Senja Dan Derita

Senja Dan Derita
106. End


__ADS_3

Waktu memang terlalu kejam, ia berjalan terlalu cepat dan tak memberi kesempatan pada siapapun untuk berhenti sejenak. Leo sedikit melewatkan kehamilan Senja kali ini, karena kesibukannya yang tidak bisa ditinggalkan, masalah yang terus datang di perusahaannya membuat Leo sedikit difokuskan pada pekerjaannya dan pulang hingga larut malam. Hari itu terus terjadi beberapa bulan lamanya.


Seperti biasa, pria itu pulang pukul sepuluh malam. Membersihkan diri adalah rutinitasnya di setiap malam, meskipun badannya merasa pegal-pegal dan terasa tidak enak jika mandi malam, ia harus tetap melakukannya agar ia bisa dekat-dekat dengan istrinya.


"Kamu sudah pulang, Mas?"


Tercium aroma minyak urut. Entah kenapa Leo selalu mencium aroma itu ketika dekat dengan Senja, ia tidak pernah dan tidak sempat bertanya karena ia selalu pulang larut malam dan Senja sudah terlelap.


"Iya baru aja pulang, kamu ada yang sakit? Badannya sakit semua, ya?" Leo bertanya seraya mengelus-elus punggung sang istri. Ia yakin sentuhan itu bisa membuatnya nyaman di saat istrinya membawa beban yang berat karena perutnya yang semakin membesar. Leo sadar kehamilan Senja kali ini sedikit merepotkan istrinya.


"Iya nggak papa kok udah biasa, kan? Cuman beberapa terakhir perutnya udah kayak kencang-kencang gitu. Kayaknya akan lebih cepat melahirkan daripada perkiraan dokter deh, Mas. Kamu nggak bisa cuti emang? Kerjaannya nggak bisa ditinggal banget,  ya?"


"Bisa Sayang bisa. Itu sebabnya aku bulan-bulan kemarin itu menyelesaikan masalah dengan cepat dan mengerjakan pekerjaan juga aku kebut. Biar aku bisa menemani kamu nanti pas melahirkan dan juga anak kita lahir nanti aku bisa ninggalin kantor. Besok aku nggak akan ke kantorku aku akan temani kamu. Mau aku pijit kakinya?"


"Nggak usah, kamu pasti cape. Di elus-elus gini juga udah enakan kok."


Senja kembali terlelap. Leo sangat merasa bersalah ketika harus sering meninggalkan Senja sendirian di rumah. Guratan lelahnya begitu kentara di setiap inci wajah istrinya.


Loe sejak tadi tidak menghentikan tangannya, ia masih mengelus-halus punggung Senja seraya terkantuk-kantuk.


Baru saja terlelap, Leo merasa ada yang mengguncang tubuhnya.


"Mas bangun, Mas. Ini jalan lahir aku keluar darah."


Leo terduduk seketika. Matanya membola begitu melihat darah yang mengalir di kaki istrinya.


"Jangan-jangan kamu mau melahirkan, aku telepon supir dulu suruh siapin mobil. Tahan sebentar, Sayang."


Leo dengan tangan gemetar menghubungi supirnya yang mungkin saja sudah tertidur dengan lelap. Tangannya yang lain juga sibuk mengambil tas yang sudah berisi dengan perlengkapan melahirkan.

__ADS_1


Setelah senua siap, Leo menggotong Senja dengan tergesa-gesa. Sementara wanita itu sudah mulai meringis kesakitan.


Ini kehamilan ke dua bagi Senja. Tapi apa yang ia rasakan adalah hal yang tak pernah ia rasakan saat melahirkan di kembar. Leo pun sama, dahulu ia hanya menemani Senja hamil tanpa tahu bagaimana proses melahirkan si kembar.


"Pak cepat ke rumah sakit, ngebut, Pak!" titah Leo tergesa-gesa dan panik membuat sang supir juga ikut panik.


Senja meringis sepanjang jalan. Sekali ia mencengkram tangan suaminya dengan kuat saat kontraksi datang. Keringat dingin mulai mengucur memenuhi kening wanita itu.


"Sabar Sayang. Sakit banget, ya?" Leo memberikan sentuhan penenang dengan memeluk Senja erat.


"Sakit banget," keluh Senja hampir menangis.


