
"Bang Leo ganggu aja, padahal Mbak Senja mau ngomong sesuatu tadi," protes Karang yang sebenarnya sudah kepo ingin tahu apa yang ingin dibicarakan oleh Senja.
"Aku tahu apa yang ingin dia bicarakan." Leo beralih menatap Senja. "Itu tugas aku, bukan kamu," ucapnya.
Entah tahu dari mana Leo perihal yang akan dibicarakan oleh Senja. Wanita itu tak mengatakan apapun tadi, ia hanya bilang akan bertemu dengan Karang sebagai adik.
"Jadi gini, Pak Akmal dan juga Bu Clara. Saya saat ini sedang menaruh hati pada anak Bapak. Saya merasa hidup saya akan semakin sempurna jika bisa bersama-sama dengan anak Bapak... "
"To the poin saja Leo," potong Akmal cepat karena merasa menunggu terlalu lama.
"Saya ingin Senja jadi istri saya, Pak. Saya tahu kesalahan saya di masa lalu mungkin nggak semua orang bisa memaafkan. Tapi saya sudah berubah, saya bukan Leo yang dulu, saya mencintai anak Bapak apa adanya."
"Sebagai orang yang sama-sama punya kesalahan besar di masa lalu, saya sudah memaafkan kamu. Tapi kalau untuk menikah, saya tetap menyerahkan keputusan itu pada Senja. Dia yang akan menjalani kehidupannya. Kamu gimana Senja? Kamu mau menikah sama dia?"
Wajah Senja bersemu merah. Tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Anggukan adalah sebuah jawaban pengganti 'iya'.
Semua orang bahagia. Senja adalah wanita yang paling bahagia di antara empat orang yang kini sedang duduk melingkar bersamanya. Senyuman, lempar canda, kehangatan, sesuatu hal yang begitu Senja inginkan dari lama. Tak ia kira ia bisa menikmatinya sekarang.
Hidup Senja sekarang sudah sempurna, sesempurna cintanya pada orang-orang di sekitarnya. Tak ada lagi alasan baginya untuk mengeluhkan sesuatu, meminta hal yang lebih pada Sang Pemilik Kehidupan. Ia sudah sangat beryukur dan kebahagiaan ini lebih dari cukup baginya.
"Jadi kapan kalian akan menikah? Ayah rasa nggak perlu lamaran lah. Langsung nikah aja," saran Akmal.
"Setuju," pekik Leo semangat. Semua orang saling tatap lalu tertawa.
"Nggak sabar banget, sih Bang. Heran," ejek Karang.
"Kamu, kan tahu kalau aku udah nungguin lama. Kurang sabar apa aku sama dia? Mana ada pernah yang gantungin aku lama begitu kayak kakakmu ini. Kalau aku nggak sabar, ya aku udah cari yang lain."
Hangat, setidaknya itulah yang Karang rasakan kini. Tawa dari keluarga yang sebelumnya tak pernah ia dapat, kini perlahan sudah ia dapatkan dengan cara yang sempurna.
Dan tawa itu berlanjut hingga hari di mana semua berkumpul di tempat yang sama dalam sebuah gedung yang dihias sedemikian rupa.
Tidak hanya Senja dan Alana yang cantik, tapi juga ruangan beserta kedua ibunya. Untuk pertama kalinya Clara dan Manda bertemu dan bertatap muka secara langsung.
__ADS_1
"Clara, akhirnya kita bertemu. Aku minta maaf jika kehadiranku yang pernah menjadi bagian dari masa lalu suamimu begitu menyakitimu. Maafkan aku."
"Nggak ada yang perlu di maafkan, semuanya sudah berubah, Manda. Kita sekarang sudah berada dalam lembaran yang berbeda. Biarkan saja masa lalu yang pahit itu pergi bersama kenangannya. Kita jalani sejak sekarang yang sudah ada."
Mereka berpelukan dalam kehangatan. Dari atas pelaminan, Senja memasang senyuman termanisnya. Bukan hanya untuk hari bahagianya saja, tapi juga untuk kedua ibunya yang sedang berpelukan.
