
Hari ini adalah hari di mana pernikahan Senja dan Leo menginjak yang ke satu tahun. Sejauh ini yang berperan manja dan seperti bayi bukannya Senja tapi sebaliknya.
Suami Senja itu sering kali pulang dari kantor sebelum waktunya. Jika ditanya atau diomeli, pria itu dengan santainya hanya menjawab 'aku mau susu'. Entahlah, Leo menjadi sangat mesum semenjak menikah dengan wanita yang dulu pernah ia aniaya.
Seperti hari ini, baru saja beberapa jam ia berangkat ke kantor, Leo sudah kembali pulang dengan malas dan lemas. entah ada apa dengan dirinya. Tidak ada tanda sakit atupun demam. Tapi pria itu berjalan sempoyongan.
"Kamu kenapa, Mas? Sakit?"
"Aku masuk angin kayaknya. Aku mual terus dari sampai kantor tadi."
"Pas berangkat nggak apa-apa. Jangan beralasan sakit hanya karena minta susu, Mas."
"Ya ampun, enggak. Kali ini aku benar-benar sakit, nggak alasan, aku nggak minta susu, Sayang. Tapi kalau kamu kasih aku mau."
"Ya udah ayo sini aku kerokin."
"Aku nggak biasa di kerok. Ini udah enakan nempel sama kamu begini. Mau begini aja, aroma kamu enak banget, sumpah." Leo mengendus-endus punggung Senja yang sedang fokus dengan sinetronnya.
"Aku mau tidur sini boleh, ya." Leo menepuk-nepuk paha istrinya.
Senja hanya mengangguk. Tangannya dengan lembut mengusap pelan puncak kepala suaminya. Sungguh dunia benar-benar terbalik di kehidupan Senja. Ia yang wanita, tapi justru ia yang memajakan suaminya.
"Lah, Leo kok udah di rumah aja? Nggak enak badan?"
Manda yang duduk bergabung membawa sepiring durian duduk tak jauh dari pasangan suami istri itu.
"Masuk angin katanya," sahut Senja
__ADS_1
Tak berselang lama Manda duduk, Leo yang sempat menutup mata kembali membuka indra penglihatannya. Tiba-tiba saja perutnya kembali terasa di aduk saat aroma durian masuk ke rongga hidung mancungnya.
Leo berlari ke kamar mandi yang berada di dekat dapur, memuntahkan segala makanan yang sempat di konsumsi oleh cacing dalam perutnya.
"Kamu masuk angin beneran, Mas. Masuk kamar deh, aku buatkan teh hangat dulu. Habis itu aku kerok biar enteng badannya." Senja datang dengan memijat pelan tengkuk suaminya.
"Perutnya nggak enak banget."
"Ia makanya, ganti baju terus tidur, istirahat di kamar. Nanti aku nyusul."
Leo menurut, ia dengan langkah gontai naik ke lantai atas untuk beristirahat di kamar.
Tak berselang lama, Senja datang dengan segelas teh hangat.
"Bangun, Mas. Minum dulu."
Senja memejamkan mata. Ia menahan kesal karena Leo terlalu ngeyel untuk diberi tahu.
"Sebenernya aku sudah merasa mual beberapa hari ini. Tapi mual ku pas di kantor aja, dan nggak separah sekarang. Kata orang kantor kamu lagi hamil, kamu udah datang bulan belum sih bulan ini?" tanya Leo merebahkan kepalanya di pundak Senja. Kedua tangannya memeluk pinggang Senja dengan erat.
"Datang bulan aku, kan memang nggak teratur, Mas. Nggak ada hubungannya ah. Masa aku hamil kamu yang mual. Kamu kecapean aja itu. Efek tiap hari minta susu juga. Jadinya perutnya nggak enak."
"Nggak ada salahnya kamu testpack. Ini mual aku kadang kalau nyium sesuatu, kayak barusan aku mencium aroma durian, kayak di aduk perut aku. Kamu, kan tahu aku pemakan segala."
"Iya, kalau ada waktu aku akan test."
Beberapa hari setelah itu kepada Leo bukannya membaik justru memburuk, ia terus menerus memuntahkan segala sesuatu yang masuk di perutnya. Ia enggan makan apapun bahkan minum air putih sekalipun. Ia tersiksa saat memasukkan sesuatu dalam perutnya ia akan kembali mual.
__ADS_1
Sudah memanggil dokter untuk melihat keadaan pria itu, tapi dokter mengatakan Leo hanya kelelahan, tidak ada tanda-tanda penyakit serius yang datang. Semua terlihat sehat.
"Senja, sebaiknya kamu yang periksa. Apa yang dialami Leo ini seperti orang hamil. Mungkin kamu hamil dan Leo yang merasakan kehamilan kamu."
"Tapi ini, kan terlihat nggak masuk akal, Bu."
"Di coba Senja. Aku dari beberapa hari yang lalu sudah bilang, kan. Kenapa kamu nggak dengar. Kamu nggak tahu betapa aku tersiksa dengan keadaan ini. Aku sangat lemas. Oh Tuhan, berikan hidayah untuk istriku."
"Enak aja nggak tahu. Kamu lupa, aku hamil si kembar juga kayak kamu begini. Enak aja bilang nggak tahu rasanya," protes Senja.
"Ya makanya kamu test dong, Sayang."
"Iya udah, besok aku test." Akhirnya Senja mengabulkan permintaan kedua manusia yang berarti untuknya.
Dan keesokan harinya Senja benar-benar melakukan testpack. Ia menunggu sedikit lama, untuk menunggu hasilnya.
"Apa? Yang benar saja? Bisa-bisanya mereka berkata benar. Aku benar-benar hamil? Astaga, aku nggak percaya ini." Senja bahagia hingga nyaris melompat dari kamar mandi. Untung ingatannya membawa wanita itu untuk kembali diam.
"Gimana Sayang? Apa hasilnya?" tanya Leo yang menunggu di depan pintu kamar mandi sejak tadi.
"Aku hamil, Mas." Senja berhambur memeluk suaminya dengan erat. Tangis haru terdengar dari bibir Senja. Memang bukan kehamilan pertama bagi Senja, tapi kehamilan ini begitu berbeda dari kehamilan sebelumnya. Di mana kehamilan ini adalah kehamilan yang begitu diharapkan oleh Senja sejak ia menikah dengan Leo.
Pria yang berstatus suami, itu pun juga tak kalah terharu. Ia juga menitikkan air mata untuk kehamilan istrinya. Kehamilan yang begitu ia nanti, tanpa berani menunjukkannya pada Senja. Satu tahun lamanya, akhirnya mereka kembali di percaya untuk menjadi orang tua bagi bayi yang akan hadir ke dunia.
Beberapa bab lagi akan menuju akhir kisah Senja. Kisah cinta Karang dan gadis berhijab akan aku buatkan novel sendiri, ya. Sementara mari kita melipir dulu ke sini. Baru up tadi pagi. Silakan masukan list favorit dulu biar tahu update terbarunya.
__ADS_1