Senja Dan Derita

Senja Dan Derita
55. Pulang


__ADS_3

"Aduh," pekik Senja yang baru berjalan beberapa langkah setelah sampai rumah.


"Kenapa? Lagian kenapa kamu jalan sendirian? Ayah baru saja mau ambil kursi roda, kamu udah jalan. Sabar sebentar dong, kalau kamu sakit, ada apa-apa sama perut kamu, kamu dirawat lagi di rumah sakit gimana? Malah lama lagi bisa ketemu sama anak-anak nantinya."


Senja meringis, "Ya maaf, Ayah aku khilaf aja tadi. Aku udah nggak bisa nahan mau ketemu sama anak-anak."


Akmal hanya tertawa kecil. Pria itu lalu meminta anaknya untuk duduk di kursi roda yang sudah ia turunkan dari mobilnya. Mendorongnya dengan rasa bahagia, ia sudah tak sabar ingin melihat wajah bahagia Senja ketika melihat Manda yang menjaga kedua bayinya dengan kasih sayang.


"Yang ini mau di gendong juga, iya mau di gendong? Gantian dong, kamu, kan baru aja turun, masa mau di gendong lagi. Gendong sama Mbak dulu, ya. Uluh-uluh sayangnya Oma. Mbak, tolong ini yang nangis di gendong, Mbak."


Terdengar suara Manda yang riweh dengan kedua cucunya. Senja yang sejak tadi sampai di ruang tamu, urung bicara karena larangan sangat Ayah. Ia pun sebenarnya senang melihat ibunya yang berubah begitu drastis.


Sekarang Senja tahu maksud Tuhan membiarkan dirinya hidup dengan Leo sesaat. Meskipun menyakitkan, tapi ternyata dibalik kejadian menyakitkan itu Tuhan memberikan hadiah yang begitu manis, bahkan ini terlalu manis.


Mata Senja berkaca-kaca memandang pemandangan indah itu. Ia begitu terharu melihat ibunya yang terlihat menyanyangi anaknya.


Oma? Bahkan Ibu memanggil dirinya sendiri dengan sebutan Oma. Itu artinya secara tidak langsung Ibu juga mengakui aku sebagai anak?


"Tuh lihat, Ibu sudah memanggil dirinya sendiri Oma. Kamu tahu, kan artinya? Ibu nggak akan mengakui dirinya Oma, jika dia nggak anggap kamu anak. Tapi jangan kaget kalau nanti Ibu masih ketus sama kamu, ya. Seperti yang Ayah bilang, Ibu masih gengsi untuk mengakui bahwa dia salah apalagi mengucap kata maaf. Kamu harus sabar lagi," bisik Akmal pelan.


"Iya, Yah aku ngerti. Nggak apa-apa, Ibu seperti ini saja aku senang. Aku bahagia dengan apa yang aku lihat," ujar Senja seraya menghapus pipinya yang sudah di tetapi air mata.


"Sesekali kamu sentil Ibu nggak apa-apa. Ngasih pelajaran kecil bukan berarti durhaka. Kita sebagai orang tua juga salahnya banyak. Nggak apa-apa kalau diingatkan. Kita tonton dulu pertunjukan ini, ya."


Senja mengangguk semangat, padahal sejak tadi wanita itu sudah tak sabar ingin bertemu anaknya, tapi giliran jarak mereka sudah dekat, keinginan Senja yang menggebu seakan sirna di telan alam.


"Bu, ini susunya yang perempuan, yang laki biar saya berikan."


"Yakin nggak ketuker, ya?" Manda menimang sebotol susu yang baru saja ia bawa.


"Tidak, Bu."


"Laki dan perempuan?" gumam Senja yang terdengar di telinga Akmal.

__ADS_1


"Kan ayah udah bilang tadi kalau kamu adalah orang pertama yang harus tahu namanya. Ayah aja tadi nanya nggak dikasih tahu, apalagi mereka yang cuman baby sitter. Jadi laki dan perempuan itu adalah nama panggilan sementara. Ayah nggak kenal dekat dengan ibumu dulu, eh bukan nggak dekat, malah kita nggak saling kenal. Lebih tepatnya cuman Ayah yang mengenal ibu. Dulu Ayah jatuh cinta sama ibu pada pandangan pertama. Lain kali aja Ayah cerita, ya ceritanya panjang."


"Ibu posesif, ya. Aku dua puluh tahun tinggal sama Ibu juga nggak tahu kalau Ibu posesif. Itu artinya Ibu selama ini tidak menjadi dirinya sendiri?"