Melihat istrinya yang senyumnya mengembang sempurna bak kue yang diberikan baking soda yang pas, membuat Leo mengikuti arah pandang wanita yang sudah menjadi istrinya beberapa jam yang lalu.
"Aku dari kecil sudah sebatang kara. Dan dengan baiknya Tuhan mengirimkan bidadari yang punya dua ibu. Betapa bahagianya aku."
"Aku juga. Aku juga sangat bahagia dengan hidupku Leo."
"Mas," ralat Leo cepat.
"Aku maunya manggil nama. Itu panggilan kesayangan aku buat kamu."
"Mana ada panggilan kesayangan manggil nama begitu."
"Kamu juga manggil aku nama, kan?"
"Ya aku nyamannya begitu, akan terdengar aneh telingaku kalau aku manggil kamu Mas."
"Ya mana ada suami istri manggil gitu ke suaminya. Panggil aku Mas. Nggak ada penolakan."
"Ya udah kalah kamu maksa."
Senyuman Leo mengembang begitu sempurna.
"Nanti malam jatahnya hilang."
Senyuman yang tadi merekah sempurna lenyap begitu saja bersama dengan kata-kata Senja yang menghilangkan malam indah mereka.
"Mahal banget bayarnya. Ya udah, terserah kamu saja manggilnya gimana," ujar Leo pasrah.
__ADS_1
Senja tertawa, ia begitu senang melihat wajah Leo yang begitu melas dan mengundang iba pada siapapun yang melihatnya.
Di sudut lain, Karang yang bersama dengan si kembar nampak sedang curi-curi pandang pada seorang gadis yang mengenakan gamis dan kerudung panjang yang duduk tak jauh darinya. Gadis itu duduk bersama seorang pria yang ia tebak adalah ayahnya.
Gadis itu nampak anggun meski lekuk tubuhnya tak terlihat jelas seperti gadis kebanyakan yang pernah ia temui. Gadis itu membawa aura yang berbeda di mata Karang.
Gadis itu menundukkan kepala begitu mata mereka tak sengaja saling pandang. Entah malu atau ada yang salah dengan dirinya? Karang tak tahu.
Dia anggun dan lemah lembut sekali, ah masih ada perempuan begitu ternyata. Oke gue tandain lo, suatu saat nanti gue harus tahu nama lo.
"Om, kapan acaranya selesai? Aku ngantuk," keluh Alan sambil menguap.
"Malem banget selesainya. Ya udah ayo, Om Karang antar ke kamar kalian. Kita malam ini nginap di hotel jadi kalian tidurnya barengan, ya. Bareng Om juga."
"Kita satu kamar?" sahut Alana.
"Iya."
"Nggak mau, masa aku tidurnya sama laki-laki? Mau sama Mama aja."
"Ya nggak boleh dong. Ya udah kalau nggak mau sama Oma Manda aja kalau gitu."
"Alana ribet, tidur doang pake milih-milih."
"Ya nggak apa-apa lah. Aku, kan perempuan, mana boleh tidur sama laki-laki. Kata Mama, kan gitu," sungut Alana.
"Maksudnya Mama itu kalau kita udah dewasa Alana. Kalau udah gede, baru nggak boleh."
Karang berjalan seraya memejamkan mata. Semakin sering berdekatan dengan mereka nampaknya tak membuat Karang terbiasa dengan pertengkaran yang terjadi setiap menit, detik, dan jam. Mereka terlalu mudah menjadikan obrolan menjadi sebuah pertengkaran.
"Om aku nggak berani tidur sendirian di tempat asing," kata Alana begitu sampai kamar Manda.
"Nggak apa-apa, Sayang. Aman kok, nggak akan ada yang jahat."
__ADS_1
"Alana pleass deh. Nggak usah resek. Kalau nggak berani tadi ngapain nolak tidur sama kita. Aku udah ngantuk banget ini," protes Alan kesal.
Karang garuk-garuk kepala yang tak gatal. Ingin sekali rasanya ia menenggelamkan kepala ke sadar lautan untuk menenangkan dirinya, seharian bersama dua keponakannya rupanya hal yang berat.