Senja Dan Derita

Senja Dan Derita
40. Berulah


__ADS_3

Satu tahun kemudian.


Semua bejalan dengan keinginan Leo. Sejauh ini apapun yang diinginkan pria itu tak ada yang bisa dan tidak akan pernah bisa yang ada membantah. Seakan Tuhan saja juga merestui apapun yang Leo inginkan. Apapun ia dapatkan meski harus tertatih dahulu.


Seperti sekarang ini, keinginan satu-satunya yang belum ada di hadapannya adalah seorang keturunan. Namun, kini ia sudah bisa tidur dengan nyenyak karena tiga bulan lagi anaknya akan segera hadir dan menghiasi harinya dan Rida.


Bagaimana dengan senja? Jangan tanyakan ia yang sekarang. Senja kini bak disulap oleh Leo menjadi wanita yang seperti dirinya. Dingin, penuh ketegasan dan lebih berani dari sebelumnya. Namun bedanya, Senja masih ada sisi kebaikan yang menyelimuti dirinya. Ia masih Senja yang dulu jika di hadapkan dengan manusia-manusia baik lainnya.


"Leo, aku ingin bertemu dengan keluargaku. Sudah satu tahun aku nggak ketemu mereka. Aku sudah menuruti apa katamu. Aku nggak pernah minta apa-apa. Sekarang waktunya kau turuti apa mauku." Senja berucap seraya mengunyah sarapannya.


"Tidak untuk yang satu itu. Akan aku turuti semuanya, asal tidak yang itu," bantah Leo dengan cepat dan tegas.


"Kau mau anak ini lahir dan menjadi milikmu, kan? Kau menuruti kata ibunya saja susah. Bagaimana kau menuruti apa kata mereka nantinya?"


"Senja itu dua hal yang berbeda, kau tidak bisa menyamaratakan dua hal itu. Anak yang kau kandung segalanya bagi kami, tapi tidak dengan kau." Rida menyahut dengan sarkas.


Wanita yang sah menjadi istri Leo itu Nampak tak pernah akur dengan Senja. Menurutnya, keberanian yang dimiliki Senja sudah di luar batas. Gadis itu sudah semena-mena padanya. Bahkan,  Senja susah terang-terangan seringkali membuat Rida cemburu dengan sikap Leo padanya begitupun sebaliknya.


Rida merasa bahwa Senja sedang berusaha merebut suaminya. Selalu membawa kehamilannya dan ancaman-ancaman recehnya.


"Aku sedang bicara dengan Ayah dari anakku. Aku tidak minta kau berpendapat. Jadi diamlah!"


Leo mulai pusing. Setiap hari dua wanita yang berada satu atap dengannya itu selalu saja adu mulut dan bersitegang. Tak pernah mereka terlihat akur barang sehari saja.


"Kalian nggak bosen apa tiap hari ribut? Jangan suka mendebatkan sesuatu yang nggak penting."


"Ini penting. Bagaimana bisa kau anggap keluargaku nggak penting. Jangak lupa kau bisa men..."


"Iya aku bisa mendapatkan apa yang aku mau karena kau, atas izin dari keluargamu. Iya aku paham, jangan kau ingatkan aku terus. Kenapa kau selalu saja merasa bahwa kau ini satu-satunya pahlawan dalam hidupku," potong Leo cepat.

__ADS_1


"Aku memang satu-satunya pahlawanmu. Memang siapa lagi manusia yang suka rela mengorbankan masa depannya demi manusia bejat sepertimu."


"Suka rela? Aku memberi ibumu uang, dan kau bilang suka rela?"


"Bukan Ibu yang minta uangmu. Kau sendiri yang beri dia uang tanpa dia minta. Terus sekarang kau bahas, kau ungkit. Bayi dan masa depanku nggak bisa kau beli dengan uang jika kau tahu." Senja bangkit dari duduknya dan berjalan ke kamar tanpa menghabiskan makanan yang tersisa di piring.


Leo menarik nafas dalam dan mengeluarkannya dengan perlahan. Memejamkan mata demi menahan dan meredakan emosi yang ada. Senja berubah menjadi buas setelah hamil.


