Senja Dan Derita

Senja Dan Derita
57. Bertemu Seseorang


__ADS_3

Pandangan mata kembali bertumpu pada pisau dan talenan. Beberapa saat menatap senja tanpa berkedip membuatnya sedikit salah tingkah dan gugup. Untuk pertanyaan Senja, ia pun sebenarnya juga tak tahu, kenapa ia begitu peduli pada anak yang dahulu ia sia-siakan, sungguh ia tak tahu. Yang ia tahu, ia hanya ingin mengabulkan permintaan ibunya saja. Tapi entah kenapa Manda merasa lain.


"Kamu hanya punya aku, ya mau tidak mau aku harus peduli, kan? Lagi pula ini permintaan nenekmu."


Senja hanya manggut-manggut seraya tersenyum. Jawabannya sudah cukup bagi Senja ,ia tak akan lagi menanyakan hal yang sama. Biarkan ibunya sendiri yang akan mengakui dirinya sendiri sebagai ibu, seperti ia menyebut dirinya sendiri Oma pada kedua cucunya. Seharusnya Senja tahu, tanpa dipaksa atau ditanya apapun suatu saat nanti ibunya pasti akan mengakui dirinya.


"Ini supnya udah jadi. Udah duduk sana di meja makan biar aku yang bawa ini!" Manda berjalan ke meja makan dengan membawa semangkok sup ayam dan juga sepiring nasi, lalu ia letakkan ke atas meja.


"Ini adalah pertama kalinya aku makan masakan Ibu, aku nggak sabar mau coba. Ibu nggak makan?" tawar Senja seraya menyiduk kuah beserta isinya.


"Nggak, kamu aja."


Senja memulai memasukkan suapan pertama mengunyahnya dengan pelan. Ekspresinya menunjukkan ia sedang menikmati kunyahan demi kunyahan yang berada di mulutnya. Ini adalah pertama kali ia menikmati makanan dari sentuhan sang ibu. Rasanya sungguh sangat berbeda.


"Enak banget masakan Ibu. Bagaimana kalau Ibu tidur di sini aja nemenin aku? Lagi pula rumah ini besar Bu, aku akan kesepian kalau nggak ada Ibu di sini."


"Aku males ketemu sama Ayah kamu setiap hari kalau aku tidur sini."


"Ibu masih marah, ya sama ayah?"


"Nggak, aku udah nggak mau mikirin masa lalu lagi. Aku pulang dulu, ya mau bersih-bersih rumah sama badan. Secepatnya aku akan ke sini, lagi pula ada dua suster yang akan bantu kamu nantinya. Jangan lupa telepon ayahmu untuk mencarikan asisten rumah tangga. Di kulkas ada bahan makanan nanti kalau mau makan malam minta tolong suster kamu untuk masakin, ya."


"Iya, Bu terima kasih, ya aku tunggu kedatangan ibu lagi."


Manda hanya mengangguk lalu bangkit dari meja makan. Menghampiri box bayi yang masih berada di ruang tengah, membungkukkan badannya lalu mencium kedua cucunya bergantian.


"Senja sementara kamu tidurnya di bawah, ya sama anak-anak. Kamu, kan habis operasi jangan naik turun tangga dulu. Nanti kalau udah gedean anaknya nggak apa-apa kamu tidur di atas. Ya udah aku pulang, ya jaga diri baik-baik."


"Iya, Bu."

__ADS_1


Senja semakin yakin bahwa ibunya sudah menerimanya menjadi anak. Meskipun bahasanya masih menggunakan aku, aku, dan aku, Senja tidak memperbesar masalah itu, yang penting adalah perhatiannya.


Perhatian-perhatian dari Manda untuk anaknya berjalan hingga bulan ke enam. Wanita itu sudah tinggal bersama dengan Senja sejak satu bulan yang lalu. Kebersamaan mereka yang dua puluh empat jam membuat Senja semakin ke sini semakin menyadari bahwa ibunya tidak kelelahan, tapi mengalami sakit yang parah. Wanita yang menjadi Ibu dari dua anak itu sering memergoki Manda memegangi pinggangnya seraya menampilkan wajah yang menahan sakit. Entah sudah ke berapa kali Senja bertanya pertanyaan yang sama dan hanya di jawab dengan jawaban yang sama.


