Dengan memaksakan diri untuk kembali ikhlas menjalani suratan garis Tuhan, ia bersedia statusnya di sembunyikan oleh sang Ayah.


"Ayah, siapa yang akan jaga Anak-anakku nanti selama aku masih di sini? Aku pasti harus di rawat di sini beberapa hari, kan?"


"Ayah sudah menyediakan dua baby sitter. Kamu nggak perlu khawatir."


"Terima kasih, Ayah. Maaf kita baru bertemu, tapi aku sudah merepotkan Ayah."


"Ngomong apa kamu ini? Ayah sama sekali tidak di repotkan. Ayah justru senang, kamu mau anggap Ayah ini Ayah kamu. Padahal kesalahan Ayah tidak terampuni."

__ADS_1


"Kita semua punya kesalahan, Yah. Semua sudah berakhir, aku mau memulai hidup baruku dengan anak-anak dan juga Ayah dan Ibu. Tidak masalah jika kita harus terpisah, yang penting kita masih bisa bertemu."


__ADS_2