"Bisa jadi."


Pandangan mata Senja dan Akmal kini kembali pada wanita yang sejak tadi kerepotan dengan dua bayi bersamanya. Tubuhnya sejak tadi tak mau diam, bergerak terus menerus mengayun-ayun dan menimang bayi dalam gendongannya.


"Nanti kalau ketemu sama Mama, kalian jangan lupa Oma yang gendong kalian. Harus tetap mau digendong sama Oma nanti kalau Mama udah pulang."


Senja tak sanggup menahan laju air matanya, cairan bening itu kembali mengalir dengan deras. Ia suka terharu dengan celotehan ibunya.


"Mereka nggak akan nolak digendong sama Oma kalau Omanya juga tinggal di sini," sahut Akmal seraya mendorong kursi roda Senja.


Manda yang terkejut seketika menoleh ke belakang, bayi perempuan yang di dekapannnya hampir saja terjatuh saat melihat siapa yang datang.


"Manda, astaga, kamu ini kenapa? Lihat kita kayak lihat hantu aja," protes Akmal yang terkejut melihat cucu nya hampir terjatuh.


"Kalian sejak kapan di sini?"


"Baru sampai kok, Bu. Saat ibu mengucapkan kalimat terakhir," potong Senja cepat. Ia tak mau jika ayahnya jujur, hal itu akan membuat ibunya malu.


"Kok sudah pulang? Udah baikan emang?" tanya Manda meletakkan bayi itu ke dalam bidang bayi.


"Alhamdulillah sudah ibu. Aku tadi niatnya begitu sampai rumah mau langsung nyusuin si kembar, tapi ternyata begitu sampai rumah udah minum susu formula."


"Nanti saja kalau sudah bangun."


Manda lalu beringsut pergi dari sana. Menyambar tas miliknya lalu melangkah ke pintu utama.


"Mau ke mana?" teriak Akmal.


"Pulang. Kan, udah ada ibunya," jawab Manda dengan entengnya.

__ADS_1


"Enak aja pulang. Kasih tahu namanya dulu." Masih Akmal yang bicara.


"Alan dan Alana. Sudah, kan? Apa aku boleh pergi?"


"Bagus juga namanya. Ya udah pulang sana!"


"Ayah, kok suruh pulang," sela Senja cepat. "Katanya tadi suruh tinggal sini."


"Ya, ibu maunya pulang. Ya udah biarin aja pulang, lagian kamu juga udah ada dua baby sitter." Akmal mengedipkan sebelah matanya pertanda bahwa ini adalah sebuah sandiwara.


"Kenapa masih di situ? Katanya pulang."


Melihat Manda yang masih berdiri di tempat membuat Akmal ingin terus menggodanya. Ia tahu berat bagi Manda untuk pulang, namun nampaknya gengsinya masih menguasai dirinya, sehingga wanita itu memilih untuk mempertahankan egonya.


"Iya." Manda menjawab dengan singkat dan ketus. Lalu kakinya ia lebarkan untuk melangkah keluar rumah.


"Ayah, Ibu benar-benar pulang," pacar Senja panik.


"Tenang, Ayah akan melakukan sesuatu yang membuat ibumu kembali ke sini."


Akmal lalu berjalan menuju box bayi yang tak jauh dari mereka. Menoel-noel pipi salah satu di antara mereka, sedikit memainkan wajah bayi yang sedang tertidur pulas.


"Ayah, apa yang Ayah lakukan mereka baru saja tidur," protes Senja tak terima yang anaknya diganggu saat sedang pulas-pulasnya.


"Tunggu sebentar, Senja. Ayah tidak menyakitinya, Ayah hanya membuatnya menangis itu saja."


"Ayah ayolah, jangan ganggu mereka."


Dengan perlahan Senja bangkit dari kursi rodanya, dan di saat bersamaan salah satu dari mereka menangis keras.


"Ayah sudah aku bilang jangan membuat--."


Ucapan Senja terhenti karena ada seseorang yang memotong ucapannya.

__ADS_1


"Kalian apakan anak-anak yang baru saja tidur pulas ini? Aku baru meninggalkannya sebentar dan dia sudah menangis, kku tidak tahu apa yang kalian lakukan. Tidak bisakah kalian membiarkannya tertidur sebentar?" cerocos Manda mengambil Alan yang meraung-raung ingin ditolong.


Sementara Akmal hanya menaik turunkan alisnya seraya menatap sang anak yang tertegun.


__ADS_2