
Dengan segala sisa malu yang ada, Leo bangkit dan tak lupa membantu Senja untuk bangkit juga. Nampaknya kaki wanita itu kembali ngilu. Leo mendudukkan Senja di sofa ruang tamu. Lalu kaki wanita itu ia naikkan ke pangkuannya, sungguh perlakuan Leo membuat iri setiap wanita yang melihat.
"Alan tolong ambilkan minyak urut atau apapun untuk kaki Mama."
Bak seorang asisten yang di perintah oleh atasannya, Alan hanya mengangguk lalu barlari ke ruang tengah di mana kotak obat tersimpan. Beberapa detik kemudian ia berlari membawa kotak obat yang di minta Leo.
"Kaki Mama sakit lagi, Om?" tanya Alan
"Iya, kan nggak sengaja ketindih badan Om tadi."
"Tapi Mama nggak kesakitan kok tadi," sahut Alana.
"Iya sakiitnya baru terasa sekarang. Tuh sedikit merah, kan kakinya."
Leo menjawab celotehan kedua anaknya dengan tangan yang terus bergerak mengolesi minyak ke seluruh pergelangan kaki Senja.
"Maaf, aku nggak sengaja. Tadi mau bantu kamu biar nggak tersungkur, malah aku juga ikut tersungkur. Sakit banget?" Leo merasa bersalah.
"Nggak, nggak apa-apa, kok."
Merasa di cuekin oleh kedua manusia dewasa di depannya, si kembar yang sudah terlanjur rapi melipir pergi ke ruang tengah dan terpaksa menonton acara TV di sana.
"Maaf untuk yang tadi aku hampir." Leo sengaja menggantung ucapannya, ia yakin Senja mengerti tanpa harus ia jelaskan.
"Iya. Lupakan saja!" jawab Senja gugup.
"Aku marah tadi karena aku khawatir sama kamu. Senja, aku nggak tahu sejak kapan rasa ini hadir, aku nggak tahu pasti bagaimana rasa ini tumbuh begitu saja dengan subur. Aku jatuh cinta sama kamu Senja. Aku mau kita bersama buat anak-anak, buat cinta aku juga. Aku cinta sama kamu Senja." Leo yang masih berada di lantai menggenggam erat tangan wanita itu. Memberanikan diri menyatakan perasaan yang lama ia rasakan namun, tak berani ia ungkapkan.
__ADS_1
Senja nampak tertegun, lidahnya terasa sulit untuk ia gerakkan. Ungkapan yang tiba-tiba tanpa adanya tanda-tanda membuat Senja sedikit syok dan bingung hendak jawab apa.
"Nggak harus jawab sekarang. Aku tahu ini terlalu tiba-tiba buat kamu, tapi perasaan aku datangnya nggak tiba-tiba Senja. Perasaan itu datangnya penuh dengan proses yang panjang. Kali ini aku sayang sama kamu tulus, bukan karena ada sesuatu yang aku inginkan. Kamu istirahat sekarang! Aku main sama anak-anak, ya. Aku mau bawa mereka jalan-jalan. Janji nggak akan sampai malam."
Leo bangkit dan berjalan menuju ruang tengah. Di mana kedua anaknya sedang asyik melihat kartun kesayangannya. Tanpa terencana, apapun yang terjadi barusan tanpa ada rencana dari Leo. Semua meluncur begitu saja.
Sebenarnya Leo berniat akan mengungkapkan perasaannya dengan cara yang luar biasa, penuh kejutan dan keromantisan. Tapi melihat Senja yang kesal dengan kekhawatirannya membuka Leo merasa harus memperjelas hubungannya.
Leo tak ada pikiran sama sekali, tak ada penafsiran entah di terima atau tidak cintanya itu. Hanya saja ia masih berharap besar bahwa perasannya itu terbalaskan karena ia juga ingin bersama dengan Senja dan kedua buah hatinya.
