
Entah kenapa detik demi detik yang Senja lalui terasa begitu lambat. Sudah sejak semalam ia gusar, Seandainya saja ia bisa mengubah posisi tubuhnya seperti biasanya, mungkin ia sudah tengkurap dengan tumpukan bantal di kepalanya. Itu adalah kebiasaan Senja satu-satunya ketika ia tidak bisa tidur.
Entah sudah ke berapa kali Senja melirik jam dinding yang ada di ruangannya. Sudah sejak tadi jarum jam itu menunjukkan angka lima. Seakan jarum jamnya tidak berjalan.
"Astaga kenapa hari ini begitu lama? aku ingin segera melihat matahari agar aku bisa cepat pulang," gumam senja gelisah.
"Nona ada yang bisa ku bantu?"
"Ada, tapi kau tidak bisa melakukannya. Aku butuh matahari segera bersinar di di atas sana. Aku berharap Ayah bisa membawaku pulang dan bertemu dengan anak-anakku. Apa kau bisa melakukannya?"
Wanita itu tertawa renyah. " Aku seorang ibu juga, aku merasakan apa yang kamu rasakan. Aku memang tidak bisa membuat matahari terbit lebih cepat, tapi setidaknya kita bisa berbicara panjang lebar supaya waktu terasa begitu berlalu dengan cepat."
"Bener juga, ya. Ibu dari semalam nungguin aku, tapi kita nggak kenalan. Nama Ibu siapa?" Senja mulai tertarik bicara dengan wanita itu.
"Panggil saja Ibu Dewi."
"Siapanya Ayah?"
"Orang kepercayaan Ayah kamu setelah Pakde kamu."
"Berarti kerjanya di kantor Ayah?"
"Iya, dong."
Obrolan berlanjut membahas hal lain, mereka membicarakan hal yang ringan dan sesekali mengeluarkan tawa. Di saat itu pula, Senja memegang perutnya yang masih nyeri karena dibuat tertawa. Mereka sama sekali tak membahas persoalan Senja maupun Akmal yang baru saja kembali memperoleh kesuksesan setelah badai datang.
Ternyata memang benar yang di katakan Dewi. Semuanya akan berjalan dengan dekat ketika kita menghabiskan waktu dengan bicara dan membicarakan hal yang tidak penting. Hanya bertukar pengalaman dan sedikit cerita masa sekolah membuat Senja lupa bahwa ia sedang menunggu matahari.
"Selamat pagi, Ayah dengar dari luar ada yang tertawa, apa yang kalian tertawakan?" Akmal melangkah dengan ringan seakan tanpa beban.
__ADS_1
"Ayah. Kami sedang menertawakan Ayah." Senja menjawab dengan menahan tawa.
Akmal menatap keduanya bingung.
"Maafkan saya, Pak. Saya hanya menceritakan soal sedikit cerita Bapak yang saat stress mencari sepasang anak kembar."
"Astaga, Dewi. Itu memalukan, kenapa kau ceritakan. Ya sudah, lupakan. Kau boleh pulang sekarang, tapi tetap ngantor, ya. Terima kasih sudah menjaga Senja dengan sangat baik."
Dewi hanya menangguk lalu membebaskan diri dari sana.
"Ayah udah ketemu sama dokter? Aku boleh pulang, kan? Anak-anak gimana? Ayah sempat ke sana tadi? Mereka mau susu formulanya?"
Rentetan pertanyaan dari Senja membuat Akmal tertawa. Anak gadisnya itu memberondong berbagai pertanyaan, ia benar-benar menjadi gadis kecil yang sudah dewasa. Tak lagi memikirkan diri sendiri, tapi juga orang lain. Senja juga seakan sudah siap dengan statusnya yang menjadi Ibu.
"Satu-satu tanyanya. Ayah harus jawab yang mana dulu?"
"Terserah Ayah aja. Aku sendiri juga lupa tadi nanya apa aja."
"Apa? Jadi Ibu jaga anak-anakku, Yah? Ibu yang jaga? Pasti merepotkan Ibu. Bayi baru lahir, kan sebentar-sebentar bangun. Ibu pasti cape, kenapa Ayah biarin?" Alih-alih senang, Senja justru khawatir dengan kondisi ibunya.
