Senja Dan Derita

Senja Dan Derita
48. Tegang


__ADS_3

Entah berapa lama ayah dan anak itu berbicara dari hati ke hati di di atas meja operasi. Waktu terasa berjalan begitu lambat. Sejak tadi dokter Wulan mengotak-atik perut senja, namun tak kunjung terdengar tangisan seorang bayi.


"Ayah, apa masih aman? Leo belum ke sini, kan?" Senja mulai khawatir.


"Aman, anak buah Ayah masih anteng."


Tak berselang lama suara tangisan bayi menggelegar memenuhi seluruh sudut ruangan. Akhirnya yang mereka tunggu-tunggu hadir juga ke dunia. Senja tak bisa menyembunyikan rasa tangis seharusnya.


"Ayah, itu suara anak aku, kan? Itu suara cucu Ayah? Aku nggak salah dengar?"


"Iya, Nak. Anak kamu sudah lahir, mereka sudah lahir semua. Mereka kelihatan sehat. Selamat, ya." Akmal memberikan hadiah kecupan di kening Senja.


"Selamat, ya Senja. Anak-anak kamu lahir dengan sehat dan sempurna Alhamdulillah berat badan mereka normal jadi tidak perlu di inkubator." Dokter Wulan memberikan penjelasan seraya melanjutkan apa yang harus ia lanjutkan.


"Alhamdulillah," pekik Senja bahagia.


Akmal lalu sedikit menjauh dari Senja. Ia berdiri di sudut ruangan untuk menghubungi seseorang. Cukup lama pria itu bercakap-cakap lalu kembali duduk di dekat senja.


"Ayah anak-anak sudah dibawa ke ruang khusus bayi, tadi aku udah sempat lihat sebentar. Ayah bisa bawa sekarang."


"Iya, udah di atur sama anak buah Ayah. Tenang aja. Sekarang kamu di sini sendiri dulu nggak apa-apa, kan? Ayah mau mantau anak buah Ayah. Ayah harus memastikan kalau mereka nggak gagal. Ayah udah hubungi Pakde, nggak apa-apa Ayah tinggal sebentar?"


"Nggak apa-apa, Yah. Aku nggak sendirian, ada suster dan dokter yang masih di sini. Pastikan anak-anak ku ada di tangan Ayah."


"Iya." Sekali lagi Akmal mengecup kening Senja dan bergegas pergi dari sana.

__ADS_1


Akmal memantau pergerakan anak buahnya dari kejauhan. Untuk sampai di tahap ini tidaklah mudah. Butuh waktu dan strategi yang matang. Orang-orang yang di perkerjakan Akmal pun orang-orang pilihan. Ia tak asal tunjuk orang.


Terlihat orang suruhan Akmal yang memakai seragam suster dengan menggendong bayu kembar yang ia dapat dari panti asuhan. Tidak mudah untuk mendapatkan bayi kembar dengan berjenis kelamin berbeda. Untungnya waktu tiga bulan itu cukup untuk Akmal mencari anak itu. Ia sampai harus mengeluarkan uang banyak dan tenaga yang terkuras demi mendapatkan sepasang bayi kembar.


"Langsung saja tukar. Mereka yang itu, baru saja di letakkan di dalam sana." Akmal menunjuk dua orang suster yang sedang meletakkan bayi di tengah-tengah.


"Tugas kalian gimana? CCTV aman?" Akmal beralih pada anak buahnya yang pria.


"Aman, Pak."


"Ya udah tunggu di mobil!"


Fokus Akmal kembali pada dua orang suster abal-abal yang sedang berada dalam ruangan bayi. Entah mereka terbiasa dengan pekerjaan mereka yang mengendap-endap atau memang mereka terlampaui santai, dua orang suruhannya itu bergerak dengan cepat namun santai. Gerakan mereka begitu tertata sehingga siapapun yang melihat tidak akan mencurigai bahwa mereka adalah suster abal-abal.


Kedua Suster itu lalu pergi ke tempat yang sudah disepakati oleh Akmal. Mereka menyerahkan kedua bayi itu kepada dua orang baby sitter yang sudah dibayar oleh Akmal. Pria itu hanya menatap mereka dengan tatapan dan senyuman yang puas karena kerja mereka yang bagus.


"Astaga Leo. Mudah-mudahan ikatan batin antara ayah dan anak itu sekarang tidak berfungsi dengan baik," harap Akmal saat kedua baby sitternya berpapasan dengan Leo.