***
Membiarkan semua mengalir bak air, hari ini sudah hari ke tujuh setelah penyataan cinta itu, Senja belum juga ingin menyampaikan jawaban. Leo pun berusaha untuk tak terus menanyakan perihal perasaannya, ia akan bersabar dengan tanpa membebankan Senja. Dan menurutnya adalah dengan cara memberikan Senja ruang untuk memikirkan semua itu dengan bebas tanpa tekanan dan tanpa desakan. Biarkan saja semau Senja bagaimana, begitu kira-kira pikir Leo.
Meskipun hubungannya digantung oleh Senja, hal itu tak membuat mereka berjauhan. Mereka tetap dekat seperti biasa, masih tetap berinteraksi seakan tak terjadi apa-apa di antara mereka.
seperti malam minggu ini, mereka pulang dari menghabiskan malam hingga pukul sepuluh malam. Menghabiskan waktu bersama dengan anak-anak mereka.
Satu pemuda itu dipukuli oleh dua orang yang entah teman atau musuh atau entah siapa mereka.
"Leo berhenti, itu ada yang berantem. Pisahin."
"Biarin aja, namanya juga anak muda biasa begitu, nanti juga kelar sendiri."
Semakin lama jarak mereka semakin dekat. Mau tak mau Senja dengan mudah dan jelas melihat wajah tiga pemuda itu.
Mata dan mulutnya terbuka lebar ketika mengetahui salah satu wajah antara tiga pemuda itu. Ia begitu terkejut ketika melihat korban pemukulan dua pemuda brandal itu.
__ADS_1
"Leo stop Leo itu Karang. Tolong dia!" pekik Senja tertahan.
"Karang adik kamu? Ya udah aku keluar, kamu tetap di dalam, jangan keluar jagain anak-anak."
Leo yang sudah mendapat cerita dari Senja akan selalu mendukung apapun yang akan wanita itu lakukan.
Dengan bergegas Leo turun dari mobil dan berlari ke arah mereka. Entah apa salah Karang hingga dua pemuda itu dengan bringas memukulinya. Jelas dan wajar Karang kalah dalam hal ini, ia dari segi jumlah dan postur tubuh saja sudah kalah.
Tubuh ke dua pria yang memukuli dirinya itu jauh lebih berisi dari pada Karang yang cenderung tinggi namun kurus.
Tak membutuhkan waktu lama bagi Leo untuk membawa Karang pergi dari sana. Dengan susah payah Leo membawa pemuda itu untuk duduk di mobil. Nampak wajah Karang yang sudah babak belur di mana-mana. Banyak darah yang keluar dan memar di berbagai tempat.
"Leo dudukan dia di sini, aku akan pindah ke belakang." Senja membuka pintu mobil penumpang bagian depan. Ada sedikit wajah terkejut yang tercetak di wajah Karang. Mungkin ia tak menyangka bisa bertemu lagi dengan Senja dalam keadaan yang begitu hina.
"Leo kita ke rumah sakit, itu wajahnya banyak luka. Aku takut kalau dia ada luka di dalam."
"Nggak usah!" jawab Karang dengan cepat namun lemah.
"Siapa yang sakit, Ma?" tanya Alan di tengah tidurnya.
"Nggak ada Sayang, kamu hanya salah dengar. Udah tidur lagi, maaf bicaranya Mama terlalu keras."
"Kita bawa ke rumah aja gimana? Kita obati di rumah. Biar bisa istirahat dengan cepat juga, sebentar lagi kita sampai rumah," putus Leo.
"Nggak apa-apa, makasih udah nolong saya. Saya turun di sini aja nggak apa-apa. Udah aman juga."
"Iya, tapi luka kamu sudah harus segera diobati, nanti takutnya malah makin parah. Jangan banyak bicara kalau nggak mau kita bawa ke rumah sakit!" ancam Senja.
__ADS_1
"Kalian ini siapa? Kenal juga nggak, kok maksa."
Senja hendak menjawab, namun tangan Leo terangkat memberi isyarat agar tak berucap.