
"Senja, apa kamu tidak takut kalau sering bergaul dengan Leo suatu saat nanti dia akan mengetahui keberadaan Alan dan Alana?"
Manda menyampaikan kekhawatirannya selama beberapa bulan terakhir yang mendengar cerita Senja sering bertemu dengan pria itu. Apalagi si kembar juga beberapa kali cerita padanya bahwa mereka juga bertemu sosok pria yang mirip dengan mereka.
"Nggak usah takut Bu, Leo udah berubah kok, lagi pula aku merasa Leo juga saatnya tahu. Mau disangkal seperti apapun Alan dan Alana adalah anak kandungnya. Mungkin dia akan marah, tapi aku yakin dia tidak akan melakukan apapun. Aku punya keyakinan kalau anak-anak tidak akan diambil oleh dia, yang sekarang sudah banyak berubah."
"Kamu percaya begitu saja?"
"Yang aku tahu Leo tidak pernah ingkar dengan apa yang dia ucapkan. Udah banyak kok, Bu, udah kelihatan banget perubahannya. Pokoknya Ibu tenang aja, aku ini perempuan yang tidak mudah terkalahkan. Selagi aku nggak bisa ngapa-ngapain aja aku bisa mengelabui Leo, kan? Apalagi Sekarang aku sudah punya kekuatan baru, aku punya Ibu."
Wanita itu tersenyum lalu memberikan pelukan pada sang anak. Begitu banyak penyesalan yang ia rasakan dalam hati, namun ia tidak ingin tenggelam dalam penyesalan. Ia lebih fokus pada memperbaiki dirinya sendiri dan lebih menyayangi anaknya dengan sepenuh hati. Tidak apa meskipun terlambat daripada tidak sama sekali.
"Seandainya aja Ibu tidak memaksa kamu untuk menikah dengan Leo, mungkin sekarang kamu sudah bahagia dengan keluarga kecilmu."
"Ini aku juga udah bahagia, Bu. Aku punya ibu, aku punya anak-anak, aku punya Ayah, ya meskipun waktu Ayah nggak sepenuhnya buat aku, tapi nggak apa-apa. Kenapa harus menuntut yang lebih kalau yang aku punya sekarang sudah cukup membuatku bahagia."
"Ngomong-ngomong soal Ayah, kamu nggak pengen tahu Adik kamu? Biar bagaimanapun, kalian tetap sedarah, dalam tubuh kalian mengalir darah yang sama."
"Sebenarnya aku ingin, Bu. Tapi aku melihat Ayah tidak pernah menceritakan keluarganya pada kita, kan jadi aku berpikir kalau mungkin saja keluarganya Ayah tidak mau tahu soal kita. Kalau memang keluarganya Ayah nerima aku apa adanya, nerima kehadiran aku kayaknya minimal Ayah nggak akan tertutup banget sama keluarganya yang sekarang, kan. Pasti dia cerita-cerita soal keluarganya, soal anaknya." Menceritakan keluarga Akmal membuat Senja teringat saat dirinya meminta video yang disebar Leo.
"Ibu tahu nggak kalau keluarga dan perusahaan Ayah sempat terombang-ambing karena video yang udah disebar sama Leo, yang itu, loh Bu yang video pengakuan Ayah soal masa lalu dan juga status aku. Mungkin itu juga yang membuat Ayah nggak mau cerita soal keluarganya ke aku."
__ADS_1
"Mungkin juga. Tapi nggak ada salahnya kalau kamu coba bertanya saja. Biar tidak menerka-nerka."
"Nanti akan aku tanya. Kebetulan aku ada janji sama Ayah mau makan siang bareng. Ya udah, aku berangkat, ya Bu. Anak-anak keburu telat."
Dan saat makan siang itu benar-benar terlaksana, Senja belum ada keberanian untuk bertanya. Ia masih sibuk mengaduk dan mengunyah makanan dengan tempo yang pelan. Pikirannya terus berpikir bagaimana memulai percakapan mengenai keluarga ayahnya.
"Oh, ya Senja, Ayah dengar kamu sering bertemu dengan Leo."
"Iya Ayah dengar dari siapa, Ibu?"
"Iya. Pesan Ayah hanya satu, hati-hati saja, ya. Ayah rasanya sudah nggak perlu khawatir lagi sama kamu. Kamu sudah melewati semua hal-hal yang berat sendirian Ayah bangga sama kamu."
"Kamu ingin tahu saya?" sela seseorang berjalan menghampiri mereka.
Senja dan Akmal langsung saja menoleh pada sumber suara. Betapa terkejutnya Akmal ketika mengetahui Clara ternyata berada di restoran yang sama.
Akmal tidak takut dengan Clara, hanya saja, pria itu menyembunyikan kedekatannya dengan Senja hanya untuk menghargai Clara sebagai istri dan wanita yang menghabiskan sisa hidupnya untuk dirinya. Ia tak mau dengan tahunya Clara mengenai hal ini, ia merasa tak dianggap. Dan nyatanya benar apa kata pepatah, sepandai-pandainya kita menyimpan bangkai akan tetap tercium juga.