"Terakhir kali aku ketemu sama Ibu, ibu kelihatan lebih kurus, wajahnya juga pucat. Ibu sakit, ya? Pakde setiap aku tanya nggak jawab. Katanya Ibu kecapean aja. Tapi masa kecapean sampai segitunya?"
Akmal nampak bingung. Mereka semua memang sepakat untuk menyembunyikan masalah sakit Manda yang menderita gagal ginjal. Mereka tak mau membuat Senja khawatir dan sedih di saat dirinya baru saja keluar dari belenggu Leo.
"Ibu sehat, Nak. Ibu nggak apa-apa. Ibu nggak sakit. Mungkin Ibu lebih kurus karena dia memikirkan kamu. Mungkin juga secara nggak sadar, Ibu menahan rindu."
"Apa, iya?"
"Bisa jadi, kan? Nyatanya lihat saja sekarang. Ibu rela begadang buat jagain cucunya, ibu rela cape demi merawat cucunya. Itu, kan berarti Ibu mulai menerima kehadiran kamu, anggap kamu anaknya, cuman dianya nggak sadar, dan kita perlu menyadarkannya."
__ADS_1
"Caranya?"
"Sudah Ayah lakukan semalam. Mudah-mudahan Ibu sadar, pokoknya kamu tenang aja. Selama ada Ayah, semua akan baik-baik saja. Ayah nggak bisa mengembalikan waktu kecil kamu, lalu membuatnya menjadi lebih baik. Tapi, Ayah bisa membuat masa depan kamu lebih baik mulai dari sekarang. Ayah akan melakukannya mulai dari sekarang."
"Begini saja aku sudah bahagia, Ayah."
"Nggak lengkap, karena Ayah masih menyembunyikan kamu dari keluarga Ayah. Maaf, ya untuk saat ini Ayah belum bisa terbuka dengan keluarga Ayah. Ayah harus diam-diam menemui kamu. Menyembunyikan kamu."
"Ayah ada waktu untuk aku aja aku udah bersyukur. Nggak apa-apa kalau Ayah nggak ketemu aku tiap hari. Aku mengerti, ada banyak hati yang harus kita jaga. Jadi kapan aku bisa pulang?"
"Sekarang juga nggak apa-apa. Ini tadi Ayah bawain kamu baju ganti. Ayah ingat kalau kamu nggak bawa apa-apa ke sini."
"Terima kasih," ucap Senja tiba-tiba meraih tangan Akmal lalu mencium punggung tangannya.
Akmal berhambur membawa anaknya dalam dekapannya. Hal yang belum pernah ia lakukan sejak pertama kali mereka bersua.
Senja bahagia, tak menyangka masih bisa memeluk ayahnya. Pertanyaan yang dahulu selalu tersusun rapi di kepala hingga sekarang sama sekali tak di keluarkan oleh Senja.
Entahlah, ia merasa pertanyaan-pertanyaan itu tidak penting lagi baginya. Sudah bisa bertemu dan memeluknya seperti ini saja sudah cukup untuk Senja. Dekapan yang sudah lama ia rindukan.
"Aku nggak apa-apa selamanya disembunyikan oleh Ayah, tapi bisakah kita sering seperti ini. Sejak aku lahir aku tidak pernah merasakan dekapan sosok orang tua. Aku memang selalu bersama dengan Ibu, tapi aku tidak pernah merasakan sentuhan hangat darinya." Senja semakin mengeratkan pelukannya.
"Ayah janji akan memberikan pelukan ini setiap hari, Nak."
Mereka lalu terdiam sesaat, membiarkan detik demi detik terdengar karena keheningan yang mereka ciptakan. Mereka membiarkan detik-detik itu berlalu begitu saja, mereka masih menikmati sentuhan yang seharusnya mereka lakukan puluhan tahun yang lalu.
"Udah sedihnya, udah nangisnya. Kita mau ketemu anak-anak. Ganti baju, gih." Akmal meregangkan pelukannya.
"Ibu jadi memberi mereka nama, Yah?"
__ADS_1
"Jadi, tapi tadi Ayah nggak dikasih tahu siapa namanya. Katanya Ibu, orang yang pertama harus dengar nama cucunya, ya kamu."
"Oh, ya?" pekik Senja berbinar.