
Leo melanjutkan perjalanan setelah berhenti sejenak. Entah apa yang membuatnya berhenti ketika berpapasan dengan dua orang yang berseragam seperti baby sitter. Sempat melihat punggung keduanya beberapa detik, setelah itu ia tersadar bahwa ia harus segera melihat keadaan Senja.
Dengan langkah tergesa Leo kembali berjalan ke ruang operasi. Ia bahagia, sebentar lagi ia bisa melihat anaknya, tapi di satu sisi terselip rasa kegundahan karena perpisahannya dengan Senja.
Di saat Leo hampir sampai di ruang operasi, Dokter Wulan membuka pintu dan berjalan keluar ruangan.
"Dok, apakah anak-anak saya sudah lahir? Mereka sehat?"
"Alhamdulillah, semua berjalan dengan lancar. Bayi-bayi Anda sedang berada di ruangan bayi. Semua sehat dan sempurna. Selamat, ya Pak. Anda resmi menjadi seorang Ayah."
"Terima kasih. Bisa saya lihat anak-anak saya?"
"Silakan, minta tolong suster yang di dalam untuk mengantarkan. Saya permisi."
Leo menjawab dengan anggukan saja. Lalu bergegas masuk ke ruangan. Ia melihat Senja yang sedang memejamkan mata, entah tidur atau hanya sekedar merilekskan diri sendiri.
"Kok bisa jauh melahirkan nggak nunggu besok?"
Entah pertanyaan macam apa yang dilontarkan pria itu. Ia berpendidikan tapi pertanyaan yang ia lempar seakan tak pernah makan bangku sekolah.
"Yang namnya orang mau lahiran mana bisa di prediksi. Orang bayinya minta keluar sekarang, masa iya aku nunggu besok? Pendidikanmu setinggi langit tapi IQ mu tiarap."
"Kau..."
"Apa?" tanya Senja ketus. "Aku heran, manusia sepertimu kok masih bisa hidup sampai sekarang. Nyusahin aja. Kalau ke sini hanya untuk protes, sana pergi. Aku cape, jangan nambah sakit yang aku rasa."
"Hanya bisa berbaring aja kamu berani sama aku."
"Memang kapan aku pernah takut padamu? Aku diam bukan berarti takut, hanya saja aku sedang waras untuk nggak meladeni omongan nggak berkelas. Lagipula aku berbaring juga buka keinginan ku. Aku sedang mengabulkan keinginan seseorang yang nggak ada rasa terima kasih. Sus, tolong antar laki-laki ini ke ruangan bayi. Saya mau istirahat." Senja kembali memerankan matanya.
"Senja, ka--"
__ADS_1
"Sabar, Pak. Ibu yang baru melahirkan, apalagi untuk yang pertama kalinya memang sering terjadi perubahan hormon. Bapak harus bisa mengimbangi istri Bapak. Memang begitu, nanti lambat lain akan kembali seperti semula. Yang penting Bapak harus menjaga mood dan kebahagiaan istri, kasih perhatian yang berlebih agar istri tidak sampai mengalami baby blues. Kasihan ibu dan anaknya kalau sampai hal itu terjadi. Mari saya antar ke ruangan bayi." Suster itu berkata dengan ramah lalu melenggang keluar tanpa menunggu jawaban dau Leo.
Leo menatap senja yang tidur, entah tidur sungguhan atau tidak. Beberapa detik berikutnya ia mengikuti langkah si suster yang sudah tak terlihat punggungnya.
"Ini kedua anak Bapak. Waktu kunjung tidak lebih dari sepuluh menit, ya Pak. Saya parmisi."
"E sus, boleh saya bawa pulang sekarang aja mereka? Tapi mereka akan tetap berada dalam pengawasan perawat."
"Maaf, Pak. Saya rasa lebih baik Bapak bicarakan ini pada Dokter Wulan saja. Biar lebih enak. Permisi."
"Terima kasih."
Perhatian Leo lalu ia alihkan pada sepasang bayi kembar yang saat ini tertidur pulas. Memandang lekat wajah tampan dan cantik itu. Mengelus-elus pipi keduanya.
Rasanya Leo masih tak percaya jika ia sudah memiliki anak, ia sudah menjadi seorang bapak. Meski bukan lahir dari rahim Rida. Namun, ada satu hal yang membuat Leo janggal. Dan ia sendiri tak tahu apa yang membuatnya janggal.