Jantung Akmal terasa melorot dari tempatnya ketika Leo sempat menghentikan langkah dan menatap kedua baby sitter itu yang terus berjalan menjauh dari rumah sakit.


Akmal menggigit jari seakan ia tahu apa yang akan terjadi. Dan di saat bersamaan Aldi dan Manda datang. Lengkap sudah semuanya, pusinglah sekarang kepala Akmal. Senyn6um yang sempat mengembang tadi, mendadak mengempis seketika. Jangankan senyum, untuk menggerutu saja rasanya mulutnya begitu sulit.


Tidak ada pilihan lain, Akmal harus menghentikan langkah salah satu di antara mereka. Tentu saja pilihan Akmal jatuh di pilihan Aldi dan Manda. Namanya bunuh diri jika Akmal menghentikan Leo.


Akmal berbalik arah dan mencari jalan lain. Untunglah posisi Aldi dengan Leo sedikit berjauhan, dan posisi mereka, Aldi yang di belakang Leo.

__ADS_1


Meskipun sebenarnya Akmal tak tahu jalan, ia terus saja melangkah sesuai dengan apa kata hatinya. Saking terburu-burunya, ia sampai menabrak orang-orang yang berlalu lalang.


"Kak Aldi," teriak Akmal sedikit keras.


Bukan hanya Aldi dan Manda saja yang berhenti, tapi entah kenapa Leo juga ikut menghentikan langkahnya. Mengetahui hal itu membuat Akmal segera menyeret keduanya dari penglihatan Leo.


"Akmal, ada apa?" tanya Aldi yang nampak bingung melihat nafas Akmal yang sudah tersengal-sengal dan keringat sebesar jagung memenuhi dahinya.


"Kau tak melihat apa bagaimana? Ada Leo di depanmu. Kita balik aja sekarang, anak-anak Senja udah aman sama aku. Kita biarkan Senja sama Leo dulu."


"Sama kamu? Di mana? Kamu nggak bawa apa-apa," sergah Manda segera.


"Sama orang suruhan aku. Udah balik, ayo! Mau lihat cucumu, kan? Ayo ikut aku. Sekalian aku tunjukkan rumah yang akan di tempati Senja dan anak-anak nanti." Akmal mendorong punggung keduanya agar segera berjalan.


"Mal, kau yakin rumahnya aman?"


"Yakin, rumah ini daerah kekuasaan orang berpengaruh dalam dunia bisnis. Meskipun nggak sebesar kekuasaan Leo, tapi aku yakin Leo akan malas jika berhubungan dengan pria ini. Pokoknya aman, bukan orang sembarangan yang bisa masuk kompleks elit ini. Lagian aku sudah menyewa orang untuk jaga rumah Senja nantinya. Setidaknya sampai Senja menikah atau bisa menjaga dirinya sendiri, baru aku benar-benar melepasnya."


"Rumah Senja?" tanya ulang Aldi.


"Iya, rumah itu atas nama Senja. Bukan apa-apa, Kak. Rumah itu nggak ada artinya jika mengingat masa lalu."


"Bagus kalau kamu sadar. Apapun yang akan kamu berikan tidak akan mempengaruhi apapun," sahut Manda dengan pandangan tetap ke depan.


"Siapa bilang? Jelas apa yang aku berikan sekarang sangat berpengaruh di masa depan Senja. Kalau aku nggak ngasih apa-apa, memang apa yang bisa kamu lakukan di posisi seperti ini? Jangankan memberikan masa depan indah. Untuk memperlakukan dia dengan baik saja kamu enggan. Aku nggak nyalahin kamu, Manda. Tapi apa yang kamu lakukan ini ini nggak hanya nyakitin Senja, tapi aku juga."

__ADS_1


"Nggak usah banyak bicara jika kamu nggak tahu apa yang terjadi denganku setelah malam itu. Kalau kamu cinta sama aku, harusnya kamu dekati aku baik-baik, kenal aku juga dengan cara yang baik. Bukan malah merusak orang yang katanya kamu cintai."


"Kalian ini apa-apaan, sih? Nggak malu didengar orang? Udah pada tua masih aja ribut soal yang udah lalu. Fokus sama Senja dan masa depan. Mau kalian ributkan sampai mati soal yang udah lalu, nggak akan berubah. Lanjutkan kalau mau ribut. Biar aku sendiri yang akan ke rumah yang katanya rumha Senja," tukas Aldi kesal.


__ADS_2