"Bu, semakin ke sini Ibu semakin sering sakit pinggangnya, kita ke rumah sakit untuk periksa, ya, Bu."


"Nggak apa-apa, ini hanya nyeri pinggang biasa. Aku, kan nggak lagi muda. Oh, ya aku pergi, ya. Seperti biasa, mau kumpul sama temen."


"Iya, hati-hati."


Senja sebenarnya curiga pada ibunya. Setiap seminggu sekali wanita itu selalu izin keluar untuk bertemu dengan teman-temannya. Apa sebenarnya yang dibicarakan wanita itu sampai setiap minggu harus bertemu.


"Mbak!" teriak Senja.


"Aku tadi udah siapin ASI di freezer aku mau keluar sebentar. Nanti kalau bersediaan susunya habis kamu telepon aku, ya."


"Baik, Bu."


Dengan bermodalkan ojek online yang ia pesan sebelum ibunya berangkat, ia mengikuti ibunya yang juga menaiki ojek online. Matanya tetap awas mengawasi wanita yang duduk meringkuk di jok motor.


Rumah sakit? Ibu bertemu dengan temannya di rumah sakit?


Senja masih mengekori langkah ibunya. Ibunya membawanya ke ruangan yang berada di lantai dua.


"Itu ruangan apa? Kenapa Ibu langsung masuk? Itu seperti bukan ruang rawat," gumam Senja pelan.


Di saat dirinya sedang bertanya-tanya, salah satu suster melintas di depannya.


"Sus, maaf meminta waktunya sebentar. Boleh saya tahu itu ruangan apa?" tanya Senja menunjuk ruangan yang tadi dimasuki ibunya.

__ADS_1


"Oh, itu ruangan untuk cuci darah, Mbak."


Cuci darah? Sudah aku duga, Ibu sakit apa? Aku harus cari tahu sendiri.


"Terima kasih, ya Sus."


Senja kembali turun ke lantai bawah setelah mengetahui satu fakta baru. Ia berjalan menuju resepsionis untuk menanyakan data soal ibunya, pasti ada di sana pikir, Senja.


Langkah Senja yang lebar membuat ia cepat sampai di lantai dasar. Wanita itu langsung berjalan menuju meja resepsionis.


Bruk!


Hampir saja sampai di meja resepsionis, Senja menabrak suster yang sedang membawa nampan berisi obat-obatan. Tentu saja obat-obatan yang berada dalam botol kecil itu pun berserakan kemana-mana.


"Astaga, saya minta maaf, saya tidak sengaja. Saya sedang buru-buru. Sekali lagi maafkan saya, Sus."


"Iya, tidak apa-apa."


Senja kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Namun, satu lagi apa yang ia lihat membuatnya kembali menghentikan langkah.


Senja terdiam di tempat, matanya lurus memandang ke depan. Degan jantungnya terasa berhenti, ia tak percaya dengan apa yang ia lihat. Seseorang yang sangat ia kenal duduk di kursi roda dengan pandangan yang kosong.


Senja ingin bicara, tapi lidahnya terasa kaku dan kelurahan. Benarkah yang ia lihat? Pria itu orang yang sama dengan orang yang ia kenal? Tapi ia tidak menyapa, bukankah perpisahannya waktu itu berpisah baik-baik? Apa ia tidak mengenali dirinya? Berbagai pertanyaan bergelantungan dan memutari kepala Senja. Bahkan hingga pria itu melewati dirinya, ia masih saja tertegun di tempat.


Mungkin Senja akan seharian di sana jika dering ponselnya tak berbunyi saat itu.


"Iya, Mbak? Apa, habis? Cepet banget? Ya udah aku pulang."


Senja yang samar-samar mendengar suara tangisan Anak-anaknya dibuat terburu-buru pulang. Ia melupakan sejenak keingintahuannya soal ibunya.

__ADS_1


***


Lebih setuju Senja sama Daren (pacarnya dulu) apa Leo? Tulis di komentar, ya.


__ADS_2