Leo berdiri dan hendak menyusul Senja, namun tangannya di cekal istrinya.


"Udah biarin aja, masih muda, ya begitu," ujarnya.


"Iya, tapi dia lagi hamil. Nggak baik buat anak kita, kan? Aku kejar dia sebentar."


Leo dengan pelan melepas tangan Rida dan berjalan meninggalkannya seorang diri di meja makan tanpa peduli dengan ekspresi wajahnya yang merah padam.


Rida semakin ke sini semakin kesal karena merasa Leo sudah mengingkari janjinya. Ia semakin hari semakin condong peduli dengan gadis itu. Hal itu menciptakan kecemburuan dan sakit hati di diri Rida.


"Nggak mau!" teriak Senja dari dalam.


"Ngomong dulu, sini. Jangan begitu, nanti ada apa-apa dengan anakku bagaimana? Jangan suka marah-marah nggak baik."


"Kau yang buat aku marah. Lagipula sejak kapan kau peduli dengan hal baik dan buruk."


"Senja, udah buka pintunya. Jangan teriak-tariak nanti anakku keluar. Buruan buka atau pintunya aku dobrak."


"Aku nggak peduli."


Jika saja Leo tak ingat Senja hamil anaknya, maka ia enggan untuk mengalah dan mengemis seperti ini. Harga diri Leo sudah di babat habis oleh gadis itu.

__ADS_1


"Ya udah, oke. Kita ke rumah keluargamu. Tapi, nggak sekarang, ya. Nanti pas weekend. Aku janji kita ke sana. Keluar kau sekarang, habiskan makananmu, aku nggak mau anakku kelaparan."


Beberapa detik kemudian, pintu terbuka dari dalam. Tatapan Senja langsung pada arah meja makan. Jujur saja, mengandung dua anak sekaligus rupanya membuat Senja mudah lapar dan harus makan banyak. Ia melihat Rida yang memutar badannya demi melihat dirinya dan juga Leo.


"Makasih udah mau bawa aku ke rumah," ujar Senja yang tiba-tiba saja merebahkan dirinya di tubuh Leo. Ia jijik sebenarnya, namun ia lalukan ini demi membuat Rida panas dan terbakar. Ia suka melihat amarah Rida yang seringkali memuncak karena ulahnya.


Ded deg deg


Senja mendengar detak jantung Leo yang berpacu dengan cepat. Sejurus kemudian, tangan Leo tiba-tiba merangkul pundak Senja dan mengajaknya kembali ke meja makan.


Jangan ditanya wajah Rida sekarang. Kekesalan yang tak dapat lagi di sembunyikan membuatnya ingin sekali beranjak. Namun, cegahan dari Leo membuat Rida terpaksa harus bertahan di meja makan yang menyakitkan.


"Leo aku mau, ayam goreng, tolong!" Senja menyodorkan piringnya. Tatapannya ia arahkan pada Rida. Membenarkan sedikit letak rambutnya dan mengibaskannya pelan. Seakan memberikan isyarat bahwa ia sudah menang pagi ini.


"Sudah berapa kali aku katakan, panggil aku Mas."


"Aku bukan istrimu. Untuk apa aku memanggilmu begitu?"


"Hargai aku sebagai lelaki yang lebih tua darimu. Itu saja, apa susahnya? Mas bukan hanya panggilan istri untuk suaminya. Tapi orang yang lebih tua juga."


"Lain kali aku akan memanggilmu begitu. Jangan ajak aku berdebat sekarang, aku harus makan, kan?" Senja melanjutkan makan yang entah berapa lama tertunda.


Gadis itu kembali menikmati makanan yang berada di depannya. Mengunyah dengan penuh bahagia dan ledekan untuk Rida.


Seakan tak puas dengan apa yang ia lakukan. Senja kembali berulah. Pura-pura tersedak adalah jalan pintas yang ia gunakan.


Uhuk uhuk


Yang benar saja, dengan sigap Leo berdiri dan menyodorkan segelas air putih. Tindakan sesederhana itu mampu membuat Rida belingsatan di tempat.

__ADS_1


"Pelan-pelan makannya. Nggak akan ada yang minta."


__ADS_2