"Clara, kamu di sini?"
"Iya, kaget? Sebuah kebetulan yang pas. Jadi ini yang kamu lakukan di belakang aku? Menemui anak mu? Lupa kamu sama janji yang sudah kamu ucap?"
__ADS_1
"Clara, duduklah. Kita bisa bicarakan ini dengan tenang tanpa menyita perhatian banyak orang."
Dari percakapan yang Senja dengar, ia sudah mengerti siapa wanita yang berdiri di depan ayahnya ini. Dari raut wajahnya yang tercetak pun, Senja sudah paham bahwa istri sang Ayah tak suka jika suaminya menemui dirinya. Apa ini alasan ayahnya terlalu tertutup dengan keluarganya? Jika memang, iya. Itu artinya dugaannya selama ini benar adanya.
Kedua wanita yang baru pertama kali bertemu itu saling tatap sejenak. Senja dengan ramah memberikan senyum terbaiknya dan sedikit menganggukkan kepala tanda penghormatan. Namun, respon yang Clara berikan sangat berbanding terbalik dengan sapaan Senja.
"Clara, aku minta maaf jika selama itu aku diam-diam menemui Senja. Akan sangat tidak adil jika aku menelantarkannya. Aku tahu ini menyakitkan hati kamum tapi cobalah untuk berpikir dari sisi Senja."
"Kamu kenapa nggak nyoba untuk berpikir dari sisi aku dan anak kita? Kami yang menerima dampak dari perbuatan kamu di masa lalu."
"Clara, kalian semua adalah tanggung jawab aku. Baik kamu, Karang, Senja, kalian adalah orang-orang yang harusnya aku bahagiakan. Selama ini aku bertemu dengan Senja tidak mengurangi waktuku dengan kalian, kan? Kita Masih sempat liburan, makan malam bersama di luar, merayakan hari-hari jadi kita, ulang tahun Karang. Sejauh ini aku masih adil pada kalian, kan? Aku bertemu dengan Senja tidak mengubah waktu yang aku berikan ke kalian. Jadi aku mohon Clara, biarkan seperti ini. Senja sudah cukup hidup menderita tanpa aku." Genggaman tangan Akmal di tangan Clara semakin erat.
Karang? Nama adik tiriku, Karang? Namanya sama seperti pemuda yang somplak itu. Ah, tapi tidak mungkin dia, tidak mungkin anak Ayah menjadi anak brutal seperti itu. Nama Karang pasti nggak hanya dia, kan? Nama yang langka, tapi bukan berarti dia dan Karang anak Ayah adalah orang yang sama.
"Lupakan soal keadilan waktu yang kamu berikan! Kamu pilih aku atau dia? Pikirkan itu baik-baik. Hidup itu pilihan, dan kamu harus memilih."
"Aku nggak mungkin milih salah satu di antara kalian. Kalian sama-sama orang yang aku cinta, kalian keluargaku. Kalian bukan pilihan, Clara. Kamu Karang, Senja adalah orang-orang yang berarti di hidup aku. Aku nggak akan pernah bisa hidup tanpa salah satu di antara kalian."
Merasa pembicaraan yang dilakukan ayahnya dan juga ibu tirinya semakin panas, setiap mencoba untuk menyela.
"Maaf, Tante jika saya kurang sopan ikut bicara. Biar bagaimanapun kita ini adalah keluarga, mau menerima atau tidak, mau rela atau tidak. Apapun yang akan kita lakukan dalam bentuk ketidakterimaan, tidak akan pernah mengubah apapun. Tante dan anak tante selamanya akan butuh Ayah, saya pun begitu, saya juga butuh Ayah untuk arahan hidup saya, untuk wali nikah saya. Kalau saya dipisahkan dengan Ayah, bagaimana dengan masa depan saya. Begitu pula dengan Tante, bagaimana bisa meneruskan hidup tanpa sosok laki-laki yang sudah puluhan tahun bersama dan berbagi apapun dengan Tante? Bukankah janji pernikahan bukan permainan? Ini perkara keikhlasan, maaf bukan maksud saya menggarui. Tapi alangkah baiknya jika kita berdamai dengan masa lalu untuk masa depan kita juga. Jika Tante khawatir dengan kasih sayang dan waktu yang terbagi, Tante tenang aja. Saya nggak minta waktu banyak, keseharian saya juga bekerja, saya hanya akan minta waktu suami Tante di jam makan yang seperti ini. Itupun tidak setiap hari. Saya belasan tahun tumbuh tanpa Ayah, jadi saya harap saya masih bisa bersama dengan Ayah di sisa waktu saya." Mulut Senja sedikit bergetar saat mengucapkan kalimat terakhir.
__ADS_1