"Ah sudahlah, lebih baik aku menghubungi Rida. Aku belum semua bertemu dengannya tadi. Pasti dia juga nggak tahu kalau Senja sudah melahirkan."
Leo mengotak-ngatik ponselnya seraya berjalan keluar ruangan.
"Di rumah aku tertidur, nggak tahu kenapa aku ngantuk banget tadi. Ada apa?"
"Ke rumah sakit kasih ibu sekarang, ya. Anak kita sudah lahir."
"Ha? Kok bisa, kan jadwalnya besok."
"Nanya nanti aja. Ke sini sekarang! Aku tunggu."
***
Di tempat lain, Akmal dan Aldi kebingungan, karena sejak beberapa detik yang lalu bayi mungil Senja menangis tak kunjung diam. Entah sudah berapa kali bayi-bayi itu pindah tangan dari baby sitter hingga kedua pria yang semakin lama semakin panik. Sementara Manda hanya diam melihat kepanikan mereka.
__ADS_1
"Manda cobalah untuk menggendong mereka barangkali mereka ingin sentuhan dari seorang ibu juga," ujar Akmal seraya menggoyang-goyangkan tubuhnya.
"Coba aja dikasih susu lagi."
"Kamu dari tadi juga lihat mereka nggak mau susunya. Mungkin mereka mau asi dari senja, aku juga tidak kepikiran tadi kenapa nggak minta asinya."
"Kamu mana punya pikiran? Ya udah sini." Manda merentangkan kedua tangannya di depan Akmal untuk meminta bayi perempuan yang sejak tadi menangis.
Untuk yang kedua kalinya Akmal bisa melihat wajah Manda begitu dekat. Kecantikannya tak pernah pudar termakan usia. Guratan-guratan kecantikan masih terlihat jelas di mata Akmal. Seandainya saja waktu itu ia bisa melawan kedua orang tuanya, maka saat ini tidak akan ada hati yang terluka.
Akmal dan Aldi hanya menatap diam wanita yang kini menggendong seorang bayi dan menepuk-nepuknya dengan pelan. Aldi tak percaya bahwa wanita di depannya itu adalah adiknya. Pasalnya, dari dulu hingga sekarang ini adalah pertama kalinya Manda menggendong seorang bayi.
Dan yang benar saja, seperti disulap, bayi yang berada dalam gendongan Manda terdiam seketika ketika wanita itu memberikan sentuhan-sentuhan yang mungkin saja membuat bayi itu merasa nyaman. Kedua pria yang berada dalam ruangan itu hanya saling tatap seakan memikirkan hal yang sama.
"Manda kamu bisa menenangkannya?" Pakik Aldi tak percaya.
Manda tak menjawab, ia lebih memilih menyerahkan bayi yang sudah tenang itu kepada babysitter-nya.
"Masih mau menatap aku dengan bingung atau menyerahkan anak bayi laki-laki itu padaku?" Tanya Manda yang lebih tepatnya bisa disebut dengan sindiran.
Sadar ucapan itu untuk dirinya, Aldi segera menyerahkan bayi itu kepada Manda. Seperti sesaat sebelumnya, bayi laki-laki itu tenang dalam gendongan Manda meskipun wanita itu baru menggendongnya beberapa detik saja.
"Apa mereka sudah diberi nama?" Manda bertanya kepada kedua pria dewasa itu, namun tetap hanya pada bayi kecil yang ia dekap.
"Aku tidak menanyakan hal itu pada Senja tadi. Aku tidak memikirkan itu, yang terpenting tadi adalah membawa cucuku pergi dari rumah sakit. Aku tidak memikirkan hal yang lain."
"Kamu memang banyak alasan. Lalu Bagaimana cara kita memanggil mereka? Apa mereka harus dipanggil bayi laki-laki dan perempuan begitu."
"Manda, berapa hari lagi Senja keluar dari rumah sakit kita tunggu saja dia."
"Biar aku yang memberi nama. Ibu dari anak-anak ini tidak akan berani membantahku."
__ADS_1
Manda lalu beringsut mundur dari hadapan mereka bersama dengan bayi laki-laki yang sudah tertidur pulas.
Sementara Akmal dan Aldi kembali saling tetap dengan seulas senyum tipis. Lagi-lagi kedua pria itu nampaknya memikirkan hal yang sama.