Setelah melewati beberapa menit, akhirnya mobil Leo membelok ke rumah sakit. Pria itu berteriak sekencang mungkin dengan nafas yang sudah tak teratur dan kepanikan yang sudah campur aduk memenuhi isi kepalanya.


Senja langsung mendapatkan penanganan dari dokter kandungan langganannya dan ia dibawa ke ruang melahirkan.


"Masih buka tiga, Bu Senja. Masih perlu beberapa jam lagi untuk bisa pembukaan lengkap. Atur nafasnya dan jangan buang-buang tenaga sebelum ada arahan dari saya."


"Itu sudah biasa terjadi pada wanita yang akan melahirkan, Pak. Jadi tenanglah, semua akan baik-baik saja. Percayakan pada istri Bapak bahwa Bu Senja bisa. Istri Bapak hanya butuh dukungan dan doa dari Bapak."


"Mas," keluh Senja menggenggam erat tangan sang suami.


"Operasi aja, ya. Aku nggak kuat kalau lihat kamu begini. Sama aja, Sayang. Mau normal apa nggak kamu tetap jadi Ibu."


Leo ingat kata-kata Senja yang ingin melahirkan normal. Ia ingin merasakan jadi Ibu sesungguhnya dengan merasakan sakit kontraksi dan melahirkan. Padahal semua wanita yang melahirkan baik melalui operasi ataupun normal sama saja. Mereka sama-sama berjuang untuk kehidupan mahluk kecil yang bernama bayi. Tapi lemah ada beberapa orang yang ingin merasakan nikmatnya kontraksi seperti yang Senja alami sekarang ini.


"Aku kuat, aku bisa kok," ucap Senja berusaha menahan sakit agar Leo tak khawatir.


Detik, menit, jam telah berlalu begitu saja. Semua berjalan terasa lambat bagi Leo. Wajah istrinya sudah memucat dan nampak lelah. Entah sudah berapa jam Senja berkutat dengan rasa sakit yang datang dan pergi.

__ADS_1


Yang Lei ingat, ia membawa Senja ke rumah sakit saat tengah malam dan kini sudah nampak matahari yang menghangatkan dunia. Tanda-tanda kelahiran belum juga nampak.


"Mas aku udah nggak kuat."


"Iya, Sus, tolong bawa istri saya ke ruang operasi. Istri saya sudah tidak kuat. Cepat lakukan!"


Suster itu tak langsung mengiyakan, ia memeriksa jalan lahir Senja dan ternyata pembukaan sudah lengkap. Segera memanggil dokter untuk menjalani proses kelahiran.


Lima menit setelah dokter itu datang, lahirlah pangeran kedua dari pasangan Leo dan Senja. Batin yang berjenis kelamin laki-laki itu nampak sehat dan lengkap tanpa kekurangan satu apapun.


Tangis bahagia tidak bisa di sembunyikan dari pasangan suami istri itu. Akhirnya anak yang mereka nantikan telah lahir ke dunia kebahagiaan mereka sudah terasa sempurna.


Entah apa yang salah. Anak mereka yang baru saja lahir ini juga begitu mirip dengan Leo. Sama seperti Alan dan Alana yang juga mirip dengan pria itu.


Melihat itu Senja sedikit berdecak kesal. Semua anak yang ia lahirkan hanya mirip dengan Leo tanpa ada yang mewarisi wajahnya.


Keluarga Senja yang baru saja datang juga mengakui itu dan mereka hanya bisa tertawa melihat Senja begitu kesal dengan suaminya.


"Ya,kan aku Papanya wajarlah kalau mirip aku."


"Ya yang hamil, kan aku yang melahirkan juga aku, yang sakit juga aku. Kenapa anak-anakku nggak ada yang mirip sama aku? Ujung kukunya aja nggak ada yang mirip."


"Ya udah kita buat aja lagi, kita buat yang banyak sampai ada yang mirip sama kamu."


Semua orang tertawa.


...Tamat. ...


Terima kasih sudah mengikuti perjalanan Senja dari awal hingga akhir. Terima kasih juga buat readers yang merelakan jempolnya untuk bergerak meng klik like ataupun komentar dan juga memberikan dukungan lainnya. Terima kasih banyak. Salam sehat dan sayang dari otor mungil 😘. Untuk perjalanan Karang nanti dulu, ya. Kita istirahat dulu. Silakan mampir ke sini jika berkenan

__ADS_1



__ADS_2